Pesantren Pendidikan Khas Nusantara yang Metode Pengajarannya Teruji

Selasa, 15 November 2022 - 06:03 WIB
loading...
Pesantren Pendidikan...
Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar memberikan mauidhoh hasanah dalam pengajian akbar Haul ke-59 Pondok Pesantren Al Huda, Doglo, Boyolali, Jateng. Foto/Ist
A A A
BOYOLALI - Katib ‘Aam PBNU KH. Sa’id Asrori Arori mengatakan bahwa lembaga pendidikan pesantren merupakan pendidikan khas Nusantara yang sudah teruji keberhasilan metode pengajarannya.

Menurut Kiai Sa'id, pendidikan pesantren mempunyai tiga syarat agar dapat disebut sebagai pesantren. Pertama, adanya kiai atau pengasuh yang mengajarkan ilmu. Kedua, adanya santri sebagai anak asuh yang menempuh pendidikan di pesantren dan ketiga, adanya ilmu atau kitab yang diajarkan.

Baca juga: KH Miftachul Akhyar Kembali Terpilih Jadi Rais Aam PBNU

“Maka kalau ada pesantren, bahkan membangun gedung yang megah tetapi tidak ada kiainya, atau tidak ada santrinya (yang mukim) dan apalagi tidak ada pembelajaran kitab maka sejatinya bukanlah pesantren,” terang Katib ‘Aam PBNU KH. Sa’id Asrori saat memberi sambutan di acara Haul ke-59 Pondok Pesantren Al Huda, Doglo, Boyolali, dikutip Selasa (15/11/2022).

Selain Katib 'Aam PBNU, Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar memberikan mauidhoh hasanah yang dikemas dalam acara pengajian akbar. KH. Miftachul Akhyar menyampaikan bahwa takdir manusia menjadi kholifatulloh fil ardi itu bukan sesuatu yang kebetulan.

Oleh karena itu, tugas manusia sebagai mahluk yang diberi mandat memimpin di bumi harus bisa menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan serta keadilan.

“Menjadi pemakmur bumi tentunya harus memiliki beberapa persyaratan di antaranya memiliki kecerdasan, baik itu kecerdasan spiritual maupun kecerdasan intelektual serta kemampuan berinovasi. Pesantren yang mempunyai karakter sebagai wadah pencetak generasi yang memiliki kemampuan spiritual dan intelektual serta kemampuan berinovasi agar adaptif dengan kebutuhan zaman,” terang Miftachul Akhyar.

Baca juga: Prajnaparamita, Sosok Perempuan Cantik Jawa Titisan Raja Singasari

Sementara, pengasuh Ponpes Al Huda KH Habib Ihsanuddin mengatakan, pondok pesantren adalah benteng terakhir Ahlusunnah Wal Jamaa’ah. Oleh karena itu pihaknya berusaha mempersiapkan kader-kader Ahlusunnah wal jamaah secara baik.

Kiai Habib Ihsanuddin menambahkan bahwa 59 tahun ini masa yang panjang. Sejak berdiri sampai sekarang, tentu sudah banyak perubahan.

“59 tahun yang lalu saya pulang dari pondok tidak ada apa-apa. Jangankan gedung, papan tulis dan tidak ada kapur saja tidak punya. Saya mengajar dengan kardus bekas sebagai papan tulis dan arang sebagai kapurnya. Alhamdulillah berkah pertolongan Allah, bimbingan Alm KH. Thoha Mu’id, guru saya, dukungan dari Istri saya dan anak-anak saya, khidmah para guru dan bantuan dari segenap, Al Huda bisa berkembang hingga seperti ini. Alhamdulillah,” kata dia mengenang awal-awal berdirinya Ponpes Al Huda.

Sebelum acara puncak pengajian akbar telah digelar acara berupa tahlil kubro untuk para guru dan tokoh-tokoh yang telah berjasa terhadap pondok, wisuda pembelajaran nahwu metode Ibtida’i dan metode Al Miftah. Selain itu pembagian 1.000 paket sembako kepada masyarakat, jalan sehat bersama Kapolres Boyolali AKBP Asep Mauludin dan Dandim Boyolali Letkol Arm Ronald F Siwabessy, Majelis Sholawat bersama Habib Ali bin Yahya Al Habsy, seni budaya Tari Rodad.

Hadir antara lain Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH. Ubaidillah Shodaqoh, Ketua Tanfidziyah PW NU Jawa Tengah KH. Muzammil, KH. Zubaduzzaman Pengasuh PP Al Ishlah Kediri, Bupati Boyolali H. Said Hidayat, Stafsus Menteri Agama H. Wibowo Prasetyo, Kakanwil Kemenag Jawa Tengah H. Musta’in Ahmad SH. MH, seluruh Ketua PC NU Se-Soloraya, Ketua GP Ansor Se-Soloraya, para tokoh agama lain dan beberapa pejabat dan tokoh lainnya.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Pesan Iduladha 2026...
Pesan Iduladha 2026 dari Ketum PBNU: Teguhkan Iman, Siap Berkorban demi Masa Depan Lebih Baik
HPSN 2026, P3M dan KLH...
HPSN 2026, P3M dan KLH Ajak Pesantren Atasi Darurat Sampah
Momentum Ramadan, Sinar...
Momentum Ramadan, Sinar Mas Wakafkan Al-Qur'an ke PBNU dan Majelis Alumni IPNU
Hilal di Titik Pemantaun...
Hilal di Titik Pemantaun Masjid KH Hasyim Asy’ari Tidak Terlihat
Hilal Diperkirakan Tak...
Hilal Diperkirakan Tak Terlihat, PBNU Prediksi Puasa Ramadan Mulai Kamis 19 Februari 2026
Rekomendasi
Tiga Lempeng Tektonik...
Tiga Lempeng Tektonik Aktif Pemicu Gempa Bumi di Indonesia
Robot Ini Ungkap Kisah...
Robot Ini Ungkap Kisah Bangkai Kapal Berusia 600 Tahun di Norwegia
Ironi Para Ilmuwan Hebat...
Ironi Para Ilmuwan Hebat yang Tak Pernah Memenangkan Nobel
Artikel Terkini
Mengapa Surat Al-Fatihah...
Mengapa Surat Al-Fatihah Disebut Induk Al-Qur'an? Ini Makna dan Keistimewaannya
Asal Usul Nama Surat...
Asal Usul Nama Surat Al-Baqarah: Kisah Sapi Betina yang Mengungkap Misteri Pembunuhan
Ayat-ayat Istimewa Surat...
Ayat-ayat Istimewa Surat Al Baqarah : Mengapa Ayat 255 Disebut Ayat Kursi?
Asbabun Nuzul 2 Ayat...
Asbabun Nuzul 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Kisah Turunnya Ayat yang Menenangkan Para Sahabat
Bacaan 2 Ayat Terakhir...
Bacaan 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah dan 3 Manfaatnya yang Dahsyat
Rahasia 2 Ayat Terakhir...
Rahasia 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Dibaca Malam Hari, Pahalanya Luar Biasa
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved