alexametrics

Kisah Sufi

Kisah Bijak Para Sufi: Maruf Si Tukang Sepatu dengan Istri yang Jahat

loading...
Kisah Bijak Para Sufi: Maruf Si Tukang Sepatu dengan Istri yang Jahat
Ilustrasi film Aladdin. Foto/Daniel Smith/Walt Disney Pictures
PADA zaman dahulu, di Kota Kairo, ada seorang tukang sepatu bernama Maruf dan istrinya Fatima. Fatima, wanita tua yang hatinya busuk itu, memperlakukan suaminya begitu buruk, membalas setiap perbuatan baik dengan perbuatan jahat sehingga Maruf pun mulai menganggap istrinya itu merupakan perwujudan sifat suka menentang, yang sulit dipahami di dunia. (Baca juga: Tiga Cincin Permata Pembuka Pintu Harta Karun)

Oleh karena tekanan rasa ketidakadilan yang nyata, dan terdesak keputusasaan yang amat sangat, Maruf pun melarikan diri ke sebuah reruntuhan biara di dekat kota itu; di sana ia bersimpuh dalam doa dan permohonan, berseru tak putus-putusnya: "Tuhan, hamba mohon pada-Mu agar mengirimkan bagi hamba suatu alat pembebasan supaya hamba-Mu ini bisa mengadakan perjalanan yang jauh dari tempat ini untuk menemukan keselamatan dan harapan."

Hal ini dilakukannya terus selama beberapa jam; tiba-tiba suatu peristiwa ajaib terjadi. Suatu makhluk tinggi besar dan ujudnya aneh tampak berjalan menembus keluar lewat tembok di depannya, setelah Maruf menggunakan latihan yang berasal dari kekuatan Abdal, 'Yang Berubah', yang adalah manusia tetapi telah mendapatkan kekuatan jauh melebihi orang-orang biasa.

"Aku Abdi Makan, abdi tempat ini," kata ujud itu. "Apa gerangan maumu?"



Maruf pun menceritakan semua persoalannya. Yang Berubah pun membawa Maruf di punggungnya, dan mereka terbang melesat dalam kecepatan tak terbandingkan, melintasi angin selama beberapa jam. Keduanya sampai ketika hari siang ke sebuah kota yang jauh di perbatasan Cina, suatu tempat yang kaya dan indah.

Seorang penduduk kota itu mencegatnya di jalan, dan bertanya siapa gerangan dirinya. Ketika Maruf memberitahu, dan mencoba menjelaskan cara kedatangannya, sekumpulan orang udik pencemooh berkumpul; sambil melempar tongkat dan batu, mereka menuduhnya gila atau seorang penipu yang pantas dihajar.



Kerumunan orang tersebut masih mengeroyok tukang sepatu yang malang itu ketika seorang pedagang berkuda muncul dan membubarkan mereka, katanya, "Memalukan! Seorang asing adalah tamu, sudah kewajiban kita menunjukkan keramahtamahan dan perlindungan." Nama saudagar itu Ali.

Ali pun menceritakan kepada teman barunya bagaimana ia telah maju dari orang melarat menjadi orang kaya di Kota Ikhtiyar yang asing itu. Para pedagang di sana, tampaknya, jika dibandingkan dengan penduduk lainnya, cenderung lebih mudah mempercayai perkataan seseorang. Bila orang itu mengaku miskin, mereka tak akan memberinya banyak kesempatan dalam hidup, sebab mereka menganggap orang itu miskin karena memang sudah takdirnya demikian. Kalau, sebaliknya, seseorang itu dikatakan kaya, mereka akan memberinya perhatian, pujian, dan hormat.

Ali telah mengetahui kenyataan tersebut. Oleh karenanya, ia pun menemui beberapa saudagar kaya di kota itu dan meminta pinjaman, beralasan bahwa sebuah kafilah miliknya belum lagi tiba. Pinjaman uang diberikan, dan Ali pun melipatgandakannya dengan berdagang di pasar-pasar besar; dengan cara itu, ia mampu mengembalikan modal pinjaman tadi dan benar-benar memperkaya dirinya.
halaman ke-1 dari 5
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِيۡنَ يَفۡرَحُوۡنَ بِمَاۤ اَتَوْا وَّيُحِبُّوۡنَ اَنۡ يُّحۡمَدُوۡا بِمَا لَمۡ يَفۡعَلُوۡا فَلَا تَحۡسَبَنَّهُمۡ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الۡعَذَابِ‌ۚ وَلَهُمۡ عَذَابٌ اَ لِيۡمٌ
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih.

(QS. Ali 'Imran:188)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak