Warith Deen Mohammed, Imam Amerika yang Ubah Nation of Islam Jadi Islam Sunni

Rabu, 23 November 2022 - 05:15 WIB
loading...
A A A
Ayah saya tidak pernah menentukan bahwa seseorang harus menjadi pemimpin setelahnya. Tetapi dia memang memberikan dukungan bagi orang-orang tertentu. Dia membantu membuat orang-orang itu terkenal di kalangan para pengikutnya, dan orang yang diberinya pernyataan mendukung yang paling meyakinkan

Mungkin saya telah mendefinisikan kembali peranannya. Saya memandang dia sebagai pembaru sosial tetapi tidak berarti bahwa dia bukan orang yang saleh. Dia adalah orang yang mempelajari Injil.

Ayahnya, yaitu kakek saya, adalah seorang pendeta di gerejanya di daerah Selatan. Dia memiliki latar belakang agama yang kuat walaupun dia adalah seorang pemberontak.

Kakek saya menyatakan bahwa dia selalu bertanya dan berbeda pendapat dengannya. Dia bukan orang yang rajin ke gereja, tetapi untuk beberapa alasan dia percaya pada Tuhan dan juga pada Injil. Dia memiliki pendapat sendiri.

Baca juga: Kisah Maryum Putri Muhammad Ali Berdakwah Lewat Musik Rap dan Komedi

Sebagian orang Muslim berkata bahwa gerakan ini tidak dapat dipisahkan dari Yang Terhormat Elijah Muhammad. Apakah Anda berada di bawah bayang-bayang ayah Anda?

Dalam satu sisi, ya. Ini merupakan kehormatan turun temurun atas ketulusan dan kesungguhan hati dari Yang Mulia Elijah Muhammad. Saya benar-benar percaya bahwa dia adalah seorang yang tulus dan ikhlas.

Dia adalah orang yang bodoh dan salah informasi. Kalau saya mengatakan 'bodoh,' saya tidak maksudkannya dalam konotasi negatif. Saya mengatakan bahwa dia tidak mengetahui agama-agama dunia atau apa pun.

Dia berasal dari Selatan tanpa pendidikan yang memadai, dan dia tidak mengetahui apa-apa yang dipercaya atau yang tidak dipercaya dalam dunia Islam.

Guru mistiknya, W.F. Muhammad atau Farad, mengajarkan agama ini pada Yang Mulia Elijah Muhammad. Ketika seseorang datang dan mengajarkan agama ini kepada mereka, mereka tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang salah dari agama tersebut. Mereka hanya menelan mentah-mentah apa yang diberikan kepada mereka.

Baca juga: Kisah Prof Ali S Asani: Bukan Sekadar Jihad di Harvard

George Lincoln Rockwell menyebut ayah Anda sebagai "Adolf Hitler kulit hitam". Bagaimana reaksi Anda?

Karena adanya kesadaran ras yang kuat dan pendapat bahwa orang kulit hitam itu lebih utama dan merupakan dewa, dan bahwa bahkan Tuhan pun berkulit hitam,, saya dapat memahami kalau dia berkata seperti itu. Tetapi sifat moral Yang Mulia Elijah Muhammad tidak pantas mendapatkan ungkapan seburuk itu dari Rockwell. Tidak, dia tidak seperti itu.

Dia meminta pengikutnya untuk tidak melakukan tindak kekerasan, bahkan terhadap orang kulit putih, kendati dia mengatakan bahwa orang kulit putih itu iblis.

Dia meminta mereka agar memberi jam kerja yang layak pada orang kulit putih jika mereka dipekerjakan --jangan merendahkan orang kulit putih. Dia tidak ingin menghancurkan siapa pun.

Dia percaya bahwa Tuhan yang akan menghancurkan siapa yang dikehendaki-Nya. Anda tahu, saya sering mendengar banyak penceramah Kristen yang mengkhutbahkan tentang ajal dan malapetaka. Bahasa mereka terdengar sekeras bahasa Yang Mulia Elijah Muhammad.

Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
(mhy)
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2005 seconds (11.210#12.26)