Kisah Hikmah : Belajar Sabar dari Siti Hajar!
Minggu, 27 November 2022 - 11:02 WIB
loading...
A
A
A
Siti Hajar tampaknya yakin betul dengan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam diam, tanpa melihat lagi suaminya, ia pun menengadahkan wajahnya ke langit dan berdoa.
Sementara itu, dari kejauhan Nabi Ibrahim pun melakukan hal yang sama, menatap langit dengan mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘’Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’’ (QS Ibrahim: 37).
Menurut Muhammad Ali Sabouni dalam bukunya 'an Nubuwah wal Ambiya', sepeninggal Nabi Ibrahim, Siti Hajar hanya bisa pasrah. Ia merasa terhibur manakala melihat wajah bayinya yang manis dan memancarkan kasih sayang.
Pada awalnya ia tidak merasakan kesepian. Ia tidak menyadari kerasnya kehidupan di tengah lembah sunyi dan bukit bebatuan, hingga akhirnya ia kehabisan perbekalan hidup. Apalagi si kecil pun mulai kehausan dan kelaparan.Si ibu mulai panik. Air susunya pun sudah kering. Sedangkan si bayi terus menangis kelaparan dan kehausan.
Siti Hajar tampak bingung bagaimana mencari air. Dalam kebingungannya ia lari ke atas bukit dan melihat ke bawah. Ia melihat sebuah bukit lain, yang kemudian dikenal dengan Shafa, tampak dekat. Ia pun menuju bukit itu, barangkali melihat seseorang atau menemukan makanan dan minuman. Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa.
Dari bukit Shafa, ia melihat bukit lain tampak dekat. Bukit itu kemudian dikenal Marwa. Ia pun berjalan menuju ke sana dan tidak mendapatkan bekas-bekas kehidupan. Ia berusaha bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Berusaha dalam bahasa Arab disebut sa’a. Dari kata inilah istilah sa’i diambil.
Setelah tujuh kali bolak-balik Shafa-Marwa, Siti Hajar pun kelelahan dan putus asa. Ia akhirnya ambruk di samping bayinya.Hatinya tercabik-cabik menunggu nasib. Ia berserah diri secara total. Beberapa waktu kemudian ia bangun. Ia kumpulkan sisa tenaganya untuk melihat bayinya yang mungkin sudah meninggal dunia. Namun, tidak. ‘’Aku tidak melihat isyarat kematian anakku,’’ katanya lirih.
Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus Malaikat Jibril, dan dengan kedua sayapnya menyentuh tanah, sehingga muncul mata air yang mengalirkan kehidupan. Siti Hajar pun bangkit dengan sepenuh tenaga dan lupa apa yang baru ia alami. Ia segera mengambil air itu dan meminumkannya kepada bayinya, Ismail.
Kepada mata air itu, ia mengatakan, ‘’Zumi, zumi!’’ Air dan mata air itu kemudian dikenal sebagai Zam Zam, yang memberi kehidupan di tengah padang pasir tandus dan bukit bebatuan. Makkah yang berkemajuan kini pun sebenarnya berawal dari kisah perempuan ini.
Tidak lama kemudian, datang kafilah dagang dalam perjalanan menuju Syam (Suriah). Mereka melihat seekor burung terbang di atas lembah itu. Seorang di antara mereka berkata, burung itu menandakan ada air di bawahnya. Lalu mereka mengutus seseorang untuk menyelidiki kemungkinan ada mata air. Orang itu pun kembali dengan kabar gembira.
Sementara itu, dari kejauhan Nabi Ibrahim pun melakukan hal yang sama, menatap langit dengan mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘’Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’’ (QS Ibrahim: 37).
Menurut Muhammad Ali Sabouni dalam bukunya 'an Nubuwah wal Ambiya', sepeninggal Nabi Ibrahim, Siti Hajar hanya bisa pasrah. Ia merasa terhibur manakala melihat wajah bayinya yang manis dan memancarkan kasih sayang.
Pada awalnya ia tidak merasakan kesepian. Ia tidak menyadari kerasnya kehidupan di tengah lembah sunyi dan bukit bebatuan, hingga akhirnya ia kehabisan perbekalan hidup. Apalagi si kecil pun mulai kehausan dan kelaparan.Si ibu mulai panik. Air susunya pun sudah kering. Sedangkan si bayi terus menangis kelaparan dan kehausan.
Siti Hajar tampak bingung bagaimana mencari air. Dalam kebingungannya ia lari ke atas bukit dan melihat ke bawah. Ia melihat sebuah bukit lain, yang kemudian dikenal dengan Shafa, tampak dekat. Ia pun menuju bukit itu, barangkali melihat seseorang atau menemukan makanan dan minuman. Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa.
Dari bukit Shafa, ia melihat bukit lain tampak dekat. Bukit itu kemudian dikenal Marwa. Ia pun berjalan menuju ke sana dan tidak mendapatkan bekas-bekas kehidupan. Ia berusaha bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Berusaha dalam bahasa Arab disebut sa’a. Dari kata inilah istilah sa’i diambil.
Setelah tujuh kali bolak-balik Shafa-Marwa, Siti Hajar pun kelelahan dan putus asa. Ia akhirnya ambruk di samping bayinya.Hatinya tercabik-cabik menunggu nasib. Ia berserah diri secara total. Beberapa waktu kemudian ia bangun. Ia kumpulkan sisa tenaganya untuk melihat bayinya yang mungkin sudah meninggal dunia. Namun, tidak. ‘’Aku tidak melihat isyarat kematian anakku,’’ katanya lirih.
Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus Malaikat Jibril, dan dengan kedua sayapnya menyentuh tanah, sehingga muncul mata air yang mengalirkan kehidupan. Siti Hajar pun bangkit dengan sepenuh tenaga dan lupa apa yang baru ia alami. Ia segera mengambil air itu dan meminumkannya kepada bayinya, Ismail.
Kepada mata air itu, ia mengatakan, ‘’Zumi, zumi!’’ Air dan mata air itu kemudian dikenal sebagai Zam Zam, yang memberi kehidupan di tengah padang pasir tandus dan bukit bebatuan. Makkah yang berkemajuan kini pun sebenarnya berawal dari kisah perempuan ini.
Tidak lama kemudian, datang kafilah dagang dalam perjalanan menuju Syam (Suriah). Mereka melihat seekor burung terbang di atas lembah itu. Seorang di antara mereka berkata, burung itu menandakan ada air di bawahnya. Lalu mereka mengutus seseorang untuk menyelidiki kemungkinan ada mata air. Orang itu pun kembali dengan kabar gembira.
Lihat Juga :