Perang Sesama Umat Islam di Era Khalifah, Begini Penjelasan Muhammad Imarah
Senin, 28 November 2022 - 10:56 WIB
loading...
A
A
A
"Demi Allah, sesungguhnya kita memerangi penduduk Syam bukan karena sebab yang diduga oleh mereka itu (kaum Khawarij) yang mengkafirkan mereka dan menganggap mereka telah keluar dari agama Islam. Kita memerangi mereka hanyalah untuk mengembalikan mereka kepada jama'ah (artinya: jama'ah politik) dan mereka tetap saudara kita dalam agama, dan kiblat kita tetap satu.
Sementara itu, yang terjadi, menurut pendapat kita, adalah: kita berada dalam kebenaran, sementara mereka berbuat kesalahan!." [Al Baqillani, At Tamhid fir Raddi alal Mulhidah wal Mu'aththilah, war Rafidhah, wal Khawarij, wal Mu'tazilah, hal. 237-238, tahqiq: Mahmud Muhammad al Khudhairi, Dr. Muhammad Abdul Hadi Abu Raidah, cet. Kairo, tahun 1947 M.].
Lebih lanjut, Ali ra menekankan bahwa sumber-sumber perselisihan itu adalah "kerancuan-kerancuan pendapat" yang dihasilkan oleh takwil" saja. Hal itu tidak mengeluarkan mereka dari persaudaraan Islam. Ali ra berkata:
"Kita telah memerangi saudara kita sesama Islam, karena adanya kesalahan pendapat, penyimpangan, kerancuan berpikir, dan ketidaktepatan melakukan takwil. Jika kita berusaha mencapai suatu solusi, yang dengannya Allah SWT menyatukan kembali ikatan persaudaraan kita dan menghilangkan apa yang menjadi masalah di antara kita, maka hal itu amat kita inginkan, dan akan kita ambil solusi itu, bukan yang lainnya." [Al Imam Ali, Nahjul Balaghah, hal. 147-148, cet. Dar Sya'b, Kairo]
Baca juga: Mari ke Surga..! Slogan Khawarij Saat Perang Melawan Pasukan Ali bin Abu Thalib
Saat ditanya pendapatnya tentang nasib orang-orang yang terbunuh dari dua kelompok itu nantinya di akhirat, Ali menjawab:
"Aku berharap semoga tidak ada orang yang terbunuh yang hatinya bersih, baik dari kita maupun dari mereka, kecuali Allah SWT masukkan dia ke dalam surga." [Al Baqillani, At Tamhid, hal. 237]
"Demikianlah, kesatuan agama dan negara dapat menaungi dan mentoleransi pluralitas, sekalipun pada saat unsur-unsur pluralitas itu terlibat dalam peperangan bersenjata di antara mereka," ujar Muhammad Imarah.
Baca juga: Langkah Khalifah Ali bin Abu Thalib Setelah Berhasil Menaklukkan Siti Aisyah
Sementara itu, yang terjadi, menurut pendapat kita, adalah: kita berada dalam kebenaran, sementara mereka berbuat kesalahan!." [Al Baqillani, At Tamhid fir Raddi alal Mulhidah wal Mu'aththilah, war Rafidhah, wal Khawarij, wal Mu'tazilah, hal. 237-238, tahqiq: Mahmud Muhammad al Khudhairi, Dr. Muhammad Abdul Hadi Abu Raidah, cet. Kairo, tahun 1947 M.].
Lebih lanjut, Ali ra menekankan bahwa sumber-sumber perselisihan itu adalah "kerancuan-kerancuan pendapat" yang dihasilkan oleh takwil" saja. Hal itu tidak mengeluarkan mereka dari persaudaraan Islam. Ali ra berkata:
"Kita telah memerangi saudara kita sesama Islam, karena adanya kesalahan pendapat, penyimpangan, kerancuan berpikir, dan ketidaktepatan melakukan takwil. Jika kita berusaha mencapai suatu solusi, yang dengannya Allah SWT menyatukan kembali ikatan persaudaraan kita dan menghilangkan apa yang menjadi masalah di antara kita, maka hal itu amat kita inginkan, dan akan kita ambil solusi itu, bukan yang lainnya." [Al Imam Ali, Nahjul Balaghah, hal. 147-148, cet. Dar Sya'b, Kairo]
Baca juga: Mari ke Surga..! Slogan Khawarij Saat Perang Melawan Pasukan Ali bin Abu Thalib
Saat ditanya pendapatnya tentang nasib orang-orang yang terbunuh dari dua kelompok itu nantinya di akhirat, Ali menjawab:
"Aku berharap semoga tidak ada orang yang terbunuh yang hatinya bersih, baik dari kita maupun dari mereka, kecuali Allah SWT masukkan dia ke dalam surga." [Al Baqillani, At Tamhid, hal. 237]
"Demikianlah, kesatuan agama dan negara dapat menaungi dan mentoleransi pluralitas, sekalipun pada saat unsur-unsur pluralitas itu terlibat dalam peperangan bersenjata di antara mereka," ujar Muhammad Imarah.
Baca juga: Langkah Khalifah Ali bin Abu Thalib Setelah Berhasil Menaklukkan Siti Aisyah
(mhy)
Lihat Juga :