Kisah Mualaf Amerika Suliaman El Hadi, Jihad Memberantas Kebodohan Lewat Syair
Kamis, 01 Desember 2022 - 17:48 WIB
loading...
A
A
A
Saya bergabung dengan The Last Poets pada 1970. Kelompok itu didirikan pada 1968, dimulai secara spontan pada suatu rapat umum bersama Al-Hajj Malik El-Shabazz di Mount Morris Park. Di antara mereka ada artis-artis yang biasa tampil di komunitas itu.
Pada babak penutup, beberapa penyair memutuskan untuk berpuisi bersama dan hadirin menyukainya. Mereka sepakat menyebut diri mereka The Last Poets --Penyair Yang Terakhir.
Diambil dari judul sebuah sajak yang ditulis oleh seorang penyair Afrika Selatan dalam pengasingan. Dia menulis sebuah sajak yang isinya antara lain mengatakan, "Inilah hari-hari terakhir bagi puisi dan prosa, bedil dan senapan akan menggantikannya... menjadi prosa masa depan."
Sebenarnya dia berbicara mengenai Afrika Selatan, tetapi hal itu juga sesuai dengan kita. Jadi kami adalah pujangga-pujangga terakhir abad ini.
Album pertama kami diberi judul yang gampang, yaitu The Last Poets. Album itu terdiri dari dua kaset. Album yang ketiga adalah Chastisement, dibuat pada 1971. Dan diedarkan pada 1972. Pada album ketiga inilah saya bergabung.
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
Konsep kami didasarkan pada konsep Islami. Sebagai contoh, sajak berikut:
Berkatilah orang yang berjuang
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan
Lebih baik mati untuk tujuan yang mulia
Daripada hidup dan mati sebagai budak
Sajak tersebut benar-benar Qurani. Dalam Al-Quran Allah mengatakan, Sesungguhnya fitnah lebih kejam dari pembunuhan, maka berjuanglah melawan fitnah di mana pun engkau menjumpainya. Itulah sebabnya dalam membicarakan perjuangan dan penindasan kami, kami juga mengutip firman Allah. Dengan demikian, semua pekerjaan kami dipengaruhi terutama oleh Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Ketika kami pentas di atas panggung, kami berpakaian seperti orang Muslim. Kami menyapa hadirin. Pertama kami mengatakan Assalamualaikum, salam sejahtera bagi Anda. Kami mengingatkan mereka tentang Allah.
Pertama kami akan bersyukur kepada Allah karena bisa tampil di sini, bersyukur pada Allah yang telah menciptakan kami, menciptakan Anda semua, sehingga Anda semua dapat berada di sini. Sebelum kami dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, kami harus mempersembahkannya kepada Allah terlebih dahulu.
Saya pikir lagu Niggers Is Scared of Revolution cukup terkenal. Kami mempunyai sebuah album yang berjudul Delights of the Garden. Seluruh sisi berisi tentang Hari Akhir, kehancuran bumi.
Jagalah ucapanmu supaya sesuai dengan tindakanmu
Penuhi kewajibanmu kepada Tuhan
Tak ada waktu
Untuk menunda-nunda
Perbuatanmu akan menentukan ganjaranmu
Baca juga: Kisah Maryum Putri Muhammad Ali Berdakwah Lewat Musik Rap dan Komedi
Nabi Muhammad selalu berkata, bicaralah kepada orang-orang dengan bahasa yang mereka mengerti. Menurut kami ini bahasa yang mereka mengerti. Maka saya menyeru masyarakat saya kepada agama Islam.
Pada babak penutup, beberapa penyair memutuskan untuk berpuisi bersama dan hadirin menyukainya. Mereka sepakat menyebut diri mereka The Last Poets --Penyair Yang Terakhir.
Diambil dari judul sebuah sajak yang ditulis oleh seorang penyair Afrika Selatan dalam pengasingan. Dia menulis sebuah sajak yang isinya antara lain mengatakan, "Inilah hari-hari terakhir bagi puisi dan prosa, bedil dan senapan akan menggantikannya... menjadi prosa masa depan."
Sebenarnya dia berbicara mengenai Afrika Selatan, tetapi hal itu juga sesuai dengan kita. Jadi kami adalah pujangga-pujangga terakhir abad ini.
Album pertama kami diberi judul yang gampang, yaitu The Last Poets. Album itu terdiri dari dua kaset. Album yang ketiga adalah Chastisement, dibuat pada 1971. Dan diedarkan pada 1972. Pada album ketiga inilah saya bergabung.
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
Konsep kami didasarkan pada konsep Islami. Sebagai contoh, sajak berikut:
Berkatilah orang yang berjuang
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan
Lebih baik mati untuk tujuan yang mulia
Daripada hidup dan mati sebagai budak
Sajak tersebut benar-benar Qurani. Dalam Al-Quran Allah mengatakan, Sesungguhnya fitnah lebih kejam dari pembunuhan, maka berjuanglah melawan fitnah di mana pun engkau menjumpainya. Itulah sebabnya dalam membicarakan perjuangan dan penindasan kami, kami juga mengutip firman Allah. Dengan demikian, semua pekerjaan kami dipengaruhi terutama oleh Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Ketika kami pentas di atas panggung, kami berpakaian seperti orang Muslim. Kami menyapa hadirin. Pertama kami mengatakan Assalamualaikum, salam sejahtera bagi Anda. Kami mengingatkan mereka tentang Allah.
Pertama kami akan bersyukur kepada Allah karena bisa tampil di sini, bersyukur pada Allah yang telah menciptakan kami, menciptakan Anda semua, sehingga Anda semua dapat berada di sini. Sebelum kami dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, kami harus mempersembahkannya kepada Allah terlebih dahulu.
Saya pikir lagu Niggers Is Scared of Revolution cukup terkenal. Kami mempunyai sebuah album yang berjudul Delights of the Garden. Seluruh sisi berisi tentang Hari Akhir, kehancuran bumi.
Jagalah ucapanmu supaya sesuai dengan tindakanmu
Penuhi kewajibanmu kepada Tuhan
Tak ada waktu
Untuk menunda-nunda
Perbuatanmu akan menentukan ganjaranmu
Baca juga: Kisah Maryum Putri Muhammad Ali Berdakwah Lewat Musik Rap dan Komedi
Nabi Muhammad selalu berkata, bicaralah kepada orang-orang dengan bahasa yang mereka mengerti. Menurut kami ini bahasa yang mereka mengerti. Maka saya menyeru masyarakat saya kepada agama Islam.
Lihat Juga :