Kisah Mualaf Amerika Raphael Narbaez Jr, Pendeta Saksi Yehova yang Memeluk Islam
Senin, 05 Desember 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Akhirnya saya berkata, 'Nona, Anda tidak pernah mengatakan sesuatu. Saya minta maaf jika yang saya ucapkan menyinggung perasaan Anda.'
Dia berkata, "Tidak apa-apa, saya seorang Muslim."
"Anda apa?"
"Saya seorang Muslim, dan wanita Muslimah tidak berbicara dengan lelaki kecuali kalau ada hal penting yang harus disampaikan."
"Ohhh. Muslim."
Dia berkata, "Ya, kami menjalankan ajaran agama Islam."
"Islam-bagaimana Anda mengejanya?"
"I-s-l-a-m."
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Saat itu, yang saya ketahui hanyalah bahwa semua orang Muslim adalah teroris. Tetapi dia tidak berjenggot. Bagaimana mungkin dia seorang Muslim?
"Bagaimana asal agama ini?"
"Dimulai dengan seorang nabi."
"Seorang nabi?"
"Muhammad."
Saya memulai menyelidiki. Saya belum ada niat untuk menjadi seorang Muslim.
Liburan berlalu. Stand-stand itu dipindahkan. Dia pun pergi.
Injil Gideon
Saya terus berdoa, dan bertanya mengapa doa-doa saya tidak dikabulkan. Pada November 1991, saya membawa paman saya Rockie pulang dari rumah sakit. Saya mengosongkan lacinya untuk mengepak barang-barangnya. Di sana saya temukan sebuah Injil Gideon. Saya berkata, Tuhan telah menjawab doa saya. Kitab Injil Gideon. (Tentu saja, mereka meletakkannya di setiap ruangan hotel.) Ini adalah pertanda dari Tuhan bahwa Dia siap mengajar saya.
Jadi saya curi Injil itu.
Saya pulang dan berdoa: Oh Tuhan, bimbing saya untuk menjadi seorang Kristen. Jangan ajarkan jalannya Saksi Yehova pada saya. Jangan ajarkan jalannya orang Katolik pada saya. Ajarkan saya jalan-Mu! Engkau tidak menciptakan Injil ini begitu sulit sehingga orang awam yang bersungguh-sungguh dalam doanya tidak dapat memahaminya.
Saya menamatkan Kitab Perjanjian Baru. Saya mulai membaca Perjanjian Lama. Akhirnya ada suatu bagian dalam Injil itu yang membicarakan tentang nabi-nabi.
Saya bilang, 'Sebentar, wanita Muslimah itu berkata dia mempunyai seorang nabi. Bagaimana mungkin dia tidak disebutkan di sini?'
Baca juga: Kisah Mualaf Asal Amerika Serikat Samir Gustavo Jerez Ungkap Terorisme Militer di Negerinya
Saya mulai berpikir, kaum Muslimin --jumlahnya satu miliar di dunia. Bung, secara teori satu dari setiap lima orang di jalanan mungkin seorang Muslim. Dan saya berpikir: Satu miliar orang! Hei, setan memang hebat. Tetapi dia tidak sehebat itu.
Kemudian saya berkata, saya akan membaca kitab mereka, Al-Quran, dan saya akan melihat rangkaian kebohongan macam apakah itu. Mungkin di situ termuat gambaran bagaimana cara membongkar AK-47. Lalu saya pergi ke toko buku bahasa Arab.
Mereka bertanya, "Apa yang dapat saya bantu?"
"Saya mencari sebuah Al-Quran."
"Baik, kami memiliki beberapa jenis."
Mereka mempunyai edisi yang bagus --harganya tiga puluh, empat puluh dolar.
"Saya hanya ingin membacanya, saya tidak ingin menjadi pengikutnya."
"Baik, kami mempunyai edisi bersampul tipis yang kecil, harganya lima dolar."
Saya pulang ke rumah, dan mulai membaca Al-Quran dari awal, dari surat Al-Fatihah. Dan saya tidak dapat melepaskan mata saya darinya.
Hei, lihat. Kitab ini membicarakan tentang Nuh. Dalam Injil juga ada Nuh. Hei, ini juga membicarakan Luth dan Ibrahim. Saya tidak dapat mempercayainya. Saya tidak pernah mengetahui bahwa nama Setan adalah Iblis.
Ketika Anda mendapat gambar di pesawat televisi dan tampaknya ada sedikit gangguan, lalu Anda memencet tombol [klop] --tersetel bagus. Itulah yang sebenarnya terjadi dengan Al-Quran.
Saya menyelesaikan seluruh isi Al-Quran. Lalu saya berkata, 'Baik, saya telah melakukan hal ini, sekarang apa yang selanjutnya harus saya lakukan?'
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Nah, saya harus pergi ke tempat pertemuan mereka. Saya melihat halaman kuning, dan akhirnya saya menemukan berita ini: Pusat Islam California Selatan, di Vermont. Saya menelpon dan mereka berkata, "Datanglah pada hari Jumat."
Sekarang saya benar-benar gelisah, sebab sekarang saya tahu bahwa saya akan berhadapan dengan Habib dan AK-47nya.
Saya ingin orang-orang mengetahui bagaimana rasanya bagi seorang Kristen Amerika memeluk agama Islam. Saya bergurau masalah AK-47, tetapi saya tidak tahu apakah mereka menyimpan pisau belati di balik jubah mereka. Jadi saya masuk, dan benar sekali, di sana ada seorang rekan yang tingginya enam koma tiga kaki, beratnya 240 pound, berjenggot dan lain-lain, dan saya hanya terpesona.
Saya berjalan dan berkata, "Permisi, tuan."
[Dengan aksen bahasa Arab:] "Balik ke belakang!"
Dia mengira saya telah menjadi anggota.
Saya berkata, "Ya tuan, ya tuan" [tanpa perlawanan].
Saya tidak tahu untuk apa saya kembali ke belakang, tetapi saya kembali ke belakang. Mereka telah mendirikan tenda dan menggelar permadani. Saya menunggu di sana, dengan malu-malu, dan orang-orang duduk mendengarkan ceramah. Dan orang-orang berkata, "Silakan saudara, duduklah." Saya menjawab, "Tidak, terimakasih, tidak, terimakasih, saya hanya berkunjung."
Akhirnya ceramah itu selesai. Mereka semua berbaris untuk melakukan sholat. Saya sungguh terperanjat.
Dia berkata, "Tidak apa-apa, saya seorang Muslim."
"Anda apa?"
"Saya seorang Muslim, dan wanita Muslimah tidak berbicara dengan lelaki kecuali kalau ada hal penting yang harus disampaikan."
"Ohhh. Muslim."
Dia berkata, "Ya, kami menjalankan ajaran agama Islam."
"Islam-bagaimana Anda mengejanya?"
"I-s-l-a-m."
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Saat itu, yang saya ketahui hanyalah bahwa semua orang Muslim adalah teroris. Tetapi dia tidak berjenggot. Bagaimana mungkin dia seorang Muslim?
"Bagaimana asal agama ini?"
"Dimulai dengan seorang nabi."
"Seorang nabi?"
"Muhammad."
Saya memulai menyelidiki. Saya belum ada niat untuk menjadi seorang Muslim.
Liburan berlalu. Stand-stand itu dipindahkan. Dia pun pergi.
Injil Gideon
Saya terus berdoa, dan bertanya mengapa doa-doa saya tidak dikabulkan. Pada November 1991, saya membawa paman saya Rockie pulang dari rumah sakit. Saya mengosongkan lacinya untuk mengepak barang-barangnya. Di sana saya temukan sebuah Injil Gideon. Saya berkata, Tuhan telah menjawab doa saya. Kitab Injil Gideon. (Tentu saja, mereka meletakkannya di setiap ruangan hotel.) Ini adalah pertanda dari Tuhan bahwa Dia siap mengajar saya.
Jadi saya curi Injil itu.
Saya pulang dan berdoa: Oh Tuhan, bimbing saya untuk menjadi seorang Kristen. Jangan ajarkan jalannya Saksi Yehova pada saya. Jangan ajarkan jalannya orang Katolik pada saya. Ajarkan saya jalan-Mu! Engkau tidak menciptakan Injil ini begitu sulit sehingga orang awam yang bersungguh-sungguh dalam doanya tidak dapat memahaminya.
Saya menamatkan Kitab Perjanjian Baru. Saya mulai membaca Perjanjian Lama. Akhirnya ada suatu bagian dalam Injil itu yang membicarakan tentang nabi-nabi.
Saya bilang, 'Sebentar, wanita Muslimah itu berkata dia mempunyai seorang nabi. Bagaimana mungkin dia tidak disebutkan di sini?'
Baca juga: Kisah Mualaf Asal Amerika Serikat Samir Gustavo Jerez Ungkap Terorisme Militer di Negerinya
Saya mulai berpikir, kaum Muslimin --jumlahnya satu miliar di dunia. Bung, secara teori satu dari setiap lima orang di jalanan mungkin seorang Muslim. Dan saya berpikir: Satu miliar orang! Hei, setan memang hebat. Tetapi dia tidak sehebat itu.
Kemudian saya berkata, saya akan membaca kitab mereka, Al-Quran, dan saya akan melihat rangkaian kebohongan macam apakah itu. Mungkin di situ termuat gambaran bagaimana cara membongkar AK-47. Lalu saya pergi ke toko buku bahasa Arab.
Mereka bertanya, "Apa yang dapat saya bantu?"
"Saya mencari sebuah Al-Quran."
"Baik, kami memiliki beberapa jenis."
Mereka mempunyai edisi yang bagus --harganya tiga puluh, empat puluh dolar.
"Saya hanya ingin membacanya, saya tidak ingin menjadi pengikutnya."
"Baik, kami mempunyai edisi bersampul tipis yang kecil, harganya lima dolar."
Saya pulang ke rumah, dan mulai membaca Al-Quran dari awal, dari surat Al-Fatihah. Dan saya tidak dapat melepaskan mata saya darinya.
Hei, lihat. Kitab ini membicarakan tentang Nuh. Dalam Injil juga ada Nuh. Hei, ini juga membicarakan Luth dan Ibrahim. Saya tidak dapat mempercayainya. Saya tidak pernah mengetahui bahwa nama Setan adalah Iblis.
Ketika Anda mendapat gambar di pesawat televisi dan tampaknya ada sedikit gangguan, lalu Anda memencet tombol [klop] --tersetel bagus. Itulah yang sebenarnya terjadi dengan Al-Quran.
Saya menyelesaikan seluruh isi Al-Quran. Lalu saya berkata, 'Baik, saya telah melakukan hal ini, sekarang apa yang selanjutnya harus saya lakukan?'
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Nah, saya harus pergi ke tempat pertemuan mereka. Saya melihat halaman kuning, dan akhirnya saya menemukan berita ini: Pusat Islam California Selatan, di Vermont. Saya menelpon dan mereka berkata, "Datanglah pada hari Jumat."
Sekarang saya benar-benar gelisah, sebab sekarang saya tahu bahwa saya akan berhadapan dengan Habib dan AK-47nya.
Saya ingin orang-orang mengetahui bagaimana rasanya bagi seorang Kristen Amerika memeluk agama Islam. Saya bergurau masalah AK-47, tetapi saya tidak tahu apakah mereka menyimpan pisau belati di balik jubah mereka. Jadi saya masuk, dan benar sekali, di sana ada seorang rekan yang tingginya enam koma tiga kaki, beratnya 240 pound, berjenggot dan lain-lain, dan saya hanya terpesona.
Saya berjalan dan berkata, "Permisi, tuan."
[Dengan aksen bahasa Arab:] "Balik ke belakang!"
Dia mengira saya telah menjadi anggota.
Saya berkata, "Ya tuan, ya tuan" [tanpa perlawanan].
Saya tidak tahu untuk apa saya kembali ke belakang, tetapi saya kembali ke belakang. Mereka telah mendirikan tenda dan menggelar permadani. Saya menunggu di sana, dengan malu-malu, dan orang-orang duduk mendengarkan ceramah. Dan orang-orang berkata, "Silakan saudara, duduklah." Saya menjawab, "Tidak, terimakasih, tidak, terimakasih, saya hanya berkunjung."
Akhirnya ceramah itu selesai. Mereka semua berbaris untuk melakukan sholat. Saya sungguh terperanjat.
Lihat Juga :