Kisah Mualaf Amerika Raphael Narbaez Jr, Pendeta Saksi Yehova yang Memeluk Islam
Senin, 05 Desember 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Peristiwa itu mempengaruhi saya secara intelektual, dalam otot saya, dalam tulang saya, dalam hati saya dan dalam jiwa saya.
Kemudian sholat telah usai. Saya berkata, "hei, siapa yang akan memperkenalkan saya?" Lalu saya mulai bercampur dengan mereka seolah-olah saya salah satu dari mereka, dan saya berjalan ke dalam masjid dan seorang rekan menyapa, "Assalaamu alaikum ". Saya berpikir, "Apakah dia mengatakan "salt and bacon"?"
"Assalaamu alaikum."
Ada orang lain yang mengatakan "salt and bacon" lagi kepada saya.
Saya tidak tahu apa yang mereka katakan, tetapi mereka semua tersenyum.
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Sebelum salah satu orang-orang itu mengetahui bahwa saya tidak semestinya ada di sana dan membawa saya ke kamar penyiksaan, atau memenggal kepala saya, saya ingin melihat sebanyak mungkin. Akhirnya saya masuk ke perpustakaan, dan di sana ada seorang rekan dari Mesir yang masih muda; namanya Omar. Tuhan mengutusnya kepada saya.
Omar menghampiri saya, dan dia berkata, "Maaf. Apa ini kunjungan Anda yang pertama ke sini?" Aksennya kental sekali.
Saya menjawab, Ya.
"Ohh, bagus sekali. Anda seorang Muslim?"
"Bukan, saya baru membaca sedikit."
"Oh, Anda sedang belajar? Ini kunjungan pertama Anda ke masjid?"
"Ya."
"Mari, saya bawa Anda berkeliling." Lalu dia menggandeng tangan saya, dan saya berjalan dengan orang asing-bergandengan tangan. Saya berkata, orang-orang Muslim ini begitu ramah.
Lalu dia mengajak saya berkeliling. "Pertama-tama, itu ruangan sholat kami, dan Anda harus membuka sepatu Anda di sini."
"Apa ini?"
"Ini kotak-kotak kecil. Di situlah Anda menyimpan sepatu Anda."
"Mengapa?"
"Karena Anda mendekati daerah sholat, dan tempat ini sangat suci. Anda tidak boleh masuk ke sana dengan memakai sepatu; ruangan ini dijaga agar benar-benar bersih."
Kemudian dia membawa saya ke toilet untuk lelaki.
"Di situ kami mengambil wudhu."
"Voodoo! Saya tidak membaca apa pun tentang voodoo!"
"Bukan, bukan voodoo. Wudhu!"
"Baiklah, karena saya pernah melihat voodoo itu dengan boneka dan jarum, saya belum siap dengan komitmen semacam itu."
Dia berkata, "Bukan itu, wudhu untuk mensucikan diri kami."
"Mengapa Anda melakukan itu?"
"Ketika Anda berdoa kepada Tuhan, Anda harus suci, maka kami membasuh tangan dan kaki kami."
Jadi saya mempelajari semua hal itu. Dia membiarkan saya pergi, dan berkata, "Silakan datang lagi nanti."
Saya kembali dan meminta kepada penjaga perpustakaan sebuah pedoman sholat, lalu saya pulang dan mempraktikkannya. Saya merasa kalau saya berusaha untuk melakukannya dengan benar, Tuhan pasti akan menerimanya. Saya melanjutkan membaca dan mengunjungi masjid.
Saya ada janji pergi berkunjung ke Midwest untuk pentas komedi. Saya membawa sajadah saya. Saya tahu bahwa saya diperintahkan untuk melakukan sholat pada waktu-waktu tertentu, tetapi ada tempat-tempat tertentu di mana Anda tidak diperbolehkan melakukan sholat, salah satunya di kamar mandi. Saya pergi ke ruang pria di terminal, menggelar sajadah, lalu melakukan sholat.
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Saya kembali, dan ketika bulan Ramadhan telah usai, saya mulai mendapat panggilan dari beberapa daerah negara ini untuk datang dan memberikan ceramah sebagai mantan pendeta Saksi Yehova yang memeluk agama Islam. Orang mendapati saya sebagai sosok yang baru.
[Dua orang pendatang bercakap-cakap:]
"Orang ini lelaki Amerika yang jantan. Dia dahulu seorang Saksi Yehova."
"Orang-orang yang datang pagi hari?"
"Ya, mereka."
"Yang tidak pernah membiarkan kita tidur di hari Minggu?"
"Ya, dia salah satu dari mereka. Sekarang dia salah satu dari kita."
Akhirnya seseorang mendatangi saya dan berkata [Dengan aksen Pakistan], "Oh, saudaraku, bicaramu sungguh bagus. Tetapi Anda tahu, dalam aliran Syafi'i--"
Saya hanya menoleh kepadanya dan berkata, "Wah, saudaraku, maaf, saya sebenarnya ingin memahami hal itu, tetapi saya tidak tahu apa-apa tentang Islam kecuali yang terdapat dalam Al-Quran dan sunnah."
Beberapa di antara mereka terperanjat dan berkata, "Ha-ha! Kasihan sekali. Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya mengetahui Al-Quran."
Hanya itu yang semestinya saya ketahui. Dan itu merupakan perlindungan yang menyenangkan. Saya pikir segala sesuatu ada di tangan Tuhan.
Raphael menunaikan ibadah haji pada 1993.
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
Kemudian sholat telah usai. Saya berkata, "hei, siapa yang akan memperkenalkan saya?" Lalu saya mulai bercampur dengan mereka seolah-olah saya salah satu dari mereka, dan saya berjalan ke dalam masjid dan seorang rekan menyapa, "Assalaamu alaikum ". Saya berpikir, "Apakah dia mengatakan "salt and bacon"?"
"Assalaamu alaikum."
Ada orang lain yang mengatakan "salt and bacon" lagi kepada saya.
Saya tidak tahu apa yang mereka katakan, tetapi mereka semua tersenyum.
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Sebelum salah satu orang-orang itu mengetahui bahwa saya tidak semestinya ada di sana dan membawa saya ke kamar penyiksaan, atau memenggal kepala saya, saya ingin melihat sebanyak mungkin. Akhirnya saya masuk ke perpustakaan, dan di sana ada seorang rekan dari Mesir yang masih muda; namanya Omar. Tuhan mengutusnya kepada saya.
Omar menghampiri saya, dan dia berkata, "Maaf. Apa ini kunjungan Anda yang pertama ke sini?" Aksennya kental sekali.
Saya menjawab, Ya.
"Ohh, bagus sekali. Anda seorang Muslim?"
"Bukan, saya baru membaca sedikit."
"Oh, Anda sedang belajar? Ini kunjungan pertama Anda ke masjid?"
"Ya."
"Mari, saya bawa Anda berkeliling." Lalu dia menggandeng tangan saya, dan saya berjalan dengan orang asing-bergandengan tangan. Saya berkata, orang-orang Muslim ini begitu ramah.
Lalu dia mengajak saya berkeliling. "Pertama-tama, itu ruangan sholat kami, dan Anda harus membuka sepatu Anda di sini."
"Apa ini?"
"Ini kotak-kotak kecil. Di situlah Anda menyimpan sepatu Anda."
"Mengapa?"
"Karena Anda mendekati daerah sholat, dan tempat ini sangat suci. Anda tidak boleh masuk ke sana dengan memakai sepatu; ruangan ini dijaga agar benar-benar bersih."
Kemudian dia membawa saya ke toilet untuk lelaki.
"Di situ kami mengambil wudhu."
"Voodoo! Saya tidak membaca apa pun tentang voodoo!"
"Bukan, bukan voodoo. Wudhu!"
"Baiklah, karena saya pernah melihat voodoo itu dengan boneka dan jarum, saya belum siap dengan komitmen semacam itu."
Dia berkata, "Bukan itu, wudhu untuk mensucikan diri kami."
"Mengapa Anda melakukan itu?"
"Ketika Anda berdoa kepada Tuhan, Anda harus suci, maka kami membasuh tangan dan kaki kami."
Jadi saya mempelajari semua hal itu. Dia membiarkan saya pergi, dan berkata, "Silakan datang lagi nanti."
Saya kembali dan meminta kepada penjaga perpustakaan sebuah pedoman sholat, lalu saya pulang dan mempraktikkannya. Saya merasa kalau saya berusaha untuk melakukannya dengan benar, Tuhan pasti akan menerimanya. Saya melanjutkan membaca dan mengunjungi masjid.
Saya ada janji pergi berkunjung ke Midwest untuk pentas komedi. Saya membawa sajadah saya. Saya tahu bahwa saya diperintahkan untuk melakukan sholat pada waktu-waktu tertentu, tetapi ada tempat-tempat tertentu di mana Anda tidak diperbolehkan melakukan sholat, salah satunya di kamar mandi. Saya pergi ke ruang pria di terminal, menggelar sajadah, lalu melakukan sholat.
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Saya kembali, dan ketika bulan Ramadhan telah usai, saya mulai mendapat panggilan dari beberapa daerah negara ini untuk datang dan memberikan ceramah sebagai mantan pendeta Saksi Yehova yang memeluk agama Islam. Orang mendapati saya sebagai sosok yang baru.
[Dua orang pendatang bercakap-cakap:]
"Orang ini lelaki Amerika yang jantan. Dia dahulu seorang Saksi Yehova."
"Orang-orang yang datang pagi hari?"
"Ya, mereka."
"Yang tidak pernah membiarkan kita tidur di hari Minggu?"
"Ya, dia salah satu dari mereka. Sekarang dia salah satu dari kita."
Akhirnya seseorang mendatangi saya dan berkata [Dengan aksen Pakistan], "Oh, saudaraku, bicaramu sungguh bagus. Tetapi Anda tahu, dalam aliran Syafi'i--"
Saya hanya menoleh kepadanya dan berkata, "Wah, saudaraku, maaf, saya sebenarnya ingin memahami hal itu, tetapi saya tidak tahu apa-apa tentang Islam kecuali yang terdapat dalam Al-Quran dan sunnah."
Beberapa di antara mereka terperanjat dan berkata, "Ha-ha! Kasihan sekali. Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya mengetahui Al-Quran."
Hanya itu yang semestinya saya ketahui. Dan itu merupakan perlindungan yang menyenangkan. Saya pikir segala sesuatu ada di tangan Tuhan.
Raphael menunaikan ibadah haji pada 1993.
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
(mhy)
Lihat Juga :