Hubungan Muslim dengan Ahlul Kitab Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali
Rabu, 07 Desember 2022 - 16:27 WIB
loading...
Syaikh Muhammad al-Ghazali. (Foto/Ilustrasi/Ist)
A
A
A
Syaikh Muhammad al-Ghazali mengatakan Al-Quran melarang kaum muslimin memilih pemimpin nonmuslim yang zalim, yang sengaja menghinakan Islam, mengotori sejarahnya, dan menjatuhkan pemeluknya. Lalu, bagaimana tentang hubungan muslim dengan Ahlul Kitab ?
Kitabullah mewajibkan kita untuk merealisasikan keadilan, menyadarkan semua orang tentang kondisi umum yang dihadapi, dan tidak menghiraukan persahabatan atau permusuhan dengan si kaya atau si miskin.
Mendasarkan pandangannya tersebut pada Firman Allah SWT:
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap diri sendiri afau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." ( QS an-Nisa' : 135)
Baca juga: Hubungan Muslim dengan Ahlul Kitab Menurut Sayyid Quthub
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam buku berjudul "At-Ta'ashshub wat-Tasaamuh bainal-Masihiyyah wal-Islam atau Fanatisme dan Toleransi di antara Kristen dan Islam" mengupas tiga ayat yang sering menjadi perdebatan berkepanjangan, yaitu:
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir, menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin." ( QS Ali Imran : 28)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)..." ( QS al-Ma'idah : 51).
"Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak... " ( QS at-Taubah : 8).
Syaikh Muhammad al-Ghazali mengatakan bahwa ada anggapan di kalangan masyarakat muslim mengenai perlunya pemutusan hubungan dengan nonmuslim serta membenci mereka.
Kitabullah mewajibkan kita untuk merealisasikan keadilan, menyadarkan semua orang tentang kondisi umum yang dihadapi, dan tidak menghiraukan persahabatan atau permusuhan dengan si kaya atau si miskin.
Mendasarkan pandangannya tersebut pada Firman Allah SWT:
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap diri sendiri afau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." ( QS an-Nisa' : 135)
Baca juga: Hubungan Muslim dengan Ahlul Kitab Menurut Sayyid Quthub
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam buku berjudul "At-Ta'ashshub wat-Tasaamuh bainal-Masihiyyah wal-Islam atau Fanatisme dan Toleransi di antara Kristen dan Islam" mengupas tiga ayat yang sering menjadi perdebatan berkepanjangan, yaitu:
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir, menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin." ( QS Ali Imran : 28)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)..." ( QS al-Ma'idah : 51).
"Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak... " ( QS at-Taubah : 8).
Syaikh Muhammad al-Ghazali mengatakan bahwa ada anggapan di kalangan masyarakat muslim mengenai perlunya pemutusan hubungan dengan nonmuslim serta membenci mereka.
Lihat Juga :