Perang Tiga Raja: Runtuhnya Imperium Portugal di Tangan Muslim Maroko
Sabtu, 10 Desember 2022 - 07:30 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini menambah ambisi Portugis dan negara Eropa lainnya untuk melakukan penjajahan. Pada Tahun 1578, di Maroko terjadi konflik penguasa antara Abu Abdullah Muhammad Mutawakkil as-Sa'di dengan pamannya, Abdul Malik. Setelah kalah oleh sang paman, as-Sa'di lantas meminta bantuan kepada Raja Portugal, Sebastian, untuk mengalahkan Abdul Malik yang beraliansi dengan Turki Utsmani yang saat itu dipimpin Sultan Sulaiman Al-Qonuni.
Permintaan as-Sa'di dengan senang hati diterima oleh Sebastian yang juga memiliki misi untuk menaklukkan negeri muslim di Afrika bagian Utara. Didorong oleh fanatik Katolik, perluasan imperium dan misi perang Salib untuk menggulung Utsmaniyah, datanglah Sebastian bersama sukarelawan dari Spanyol, tentara bayaran dari Jerman, Italia serta tokoh Inggris berpengaruh, Thomas Stukley.
Sebanyak 500 kapal dikerahkan untuk menyeberangkan pasukan Portugis ke Maroko dengan jumlah pasukan 23.000 (sumber Barat), sementara sejarawan muslimin menyebutkan pasukan Portugis berjumlah 125.000 tentara.
Adapun jumlah pasukan muslim sebanyak 40.000 orang, terdiri dari 35.000 pasukan Abdul Malik dan 15.000 pasukan bantuan Utsmaniyah. Pasukan Portugis mendarat tanggal 24 Juni 1578 di Arzila, Maroko. Seruan jihad pun berkumandang di seluruh penjuru Maroko. "Pergilah kalian ke Wadil Makhazin untuk berjihad di jalan Allah!"
Berdatanganlah dari berbagai pelosok Maroko para Mujahidin di bawah pimpinan Abdul Malik al-Mu'tashim Billah. Sementara itu, as-Sa'di melancarkan perang opini dan fatwa dengan berupaya memecah belah kaum muslimin melalui pengiriman surat kepada penduduk Maroko yang berbunyi:
"Saya tidak pernah meminta bantuan pada orang-orang Kristen, kecuali saat tidak dapat bantuan lagi dari muslimin. Bukankah para ulama mengatakan, 'Boleh saja bagi manusia meminta bantuan pada siapa saja atas orang yang merampas haknya dengan semua cara yang bisa dia lakukan.' Dengarkanlah ancaman Allah: "Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (QS Al-Baqarah ayat 279)."
Opini yang dilancarkan as-Sa'di mendapat jawaban keras dari ulama-ulama Maroko, setelah pembukaan surat tahmid dan sholawat. ".....Adapun perkataanmu bahwa kau kembali kepada mereka tatkala tidak ada lagi pertolongan dari muslimin, maka di dalamnya ada larangan yang akan mendatangkan kemurkaan Rabb-Mu. Salah satunya adalah karena engkau meyakini bahwa sesungguhnya semua kaum muslimin berada dalam kesesatan, dan sesungguhnya kebenaran tidak bisa ditegakkan kecuali dengan bantuan orang-orang Kristen. Kita berlindung kepada Allah. Kedua, sesungguhnya kamu meminta pertolongan kepada orang-orang kafir untuk memerangi muslimin.
Padahal Rasululllah SAW bersabda: "Sesungguhnya saya tidak pernah meminta pertolongan pada orang-orang yang menyekutukan Allah."
Engkau sendiri telah membanggakan diri dalam suratmu bersama gerombolan orang-orang Romawi yang kini berada bersamamu. Dan kau merasa terangkat dengan datangnya raja itu dengan tentaranya. Lalu bagaimana posisimu dengan firman Allah berikut: "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai." (QS At-Taubah ayat 32)
Abdul Malik juga mengirimkan surat kepada Sebastian, "Sesungguhnya pengaruhmu telah nampak sejak engkau pertama kali keluar dari negerimu, sedangkan engkau membawa permusuhan. Maka janganlah engkau bergerak dulu sebelum kami datang kepadamu. Jika itu yang engkau lakukan, maka engkau benar-benar seorang Kristen yang pemberani. Dan jika tidak, maka engkau tak lebih dari anak anjing. Bukanlah sikap pemberani dan bukan pula ksatria jika seseorang datang pada penduduk yang tidak terlindungi dan dia tidak menanti orang-orang yang siap perang."
Surat ini membuat marah Sebastian namun berhasil membuatnya memutuskan untuk menunggu, meskipun penasihat dan komandan perangnya meminta untuk tetap segera melakukan pendudukan. Strategi Abdul Malik berhasil.
Bertemulah 125.000 pasukan Portugis dan 40.000 pasukan muslimin di sebuah daerah bernama Istana Besar (Ksar al-Kabir), kurang lebih 100 Km di sebelah selatan Tangier dan 20 Km jauhnya dari pantai. Kecerdasan taktik Abdul Malik berhasil memancing dan mengisolasi pasukan Sebastian dari pasukan artileri armada kapalnya di pantai.
Pasukan kavaleri juga dikirimkan untuk menghancurkan jembatan di belakang Sebastian sehingga memutus jalur bantuan dan pelarian musuh. Abdul Malik mengatur meriam artileri di bagian depan kemudian pasukan infantri dan pemanah di tengah memanjang serta kavaleri kudanya di sayap kanan dan kiri.
Permintaan as-Sa'di dengan senang hati diterima oleh Sebastian yang juga memiliki misi untuk menaklukkan negeri muslim di Afrika bagian Utara. Didorong oleh fanatik Katolik, perluasan imperium dan misi perang Salib untuk menggulung Utsmaniyah, datanglah Sebastian bersama sukarelawan dari Spanyol, tentara bayaran dari Jerman, Italia serta tokoh Inggris berpengaruh, Thomas Stukley.
Sebanyak 500 kapal dikerahkan untuk menyeberangkan pasukan Portugis ke Maroko dengan jumlah pasukan 23.000 (sumber Barat), sementara sejarawan muslimin menyebutkan pasukan Portugis berjumlah 125.000 tentara.
Adapun jumlah pasukan muslim sebanyak 40.000 orang, terdiri dari 35.000 pasukan Abdul Malik dan 15.000 pasukan bantuan Utsmaniyah. Pasukan Portugis mendarat tanggal 24 Juni 1578 di Arzila, Maroko. Seruan jihad pun berkumandang di seluruh penjuru Maroko. "Pergilah kalian ke Wadil Makhazin untuk berjihad di jalan Allah!"
Berdatanganlah dari berbagai pelosok Maroko para Mujahidin di bawah pimpinan Abdul Malik al-Mu'tashim Billah. Sementara itu, as-Sa'di melancarkan perang opini dan fatwa dengan berupaya memecah belah kaum muslimin melalui pengiriman surat kepada penduduk Maroko yang berbunyi:
"Saya tidak pernah meminta bantuan pada orang-orang Kristen, kecuali saat tidak dapat bantuan lagi dari muslimin. Bukankah para ulama mengatakan, 'Boleh saja bagi manusia meminta bantuan pada siapa saja atas orang yang merampas haknya dengan semua cara yang bisa dia lakukan.' Dengarkanlah ancaman Allah: "Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (QS Al-Baqarah ayat 279)."
Opini yang dilancarkan as-Sa'di mendapat jawaban keras dari ulama-ulama Maroko, setelah pembukaan surat tahmid dan sholawat. ".....Adapun perkataanmu bahwa kau kembali kepada mereka tatkala tidak ada lagi pertolongan dari muslimin, maka di dalamnya ada larangan yang akan mendatangkan kemurkaan Rabb-Mu. Salah satunya adalah karena engkau meyakini bahwa sesungguhnya semua kaum muslimin berada dalam kesesatan, dan sesungguhnya kebenaran tidak bisa ditegakkan kecuali dengan bantuan orang-orang Kristen. Kita berlindung kepada Allah. Kedua, sesungguhnya kamu meminta pertolongan kepada orang-orang kafir untuk memerangi muslimin.
Padahal Rasululllah SAW bersabda: "Sesungguhnya saya tidak pernah meminta pertolongan pada orang-orang yang menyekutukan Allah."
Engkau sendiri telah membanggakan diri dalam suratmu bersama gerombolan orang-orang Romawi yang kini berada bersamamu. Dan kau merasa terangkat dengan datangnya raja itu dengan tentaranya. Lalu bagaimana posisimu dengan firman Allah berikut: "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai." (QS At-Taubah ayat 32)
Abdul Malik juga mengirimkan surat kepada Sebastian, "Sesungguhnya pengaruhmu telah nampak sejak engkau pertama kali keluar dari negerimu, sedangkan engkau membawa permusuhan. Maka janganlah engkau bergerak dulu sebelum kami datang kepadamu. Jika itu yang engkau lakukan, maka engkau benar-benar seorang Kristen yang pemberani. Dan jika tidak, maka engkau tak lebih dari anak anjing. Bukanlah sikap pemberani dan bukan pula ksatria jika seseorang datang pada penduduk yang tidak terlindungi dan dia tidak menanti orang-orang yang siap perang."
Surat ini membuat marah Sebastian namun berhasil membuatnya memutuskan untuk menunggu, meskipun penasihat dan komandan perangnya meminta untuk tetap segera melakukan pendudukan. Strategi Abdul Malik berhasil.
Bertemulah 125.000 pasukan Portugis dan 40.000 pasukan muslimin di sebuah daerah bernama Istana Besar (Ksar al-Kabir), kurang lebih 100 Km di sebelah selatan Tangier dan 20 Km jauhnya dari pantai. Kecerdasan taktik Abdul Malik berhasil memancing dan mengisolasi pasukan Sebastian dari pasukan artileri armada kapalnya di pantai.
Pasukan kavaleri juga dikirimkan untuk menghancurkan jembatan di belakang Sebastian sehingga memutus jalur bantuan dan pelarian musuh. Abdul Malik mengatur meriam artileri di bagian depan kemudian pasukan infantri dan pemanah di tengah memanjang serta kavaleri kudanya di sayap kanan dan kiri.
Lihat Juga :