Pengaruh Mansa Musa Orang Terkaya Sepanjang Masa dalam Penyebaran Islam di Afrika Barat
Jum'at, 16 Desember 2022 - 18:52 WIB
loading...
Mansa Musa orang terkaya sepanjang masa. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah Mansa Musa orang terkaya sepanjang masa bertalian dengan penyebaran Islam di Afrika Barat . Di wilayah ini dianggap identik dengan kemajuan. Lalu, bagaimana sejatinya penyebaran Islam di Afrika Barat pada waktu itu?
Islam masuk ke Benua Afrika sejak tahun 660, yakni di Afrika Utara. Melalui Bagian selatan Sahara, yang menjadi batas antara Afrika Barat dan Afrika Utara, Islam sudah dikenal dari sejak abad ke-8 melalui kontak dengan pedagang dari utara.
Sylviane A. Diouf dalam buku "Servants of Allah: African Muslims Enslaved in the Americas (New York University Press, 2013), mengatakan Islam, yakni mazhab Sunni, mulai menyebar setelah dua penguasa di Afrika Barat, yakni War Diaby dan Kosoy pada abad ke-11 memutuskan untuk memeluk agama Islam.
Baca juga: Kisah Mansa Musa Orang dengan Kekayaan Rp5.897 triliun Naik Haji
War Diaby (atau War Jabi) adalah raja Kerajaan Takrur (sekarang berada di Senegal Utara) yang setelah memeluk Islam menerapkan hukum Islam atau syariat di kerajaannya. Dengan demikian, Takrur menjadi kerajaan pertama di Afrika Barat yang menjadi negara Islam.
Sedangkan Kosoy (atau Za Kusoy), adalah raja pertama dari kerajaan tua, Songhay (sekarang berada di Mali dan Sudah Barat), yang memutuskan masuk Islam. Di bawah kepemimpinannya, dia menjadikan kerajaan kecil di Gao menjadi negara Islam. Pada masa kekuasaannya, Kosoy berhasil menarik para pedagang dari Afrika Utara untuk mendatangi kerajaannya.
Dalam waktu lima puluh tahun sejak itu, Islam kemudian berkembang lebih jauh mulai dari tepi Sungai Senegal di barat hingga ke pantai Danau Chad di timur. Kemudian pada abad ke-14, para pedagang dan ulama dari Mali mulai memperkenalkan Islam ke Nigeria Utara – di sana para Muslim dikenal dengan sebutan Malé, atau orang-orang yang datang dari Mali.
Berbeda dengan kedatangannya di Afrika Utara, yakni Islam dibawa oleh orang-orang Arab dengan cara ekspansi militer, penyebaran Islam di sub-Sahara Afrika kebanyakan terjadi dengan cara-cara yang damai dan tidak menarik perhatian. Perang agama atau jihad di Afrika Barat, baru terjadi belakangan, yakni pada abad ke-18 dan terutama pada ke-19.
Para penyebar agama Islam di Afrika Barat adalah penduduk asli, yaitu para pedagang pribumi, ulama, dan penguasa, dan oleh karenanya orang-orang yang belum masuk Islam pun beranggapan bahwa Islam secara sosial dan kultural dekat dengan mereka.
Baca juga: Kisah Mansa Musa Orang dengan Kekayaan Rp5.897 triliun Setelah Haji
Selain itu, mereka juga menganggap bahwa budaya dan adat tradisional Afrika seperti kurban hewan, sunat, poligami, doa bersama, ramalan-ramalan orang suci, dan pembuatan talisman, juga ada di dalam agama Islam.
Kedekatan-kedekatan semacam itu, dan juga toleransi Islam terhadap ritual-ritual dan kepercayaan tradisional, pada akhirnya mempermudah penyebaran Islam. Sehingga banyak orang Afrika sendiri yang menganggap bahwa Islam sejatinya adalah agama orang-orang Afrika.
Islam masuk ke Benua Afrika sejak tahun 660, yakni di Afrika Utara. Melalui Bagian selatan Sahara, yang menjadi batas antara Afrika Barat dan Afrika Utara, Islam sudah dikenal dari sejak abad ke-8 melalui kontak dengan pedagang dari utara.
Sylviane A. Diouf dalam buku "Servants of Allah: African Muslims Enslaved in the Americas (New York University Press, 2013), mengatakan Islam, yakni mazhab Sunni, mulai menyebar setelah dua penguasa di Afrika Barat, yakni War Diaby dan Kosoy pada abad ke-11 memutuskan untuk memeluk agama Islam.
Baca juga: Kisah Mansa Musa Orang dengan Kekayaan Rp5.897 triliun Naik Haji
War Diaby (atau War Jabi) adalah raja Kerajaan Takrur (sekarang berada di Senegal Utara) yang setelah memeluk Islam menerapkan hukum Islam atau syariat di kerajaannya. Dengan demikian, Takrur menjadi kerajaan pertama di Afrika Barat yang menjadi negara Islam.
Sedangkan Kosoy (atau Za Kusoy), adalah raja pertama dari kerajaan tua, Songhay (sekarang berada di Mali dan Sudah Barat), yang memutuskan masuk Islam. Di bawah kepemimpinannya, dia menjadikan kerajaan kecil di Gao menjadi negara Islam. Pada masa kekuasaannya, Kosoy berhasil menarik para pedagang dari Afrika Utara untuk mendatangi kerajaannya.
Dalam waktu lima puluh tahun sejak itu, Islam kemudian berkembang lebih jauh mulai dari tepi Sungai Senegal di barat hingga ke pantai Danau Chad di timur. Kemudian pada abad ke-14, para pedagang dan ulama dari Mali mulai memperkenalkan Islam ke Nigeria Utara – di sana para Muslim dikenal dengan sebutan Malé, atau orang-orang yang datang dari Mali.
Berbeda dengan kedatangannya di Afrika Utara, yakni Islam dibawa oleh orang-orang Arab dengan cara ekspansi militer, penyebaran Islam di sub-Sahara Afrika kebanyakan terjadi dengan cara-cara yang damai dan tidak menarik perhatian. Perang agama atau jihad di Afrika Barat, baru terjadi belakangan, yakni pada abad ke-18 dan terutama pada ke-19.
Para penyebar agama Islam di Afrika Barat adalah penduduk asli, yaitu para pedagang pribumi, ulama, dan penguasa, dan oleh karenanya orang-orang yang belum masuk Islam pun beranggapan bahwa Islam secara sosial dan kultural dekat dengan mereka.
Baca juga: Kisah Mansa Musa Orang dengan Kekayaan Rp5.897 triliun Setelah Haji
Selain itu, mereka juga menganggap bahwa budaya dan adat tradisional Afrika seperti kurban hewan, sunat, poligami, doa bersama, ramalan-ramalan orang suci, dan pembuatan talisman, juga ada di dalam agama Islam.
Kedekatan-kedekatan semacam itu, dan juga toleransi Islam terhadap ritual-ritual dan kepercayaan tradisional, pada akhirnya mempermudah penyebaran Islam. Sehingga banyak orang Afrika sendiri yang menganggap bahwa Islam sejatinya adalah agama orang-orang Afrika.
Lihat Juga :