Kisah Anggota Nation of Islam Johnny Lee X Mencari Tuhan
Selasa, 20 Desember 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Sebuah surat yang memberinya gelar "X" datang pada 24 Oktober 1959.
Setelah mendapatkan gelar "X", saya kembali ke kota asal saya dan terlibat dalam perdebatan dengan paman saya. Hingga ayam berkokok keesokan harinya, kami masih berdebat tentang siapakah iblis itu sebenarnya, mengapa kami ada di sini dan siapakah kami. Mereka tidak pernah mendengar pembicaraan seperti itu.
Paman saya berkata, "Kita tidak dapat berbuat apa-apa."
Saya datang ke 116th Street dan untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Malcolm. Saya melihat dia berjalan sambil menjinjing tas kopernya. Saya bertanya, "Siapa itu?"
Seseorang berkata, "Itu Malcolm X. Anda tidak pernah mendengarnya?"
Saya berkata, "Tidak."
Dia berkata, "Orang itu jahat."
Saat itu dia berdiri di mimbar dan mulai berpidato.
Saya berkata, "Wooooooo, orang ini dapat bicara."
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Suliaman El Hadi, Jihad Memberantas Kebodohan Lewat Syair
Saya banyak bergaul dengan Malcolm. Dia tidak pernah memeluk Anda seperti yang dilakukan Farrakhan, pimpinan Nation of Islam yang telah diperbarui.
Dia adalah orang yang sangat keras. Anda tidak dapat berbuat bebas di hadapannya seperti terhadap Farrakhan. Bersama Malcolm, seorang rekan wanita dapat berbicara dengan saya, dan saya sangat takut sekalipun hanya untuk menatapnya pada hari Kebangkitan Pertama. (Anggota Nation of Islam yang sekarang menyebut Nation pada masa Elijah Muhammad sebagai Kebangkitan Pertama).
Saya berada di dekatnya, untuk meyakinkan tidak ada orang asing yang mendekatinya. Kami mengadakan ceramah di 125th Street, di mana sekarang berdiri State Building. Salah seorang hadirin terlihat membawa sesuatu yang menonjol di sakunya. Kami kira itu sebuah senjata. Kami segera bersiaga untuk mendepaknya keluar dari planet ini.
Kami bersiap-siap untuk mengadakan pertemuan di kota. Tetapi ketika John F. Kennedy terbunuh, Yang Mulia Elijah Muhammad membatalkan pertemuan. Malcolm berkata kepadanya bahwa dia telah menghabiskan uang untuk pertemuan itu dan kami tidak bisa mendapatkannya kembali.
Saya tawarkan diri untuk menyelenggarakan pertemuan itu. Sang Utusan berkata, jika engkau melaksanakannya, jangan menyebut-nyebut soal Presiden. Jangan katakan sesuatu tentang Presiden.
Pertemuan itu berjalan lancar. Saya berdiri tepat di hadapan Malcolm. Persis sebelum pertemuan berakhir, seseorang bertanya tentang terbunuhnya Presiden. Malcolm berkata, "Itu seperti seekor ayam yang kembali ke kandang untuk mengeram. Hal itu tidak pernah membuat saya bersedih; bahkan selalu membuat saya gembira." Dan itulah akhir dari pertemuan tersebut.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Davud Abdul Hakim, Belajar Banyak Agama Sebelum Masuk Islam
Malam harinya radio memberitakan bahwa Menteri menyingkirkan Malcolm karena pernyataan itu. Dia dikucilkan selama sembilan puluh hari. Bukannya menjalani masa pengasingannya selama sembilan puluh hari dan menjadi dingin serta menjauh dari pusat perhatian, Malcolm justru diketahui pergi ke Florida dan tampil di seluruh stasiun televisi. Jadi dia dikucilkan untuk jangka waktu yang tidak terbatas dan kemudian memulai usahanya sendiri.
Saya datang ke masjid setelah dia dikucilkan. Keadaan di situ sedang kacau.
Saya bertanya, "Apa yang terjadi?"
Mereka berkata, "Kami akan mengikuti Malcolm. Engkau sendiri bagaimana?"
Saya berkata, "Terlalu banyak masalah di sini. Saya tidak akan pergi sebelum semua persoalan terselesaikan."
Saya tahu bahwa Yang Mulia Elijah Muhammad adalah pengarang ajaran ini. Saya tidak dapat pergi begitu saja dan mengikutinya, walaupun saya mencintainya.
Ketika Malcolm ditembak mereka mengutus saya pergi untuk suatu urusan. Tepat ketika saya sampai di sekretariat 116th Street, Edward X berlari keluar dan berkata, "Ayo kita pergi ke Audubon. Malcolm baru saja dibunuh!"
Setelah mendapatkan gelar "X", saya kembali ke kota asal saya dan terlibat dalam perdebatan dengan paman saya. Hingga ayam berkokok keesokan harinya, kami masih berdebat tentang siapakah iblis itu sebenarnya, mengapa kami ada di sini dan siapakah kami. Mereka tidak pernah mendengar pembicaraan seperti itu.
Paman saya berkata, "Kita tidak dapat berbuat apa-apa."
Saya datang ke 116th Street dan untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Malcolm. Saya melihat dia berjalan sambil menjinjing tas kopernya. Saya bertanya, "Siapa itu?"
Seseorang berkata, "Itu Malcolm X. Anda tidak pernah mendengarnya?"
Saya berkata, "Tidak."
Dia berkata, "Orang itu jahat."
Saat itu dia berdiri di mimbar dan mulai berpidato.
Saya berkata, "Wooooooo, orang ini dapat bicara."
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Suliaman El Hadi, Jihad Memberantas Kebodohan Lewat Syair
Saya banyak bergaul dengan Malcolm. Dia tidak pernah memeluk Anda seperti yang dilakukan Farrakhan, pimpinan Nation of Islam yang telah diperbarui.
Dia adalah orang yang sangat keras. Anda tidak dapat berbuat bebas di hadapannya seperti terhadap Farrakhan. Bersama Malcolm, seorang rekan wanita dapat berbicara dengan saya, dan saya sangat takut sekalipun hanya untuk menatapnya pada hari Kebangkitan Pertama. (Anggota Nation of Islam yang sekarang menyebut Nation pada masa Elijah Muhammad sebagai Kebangkitan Pertama).
Saya berada di dekatnya, untuk meyakinkan tidak ada orang asing yang mendekatinya. Kami mengadakan ceramah di 125th Street, di mana sekarang berdiri State Building. Salah seorang hadirin terlihat membawa sesuatu yang menonjol di sakunya. Kami kira itu sebuah senjata. Kami segera bersiaga untuk mendepaknya keluar dari planet ini.
Kami bersiap-siap untuk mengadakan pertemuan di kota. Tetapi ketika John F. Kennedy terbunuh, Yang Mulia Elijah Muhammad membatalkan pertemuan. Malcolm berkata kepadanya bahwa dia telah menghabiskan uang untuk pertemuan itu dan kami tidak bisa mendapatkannya kembali.
Saya tawarkan diri untuk menyelenggarakan pertemuan itu. Sang Utusan berkata, jika engkau melaksanakannya, jangan menyebut-nyebut soal Presiden. Jangan katakan sesuatu tentang Presiden.
Pertemuan itu berjalan lancar. Saya berdiri tepat di hadapan Malcolm. Persis sebelum pertemuan berakhir, seseorang bertanya tentang terbunuhnya Presiden. Malcolm berkata, "Itu seperti seekor ayam yang kembali ke kandang untuk mengeram. Hal itu tidak pernah membuat saya bersedih; bahkan selalu membuat saya gembira." Dan itulah akhir dari pertemuan tersebut.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Davud Abdul Hakim, Belajar Banyak Agama Sebelum Masuk Islam
Malam harinya radio memberitakan bahwa Menteri menyingkirkan Malcolm karena pernyataan itu. Dia dikucilkan selama sembilan puluh hari. Bukannya menjalani masa pengasingannya selama sembilan puluh hari dan menjadi dingin serta menjauh dari pusat perhatian, Malcolm justru diketahui pergi ke Florida dan tampil di seluruh stasiun televisi. Jadi dia dikucilkan untuk jangka waktu yang tidak terbatas dan kemudian memulai usahanya sendiri.
Saya datang ke masjid setelah dia dikucilkan. Keadaan di situ sedang kacau.
Saya bertanya, "Apa yang terjadi?"
Mereka berkata, "Kami akan mengikuti Malcolm. Engkau sendiri bagaimana?"
Saya berkata, "Terlalu banyak masalah di sini. Saya tidak akan pergi sebelum semua persoalan terselesaikan."
Saya tahu bahwa Yang Mulia Elijah Muhammad adalah pengarang ajaran ini. Saya tidak dapat pergi begitu saja dan mengikutinya, walaupun saya mencintainya.
Ketika Malcolm ditembak mereka mengutus saya pergi untuk suatu urusan. Tepat ketika saya sampai di sekretariat 116th Street, Edward X berlari keluar dan berkata, "Ayo kita pergi ke Audubon. Malcolm baru saja dibunuh!"
Lihat Juga :