Kisah Anggota Nation of Islam Johnny Lee X Mencari Tuhan
Selasa, 20 Desember 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Saya kaget, "Apa!" '
Baca juga: Kisah Louis Farrakhan yang Anggap Elijah Muhammad sebagai Al-Mahdi
Kami masuk ke dalam mobil. Kami lihat banyak orang masih berkeliaran di situ. Kami mengitari daerah itu dan kemudian kembali ke 116th Street.
Saya sangat terkejut. Saya benar-benar tidak dapat mempercayai hal itu akan terjadi. Saya masih sedih ketika memikirkan hal itu. Kami semua mencintainya. Saya dapat mengingat ucapan Malcolm kata demi kata. Saya masih memiliki catatan tentang hal-hal yang diajarkannya.
Ketika Malcolm baru terbunuh, mereka melihat enam truk orang Muslim menuju ke Chicago. Mereka menemui Elijah Muhammad. Penjualan koran-koran melonjak tinggi. Hanya itulah yang Anda dengar lewat berita.
Saya sangat ingin menghadiri pemakaman Malcolm. Tetapi saya tidak ingin terlibat dalam hubungan yang buruk dengan Nation.
Saya melihat banyak rekan yang dulunya sama-lama di Nation. Mereka telah menyimpang jauh. Setelah 1975 saya mulai menyimpang sedikit. Saya mulai merokok sedikit. Saya tidak pernah lagi makan babi. Tetapi sesekali saya minum sedikit untuk ramah-tamah. Tetapi kemudian ketika saya mendengar menteri (Louis Farrakhan) akan mengajar, saya berkata, "Di mana?" Saya menghentikan semua kelakuan itu.
Malcolm senantiasa meramalkan bahwa Wallace (Warith D. Mohammed) akan melakukan sebuah tindakan yang luar biasa, karena namanya diambil dari nama Master Farad. Ketika Elijah Muhammad wafat, saya pikir Farrakhan akan mengambil alih.
Baca juga: Kisah Elijah Robert Poole sang Utusan yang Membawa Bendera Islam di Amerika
Mungkin akan terjadi pertumpahan darah saat itu. Banyak rekan yang hampir terbunuh karena sebagian ingin mengikuti Farrakhan, sebagian lainnya ingin mengikuti Wallace.
Saya bingung dengan cara Wallace mengajar. Dia menanggalkan seragam kami dan membubarkan FOI. Dia mulai mengajak orang kulit putih bergabung dengan Nation.
Saya bilang, "Hai, apa yang dia lakukan?"
Ajaran Wallace bagi saya sama dampaknya dengan yang diajarkan oleh gereja Kristen. Saya dulu sering tertidur ketika pendeta berpidato. Saya berdiri di sana dan mendengarkannya berkhutbah dan ketika saya pikir pendeta akan mengatakan siapa Tuhan itu, dia berhenti dan mulai bernyanyi. Saya berkata, "Apa yang dibicarakannya!"
Sebenarnya tidak ada yang perlu dilakukan. Tidak ada lagi yang perlu dicari. Ketika saya mendengar ajaran itu lagi, saya tahu itulah yang saya cari. Dahulu saya begitu bahagia. Ketika saya mendengar Farrakhan mengajar lagi, saya menangis.
Anda lihat, saya hidup di dua sisi mata uang. Sekarang saya mendapat kesempatan untuk hidup di sisi yang baik.
Saya dahulu menembak, membantai. Ketika saya sedang "marah" saya selalu membawa senjata. Saya mulai membawa senjata lagi setelah keluar dari Nation.
Saya hanya berpikir ada sesuatu "di dalam" diri saya dengan membawa pistol --dan sebuah pisau bertangkai hitam. Saya pikir jika pistol saya macet, ada sebilah pisau untuk melindungi saya.
Ketika saya masih kecil di Virginia, saya biasa pergi ke tempat-tempat yang paling keras. Saya menyebutnya dengan Ember Darah. Saya pikir itu karena mereka memakan makanan yang buruk, lalu menjadi panas, dan ingin berkelahi. Tetapi sekarang, saya tidak akan melukai siapa pun. Saya kira saya tidak tega dan tidak mampu menyakiti seseorang. Saya tidak memiliki naluri untuk membunuh.
Sekarang, saya tidak memiliki senjata. Hanya satu yang saya yakini akan melindungi saya, Allah. Jika saya harus mati, saya rasa itu memang waktunya bagi saya untuk mati.
Farrakhan banyak mengingatkan saya pada Malcolm. Kami menyebut diri kami Nation of Islam baru. Kebangkitan Pertama adalah bersama Elijah Muhammad, dan Kebangkitan Kedua bersama Farrakhan. Itu hanyalah perubahan komando, hanya itu.
Sejak saya kembali kepada Nation, saya menjadi letnan. Mereka bilang banyak kisah yang harus saya sampaikan.
Baca juga: Warith Deen Mohammed, Imam Amerika yang Ubah Nation of Islam Jadi Islam Sunni
Baca juga: Kisah Louis Farrakhan yang Anggap Elijah Muhammad sebagai Al-Mahdi
Kami masuk ke dalam mobil. Kami lihat banyak orang masih berkeliaran di situ. Kami mengitari daerah itu dan kemudian kembali ke 116th Street.
Saya sangat terkejut. Saya benar-benar tidak dapat mempercayai hal itu akan terjadi. Saya masih sedih ketika memikirkan hal itu. Kami semua mencintainya. Saya dapat mengingat ucapan Malcolm kata demi kata. Saya masih memiliki catatan tentang hal-hal yang diajarkannya.
Ketika Malcolm baru terbunuh, mereka melihat enam truk orang Muslim menuju ke Chicago. Mereka menemui Elijah Muhammad. Penjualan koran-koran melonjak tinggi. Hanya itulah yang Anda dengar lewat berita.
Saya sangat ingin menghadiri pemakaman Malcolm. Tetapi saya tidak ingin terlibat dalam hubungan yang buruk dengan Nation.
Saya melihat banyak rekan yang dulunya sama-lama di Nation. Mereka telah menyimpang jauh. Setelah 1975 saya mulai menyimpang sedikit. Saya mulai merokok sedikit. Saya tidak pernah lagi makan babi. Tetapi sesekali saya minum sedikit untuk ramah-tamah. Tetapi kemudian ketika saya mendengar menteri (Louis Farrakhan) akan mengajar, saya berkata, "Di mana?" Saya menghentikan semua kelakuan itu.
Malcolm senantiasa meramalkan bahwa Wallace (Warith D. Mohammed) akan melakukan sebuah tindakan yang luar biasa, karena namanya diambil dari nama Master Farad. Ketika Elijah Muhammad wafat, saya pikir Farrakhan akan mengambil alih.
Baca juga: Kisah Elijah Robert Poole sang Utusan yang Membawa Bendera Islam di Amerika
Mungkin akan terjadi pertumpahan darah saat itu. Banyak rekan yang hampir terbunuh karena sebagian ingin mengikuti Farrakhan, sebagian lainnya ingin mengikuti Wallace.
Saya bingung dengan cara Wallace mengajar. Dia menanggalkan seragam kami dan membubarkan FOI. Dia mulai mengajak orang kulit putih bergabung dengan Nation.
Saya bilang, "Hai, apa yang dia lakukan?"
Ajaran Wallace bagi saya sama dampaknya dengan yang diajarkan oleh gereja Kristen. Saya dulu sering tertidur ketika pendeta berpidato. Saya berdiri di sana dan mendengarkannya berkhutbah dan ketika saya pikir pendeta akan mengatakan siapa Tuhan itu, dia berhenti dan mulai bernyanyi. Saya berkata, "Apa yang dibicarakannya!"
Sebenarnya tidak ada yang perlu dilakukan. Tidak ada lagi yang perlu dicari. Ketika saya mendengar ajaran itu lagi, saya tahu itulah yang saya cari. Dahulu saya begitu bahagia. Ketika saya mendengar Farrakhan mengajar lagi, saya menangis.
Anda lihat, saya hidup di dua sisi mata uang. Sekarang saya mendapat kesempatan untuk hidup di sisi yang baik.
Saya dahulu menembak, membantai. Ketika saya sedang "marah" saya selalu membawa senjata. Saya mulai membawa senjata lagi setelah keluar dari Nation.
Saya hanya berpikir ada sesuatu "di dalam" diri saya dengan membawa pistol --dan sebuah pisau bertangkai hitam. Saya pikir jika pistol saya macet, ada sebilah pisau untuk melindungi saya.
Ketika saya masih kecil di Virginia, saya biasa pergi ke tempat-tempat yang paling keras. Saya menyebutnya dengan Ember Darah. Saya pikir itu karena mereka memakan makanan yang buruk, lalu menjadi panas, dan ingin berkelahi. Tetapi sekarang, saya tidak akan melukai siapa pun. Saya kira saya tidak tega dan tidak mampu menyakiti seseorang. Saya tidak memiliki naluri untuk membunuh.
Sekarang, saya tidak memiliki senjata. Hanya satu yang saya yakini akan melindungi saya, Allah. Jika saya harus mati, saya rasa itu memang waktunya bagi saya untuk mati.
Farrakhan banyak mengingatkan saya pada Malcolm. Kami menyebut diri kami Nation of Islam baru. Kebangkitan Pertama adalah bersama Elijah Muhammad, dan Kebangkitan Kedua bersama Farrakhan. Itu hanyalah perubahan komando, hanya itu.
Sejak saya kembali kepada Nation, saya menjadi letnan. Mereka bilang banyak kisah yang harus saya sampaikan.
Baca juga: Warith Deen Mohammed, Imam Amerika yang Ubah Nation of Islam Jadi Islam Sunni
(mhy)
Lihat Juga :