Persepsi Umum Kenabian Menurut Orientalis William Montgomery Watt
Senin, 26 Desember 2022 - 19:59 WIB
loading...
A
A
A
Kisah-kisah yang menceritakan nabi-nabi terdahulu dijelaskan di dalam Al- Qur'an sekitar seperempat Al-Qur'an jumlahnya, bukan hanya memberikan penguatan bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikut beliau semata, melainkan juga tuntutan tegas agar beliau mempunyai rentetan asal-usul keturunan spiritual yang panjang dan bahwa nabi-nabi yang sebelum beliau itu mempunyai pengalaman-pengalaman yang mirip sama dengan pengalaman-pengalaman beliau sendiri.
Bentuk umum kisah itu memberitahukan bagaimana setelah nabi mengajak bangsanya untuk beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya serta siap sedia berkorban menghambakkan diri kepada Allah satu-satunya yang tunggal dan Maha Esa.
Namun mereka itu mengingkari pesan risalah nabinya dan lalu mereka ditimpa oleh bencana yang menghancurkan suatu bangsa tertentu itu.
Pada QS 7 , 11, dan 25, ada hitungan paralel Nabi Luth, Nabi Nuh dan tiga nabi dari bangsa Arab: Hud, Salih dan Syu'aib; dan ada acuan-acuan lebih ringkas terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi tersebut di manapun berada; terkadang Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain, dan seterusnya.
Baca juga: Hubungan Muslim-Kristen dan Perang Salib Menurut John L Esposito
Pada QS 7: 59-64, menceritakan kisah Nabi Nuh AS, dari awal sampai akhir sebagaimana di bawah ini:
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya."(Sesungguhnya kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kamu berada dalam kesesatan yang nyata."
Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam."
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui melalui wahyu dari Allah."
"Dan apakah kamu tidak percaya dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertaqwa dan supaya kamu mendapat rahmat."
"Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."
Nabi-nabi bangsa Arab di atas, sama-sama menyeru bangsanya masing-masing untuk beriman kepada Allah dan hanya menyembah Allah, akan tetapi hukuman bencana yang dijatuhkan kepada kaum nabi-nabi itu berbeda-beda.
Nabi Luth menyalahkan kaumnya melakukan hubungan seksual yang immoral. Lagi-lagi mesti ditetapkan bahwa hukuman bencana yang dijatuhkan kepada kaum Nabi Luth ini tetap diberikan oleh Allah meskipun Nabi Luth berusaha menyelamatkan mereka dan hanya Nabi Luth sajalah yang selamat dan orang-orang yang besertanya.
Baca juga: John Louis Esposito: Islam Terbukti Merupakan Agama yang Lebih Toleran
Pada konteks kekinian ada hal penting yang perlu dicatat bahwa biasanya seorang Nabi atau Rasul itu dikirim oleh Allah untuk membawakan ajaran monoteisme kepada bangsanya.
Bentuk umum kisah itu memberitahukan bagaimana setelah nabi mengajak bangsanya untuk beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya serta siap sedia berkorban menghambakkan diri kepada Allah satu-satunya yang tunggal dan Maha Esa.
Namun mereka itu mengingkari pesan risalah nabinya dan lalu mereka ditimpa oleh bencana yang menghancurkan suatu bangsa tertentu itu.
Pada QS 7 , 11, dan 25, ada hitungan paralel Nabi Luth, Nabi Nuh dan tiga nabi dari bangsa Arab: Hud, Salih dan Syu'aib; dan ada acuan-acuan lebih ringkas terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi tersebut di manapun berada; terkadang Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain, dan seterusnya.
Baca juga: Hubungan Muslim-Kristen dan Perang Salib Menurut John L Esposito
Pada QS 7: 59-64, menceritakan kisah Nabi Nuh AS, dari awal sampai akhir sebagaimana di bawah ini:
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya."(Sesungguhnya kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kamu berada dalam kesesatan yang nyata."
Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam."
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui melalui wahyu dari Allah."
"Dan apakah kamu tidak percaya dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertaqwa dan supaya kamu mendapat rahmat."
"Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."
Nabi-nabi bangsa Arab di atas, sama-sama menyeru bangsanya masing-masing untuk beriman kepada Allah dan hanya menyembah Allah, akan tetapi hukuman bencana yang dijatuhkan kepada kaum nabi-nabi itu berbeda-beda.
Nabi Luth menyalahkan kaumnya melakukan hubungan seksual yang immoral. Lagi-lagi mesti ditetapkan bahwa hukuman bencana yang dijatuhkan kepada kaum Nabi Luth ini tetap diberikan oleh Allah meskipun Nabi Luth berusaha menyelamatkan mereka dan hanya Nabi Luth sajalah yang selamat dan orang-orang yang besertanya.
Baca juga: John Louis Esposito: Islam Terbukti Merupakan Agama yang Lebih Toleran
Pada konteks kekinian ada hal penting yang perlu dicatat bahwa biasanya seorang Nabi atau Rasul itu dikirim oleh Allah untuk membawakan ajaran monoteisme kepada bangsanya.
Lihat Juga :