Kekhalifahan Dinasti Fatimiyah : Pendiri, Sejarah, dan Kekayaan
Sabtu, 31 Desember 2022 - 01:01 WIB
loading...
A
A
A
Sehingga secara umum bisa disebut bahwa Dinasti Fatimiyah pernah merasakan menguasai kota Raqadah, al-Mahdiyah, dan Kairo dibawah kepemimpinan 14 khalifah selama 262 tahun yaitu sejak tahun 909 yakni masa masa awal pendirian hingga 1171 saat kehancurannya. Kejayaan itu dapat dilihat dalam bidang agama dengan toleransi yang tinggi, pendidikan dengan pembangunan universitas, dan perpustakaan. kebudayaan dan peradaban dengan kota Kairo sebagai bukti, arsitektur dengan masjid al-Azhar dan kesenian dengan produk tekstil, tenunan, keramik dan penjilidan.
Di sisi lain, dalam Jerusalem: The Biography, disebutkan bahwa dalam perspektif Islam, justru Fatimiyah tidak menerapkan sistem yang longgar bagi orang-orang Sunni atau Ahlussunnah. Sunni dipaksa menyebutkan nama-nama kahlifah Fatimiyah dalam setiap khutbah Jumat, orang-orang Syiah Ismailiyah diperbolehkan bahkan dimotivasi untuk berkunjung ke Jerusalem, sedangkan orang-orang Sunni dilarang melakukan hal itu.
The History of Islam menyebutkan bahwa secara keseluruhan, masa pemerintahan Fatimiyah adalah penderitaan dan kesusahan bagi Ahlussunnah, lantaran mereka melakukan kezaliman pada Ahlussunah. Puncaknya terjadi pada masa khalifah Fatimiyah dipegang oleh al-Hakim bi Amrillah (996-1021 M), ia kerap menyiksa orang-orang selain dari Syiah Ismailiyah termasuk juga orang-orang Yahudi dan Kristen. Semua gereja dan sinagog di Jerusalem dihancurkan atau minimal ditutup, sampai-sampai orang-orang Yahudi dan Kristen harus berpura-pura menganut agama Syiah Ismailiyah.
Kekayaan peninggalan Fatimiyah sangat luar biasa. Abati Hawa, dalam Dinasti Fatimiyah, mencatat bahwa kemajuan bangunan fisik sungguh luar biasa. Indikasi-indikasi kemajuan tersebut dapat diketahui dari banyaknya bangunan-bangunan yang dibangun berupa masjid-masjid, universitas, rumah sakit dan penginapan megah. Jalan-jalan utama dibangun dan dilengkapi dengan lampu warna-warni, dalam bidang industri telah dicapai kemajuan besar khususnya yang berkaitan dengan militer seperti alat-alat perang, kapal dan sebagainya.
Setelah masa keemasan itu, secara berangsur Fatimiyah mulai terlihat keruntuhannya. Kemunduran Daulah Fatimiyah dimulai ketika Khalifah al-Zahir wafat dan digantikan oleh anaknya yang masih berumur sebelas tahun, Ma’ad al-Muntashir. Ia berkuasa hampir selama enam puluh tahun, dari 1035-1094 M. Pada masa pemerintahannya wilayah Fatimiyah yang luas menyusut sedikit demi sedikit hingga lebih kecil dari wilayah Mesir sekarang. Pada masa itu kekacauan terjadi dimana-mana; kericuhan dan pertikaian terjadi di antara orang Turki, Barbar, dan Sudan, kekuasaan negara lumpuh, kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun pun melumpuhkan perekonomian negara.
Keadaan menyedihkan itu diakhiri oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada 1171 M, ia meruntuhkan Daulah Fatimiyah dan menjatuhkan khalifahnya yang terakhir. Dan harus diakui bahwa di antara peninggalan Daulah Fatimiyah yang paling berharga adalah Universitas al-Azhar. Meski semula mencetak sarjana-sarjana Syiah, namun kemudian diganti oleh Panglima Shalahuddin al-Ayyubi menjadi universitas yang mencetak tokoh-tokoh Sunni dan intelektual muslim terkemuka.
Baca juga: Dinasti Timuriyah, Kekaisaran yang Didirikan Sisa Pasukan Mongol yang Masuk Islam
Wallahu A'lam
Di sisi lain, dalam Jerusalem: The Biography, disebutkan bahwa dalam perspektif Islam, justru Fatimiyah tidak menerapkan sistem yang longgar bagi orang-orang Sunni atau Ahlussunnah. Sunni dipaksa menyebutkan nama-nama kahlifah Fatimiyah dalam setiap khutbah Jumat, orang-orang Syiah Ismailiyah diperbolehkan bahkan dimotivasi untuk berkunjung ke Jerusalem, sedangkan orang-orang Sunni dilarang melakukan hal itu.
The History of Islam menyebutkan bahwa secara keseluruhan, masa pemerintahan Fatimiyah adalah penderitaan dan kesusahan bagi Ahlussunnah, lantaran mereka melakukan kezaliman pada Ahlussunah. Puncaknya terjadi pada masa khalifah Fatimiyah dipegang oleh al-Hakim bi Amrillah (996-1021 M), ia kerap menyiksa orang-orang selain dari Syiah Ismailiyah termasuk juga orang-orang Yahudi dan Kristen. Semua gereja dan sinagog di Jerusalem dihancurkan atau minimal ditutup, sampai-sampai orang-orang Yahudi dan Kristen harus berpura-pura menganut agama Syiah Ismailiyah.
Kekayaan peninggalan Fatimiyah sangat luar biasa. Abati Hawa, dalam Dinasti Fatimiyah, mencatat bahwa kemajuan bangunan fisik sungguh luar biasa. Indikasi-indikasi kemajuan tersebut dapat diketahui dari banyaknya bangunan-bangunan yang dibangun berupa masjid-masjid, universitas, rumah sakit dan penginapan megah. Jalan-jalan utama dibangun dan dilengkapi dengan lampu warna-warni, dalam bidang industri telah dicapai kemajuan besar khususnya yang berkaitan dengan militer seperti alat-alat perang, kapal dan sebagainya.
Setelah masa keemasan itu, secara berangsur Fatimiyah mulai terlihat keruntuhannya. Kemunduran Daulah Fatimiyah dimulai ketika Khalifah al-Zahir wafat dan digantikan oleh anaknya yang masih berumur sebelas tahun, Ma’ad al-Muntashir. Ia berkuasa hampir selama enam puluh tahun, dari 1035-1094 M. Pada masa pemerintahannya wilayah Fatimiyah yang luas menyusut sedikit demi sedikit hingga lebih kecil dari wilayah Mesir sekarang. Pada masa itu kekacauan terjadi dimana-mana; kericuhan dan pertikaian terjadi di antara orang Turki, Barbar, dan Sudan, kekuasaan negara lumpuh, kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun pun melumpuhkan perekonomian negara.
Keadaan menyedihkan itu diakhiri oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada 1171 M, ia meruntuhkan Daulah Fatimiyah dan menjatuhkan khalifahnya yang terakhir. Dan harus diakui bahwa di antara peninggalan Daulah Fatimiyah yang paling berharga adalah Universitas al-Azhar. Meski semula mencetak sarjana-sarjana Syiah, namun kemudian diganti oleh Panglima Shalahuddin al-Ayyubi menjadi universitas yang mencetak tokoh-tokoh Sunni dan intelektual muslim terkemuka.
Baca juga: Dinasti Timuriyah, Kekaisaran yang Didirikan Sisa Pasukan Mongol yang Masuk Islam
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :