Sejarah Perang Khandaq: 3.000 Muslim Pukul Mundur 10.000 Pasukan Kafir
Selasa, 10 Januari 2023 - 14:46 WIB
loading...
A
A
A
Mereka berkata kepada orang-orang Quraisy: sesungguhnya agama kalian lebih baik dari agama Muhammad. Setelah itu, mereka menghadap kelompok Ghatafan, Kaisan, Ilan, Bani Marrah, dan Asja’, dan mengajaknya untuk berperang ke Madinah, maka kedua kelompok (kafir penyembah barhala, dan ahli kitab) sepakat untuk membentuk tentara di bawah kepemimpinan Abu Sufyan”.
Rencana jahat itu terdengar oleh kaum Muslimin, dan disampaikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian Nabi mengajak para sahabat untuk bermusyawarah.
Dalam musyawarah itu, Salman al-Farisi menawarkan sebuah gagasan yang cemerlang. Seorang sahabat pendatang dari Persia itu mengusulkan agar kaum Muslimin menggali parit di wilayah utara kota Madinah, yaitu daerah yang bisa menghubungkan antara kedua ujung daerah Harran Waqim dan Harrah al-Wabrah.
Daerah ini juga merupakan satu-satunya jalan terbuka di hadapan pasukan musuh. Sedangkan sisi lainnya sudah menjadi benteng, karena terdapat gunung-gunung tinggi, yang dipenuhi pohon kecil, dan dikelilingi pohon-pohon kurma, sehingga bisa menyulitkan unta dan pejalan kaki untuk melewatinya.
Baca juga: Kisah Segantang Gandum dan Seekor Anak Kambing untuk Seluruh Pasukan Khandaq
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya yang telah dialihbahasakan Mahyuddin Syaf dkk dengan judul "Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah" mengisahkan pengepungan Madinah dimulai pada 31 Maret 627 dan berakhir setelah 27 hari.
Kaum kafir Quraish telah mengatur siasat dan taktik perang secara licik. Tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar. Sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerangnya dari dalam yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimin. Lewat cara ini pasukan musuh memprediksi pasukan Islam akan terjepit dari dua arah.
Nah, pada hari itu tentara yang besar mendekati kota Madinah. Mereka membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap.
Kaum muslimin panik. Mereka bagai kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut: Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kekerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. ( QS al-Ahzab :10)
Ribuan orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn merangsek menuju Kota Madinah. Pasukan ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka.
Rencana jahat itu terdengar oleh kaum Muslimin, dan disampaikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian Nabi mengajak para sahabat untuk bermusyawarah.
Dalam musyawarah itu, Salman al-Farisi menawarkan sebuah gagasan yang cemerlang. Seorang sahabat pendatang dari Persia itu mengusulkan agar kaum Muslimin menggali parit di wilayah utara kota Madinah, yaitu daerah yang bisa menghubungkan antara kedua ujung daerah Harran Waqim dan Harrah al-Wabrah.
Daerah ini juga merupakan satu-satunya jalan terbuka di hadapan pasukan musuh. Sedangkan sisi lainnya sudah menjadi benteng, karena terdapat gunung-gunung tinggi, yang dipenuhi pohon kecil, dan dikelilingi pohon-pohon kurma, sehingga bisa menyulitkan unta dan pejalan kaki untuk melewatinya.
Baca juga: Kisah Segantang Gandum dan Seekor Anak Kambing untuk Seluruh Pasukan Khandaq
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya yang telah dialihbahasakan Mahyuddin Syaf dkk dengan judul "Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah" mengisahkan pengepungan Madinah dimulai pada 31 Maret 627 dan berakhir setelah 27 hari.
Kaum kafir Quraish telah mengatur siasat dan taktik perang secara licik. Tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar. Sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerangnya dari dalam yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimin. Lewat cara ini pasukan musuh memprediksi pasukan Islam akan terjepit dari dua arah.
Nah, pada hari itu tentara yang besar mendekati kota Madinah. Mereka membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap.
Kaum muslimin panik. Mereka bagai kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut: Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kekerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. ( QS al-Ahzab :10)
Ribuan orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn merangsek menuju Kota Madinah. Pasukan ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka.
Lihat Juga :