Catatan Hari Keempat Puasa Ramadhan

Puasa itu Proses Menghadirkan Allah

loading...
Puasa itu Proses Menghadirkan Allah
Puasa itu Proses Menghadirkan Allah
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Dalam Alquran, secara khusus Allah SWT memanggil orang-orang beriman untuk berpuasa, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bwrpuasa” (Al-Baqarah: 183). Dalam sebuah hadist juga disebutkan, “Puasa adalah untukKu, dan saya yang Akan membalas puasa orang yang berpuasa”.
Panggilan khusus untuk mereka yang beriman dan diakuinya puasa sebagai milik Allah mengindikasika secara kuat bahwa puasa adalah amalan ibadah yang bersifat personal atau private dengan Allah SWT. Dalam melakukannya tidak ada sama sekali orang ketiga yang terlibat. (Baca Juga: Puasa itu Pintu Kasih Sayang)

Ketika anda salat, gerakan-gerakan itu nampak kepada orang lain. Ketika anda berzakat, minimal yang memberi dan menerima ikut terlibat. Ketika haji bahkan jutaan yang menyaksikan. Tapi puasa benar-benar hanya antara pelaku dan Tuhannya yang menjadi saksi.

Di sinilah kemudian puasa berfungsi sebagai pembuka pintu lebar untuk hadirnya Allah dalam hidup pelakunya. Seorang yang berpuasa akan melatih diri untuk bersama denganNya. Dengan puasa terbangun kesadaran “kebersamaan” dengan Dia yang melihat apa yang tidak nampak maupun yang memang nampak.

Di situlah kemudian secara terjadi proses ke sebuah situasi mental (mental state) yang merasakan terus menerus “mahabatullah” (kebesaran) Allah dalam hidupnya. Ketika Allah telah hadir bersamanya di setiap masa dan keadaan, maka saat itu dalam dirinya tumbuh kekuatan yang belum pernah bahkan tidak pernah dibayangkan.



Akan terbangun kekuatan dahsyat yang boleh jadi berada di luar dugaan. Di situlah salah satu rahasia kenapa dalam perjalanan sejarah Islam, banyak kemenangan-kemenangan umat ini justeru terjadi di bulan Ramadhan.

Kemenangan di perang Badar misalnya adalah kemenangan yang terjadi di luar dugaan dan kalkulasi manusia. Dengan jumlah prajurit dan persenjataan yang jauh lebih kecil, Rasulullah SAW mengalahkan musuh yang berkekuatan tiga kali lipat itu.

Hal itu dikarenanakan kekuatan umat ini tidak selalu bersandar kepada kekuatan materi dan fisik. Tapi lebih penting, kekuatan umat itu terbangun di atas soliditas ruhiyahnya. Yang dengan puasa kekuatan itu semakin solid.



Kehadiran atau kebersamaan dengan Allah (ma’iyatullah) juga akan membangun ketenangan hidup. Percayalah, hidup ini penuh dengan hiruk pikuk, goncangan dan tantangan. Seseorang yang lemah dan kurang siap menghadapi perubahan dan goncangan itu pasti akan terombang-ombang di tengah samudra pergerakannya.
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
اَلَمۡ تَرَ اِلَى الَّذِيۡنَ تَوَلَّوۡا قَوۡمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيۡهِمؕۡ مَّا هُمۡ مِّنۡكُمۡ وَلَا مِنۡهُمۡۙ وَيَحۡلِفُوۡنَ عَلَى الۡكَذِبِ وَهُمۡ يَعۡلَمُوۡنَ
Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari kaummu dan bukan dari kaum mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahuinya.

(QS. Al-Mujadilah:14)
cover bottom ayah
preload video