Puasa Ramadhan Itu Pengakuan Otoritas Ilahi

Sabtu, 18 Mei 2019 - 07:15 WIB
Puasa Ramadhan Itu Pengakuan Otoritas Ilahi
Puasa Ramadhan Itu Pengakuan Otoritas Ilahi
A A A
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation

Salah satu kekeliruan besar manusia adalah perasaan kepemilikan (ownership) dalam hidup. Padahal sejatinya segala sesuatu dalam hidup duniawi kita bersifat amanah (titipan). Titipan, bukan kepemilikan.

Oleh karena itu bagi orang beriman, hidup ini di satu sisi tidak boleh diakui. Namun di sisi lain harus dipekihara dan dijaga baik-baik. (Baca Juga: Puasa Ramadan Itu Menata Hati)

Ungkapan Alqur'an: "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun" (kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepadaNyalah kami kembali) bukan sekadar ungkapan kesedihan di saat ada musibah atau kematian. Tapi sesungguhnya adalah filsafat hidup. Bahkan fondasi dan wawasan (world view) hidup itu sendiri.

Alam semesta dan segala isinya, semuanya ada dalam milik Allah SWT. Dan dengan sendirinya semuanya berada di bawah otoritas (kekuasaan) Allah.

Ayat-ayat dalam Alqur'an seperti: "Bagi Allah segala yang di langit dan di bumi" atau "bagi Allah kerajaan langit dan bumi" berulang kali diungkap dalam Alqur'an.

Merupakan penegasan bahwa "Al-Mulk" (kerajaan) dan Al-Milkiyah" (kepemilikan) untuk Allah adalah bagian dari akidah tauhid kita.

Yaitu meyakinkan bahwa kepemilikan absolut dan otoritas tunggal yang sejati adalah Allah. Selainnya adalah pinjaman dan bersifat semu.

Kekeliruan dalam memahami "tauhid milkiyah" atau ketauhidan dalam hal kepemilikan ini menimbulkan konsekwensi-konsekwensi negatif dalam kehidupan.

Ketika kita masih berada di pihak yang menguntungkan, sedang di atas angin, seseorang biasanya membusungkan dada. Seolah semua yang ada pada dirinya adalah miliknya.

Akibatnya mereka yang belum beruntung di sekitarnya dipandang rendah. Di sisi lain bahkan membangun karakter kekikiran (greed) yang luar biasa.

Ini yang pernah terjadi kepada orang kaya seperti Qarun. Kekayaannya diakui sebagai kepemilikannya, dan dihasilkan karena skill atau kemampuan yang dimilikinya (ilmun 'indii).

Sebaliknya, jika hal yang terjadi adalah ketidak beruntungan (unfortunate), seseorang itu akan merasakan kepedihan berlebihan. Bahkan menumbuhkan amarah, jika tidak pada orang lain, akan marah pada dirinya sendiri.

Di sinilah seringkali membawa kepada tindakan fatal, termasuk membinasakan diri sendiri (bunuh diri). (Baca Juga: Pujian Itu Beracun, Berhati-hatilah!)

Konon kabarnya tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di kalangan orang-orang yang justeru secara ilmu dan teknologi dan harta lebih maju. Jepang dan Korea misalnya adalah negara-negara dengan tingkat bunuh diri yang relatif tinggi.

Di Amerika juga permasalahan mentalitas (mental problem) justeru galibnya terjadi di kalangan mereka yang kaya, populer, dan diasumsikan pintar. Tidak mengejutkan jika penghuni Hollywood misalnya adalah orang-orang yang sering keluar masuk fasilitas rehabilitasi mental.

Di sinilah puasa memainkan peranan krusial dalam menetralisir kemungkinan penyakit "perasaan memilki" itu. Puasa menanamkan pada pelakunya untuk menyadari bahwa di atas dirinya ada "Pemilik Mutlak" atau pemilik sejati.

Dialah yang mencipta, menguasasi, merajai dan punya kuasa untuk mengatur dalam segalanya. "Maha Suci yang di tanganNya terletak kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu" (Al-Mulk).

Artinya Allah itu tidak saja memilki. Tapi memilki kekuasaan atas kepemilikan itu. Sebab ada orang yang (merasa) memiliki tapi tidak punya kuasa atas kepemilikanya.

Mari kita bekajar dari sepasang suami isteri sahabat Rasulullah SAW, yang sangat miskin, dengan seorang anak yang masih kecil. Seolah dalam hidup mereka tak ada lagi kegembiraan selain sang anak itu.

Tiba-tiba suatu ketika sang anak jatuh sakit keras. Penyakit yang hanya akan sembuh dengan kepasrahan. Tiada dokter, tiada obat-obatan. Apalagi mereka adalah keluarga miskin.
Halaman :
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0967 seconds (10.177#12.26)