Surga Menanti Mereka yang Berhasil Menjaga Lisan

loading...
Surga Menanti Mereka yang Berhasil Menjaga Lisan
Surga Menanti Mereka yang Berhasil Menjaga Lisan
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pembimbing Haji Nusantara USA

Salah satu bentuk sumpah yang tertera dalam Alqur'an adalah: "Demi lidah dan kedua bibir"”.

Ayat itu menunjukkan bahwa lidah dan kedua bibir begitu penting dalam kehidupan manusia. Tidak saja karena lisan bibir manusia mampu merasakan kelezatan makanan, tapi yang terpenting dari semua itu bahwa lidah dan kedua bibir adalah alat komunikasi terpenting bagi manusia.

Konon dengan lidah itulah peperangan dan saling membunuh di antara manusia terjadi. Sebaliknya dengan lidah pula perdamaian dunia dapat diwujudkan.

Dan karenanya mengkomunikasikan detak pikiran, bahkan kebenaran sekalipun, akan nampak sesuai komunikasi yang mendasari.

Saya sering mengatakan dan mungkin ini berlebihan, tapi rasanya sesuai realita kasus yang terjadi dalam masyarakat. Bahwa kebenaran yang disampaikan dengan komunikasi yang salah, akan nampak sebagai kesalahan.

Inilah salah satu rahasia kenapa penekanan dakwah dalam Islam bukan pada "apanya" (materinya). Tapi justru pada bagaimana (metode) dalam menyampaikan dakwah tersebut.

Peringatan atau perintah Allah dalam Alqur'an: "Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah", salah satu penekanan urgensi menjaga komunikasi dalam menyampaikan kebenaran.

Kata hikmah menunjukkan sebuah sikap keilmuan yang matang, dalam, luas dan tentunya berkesesuaian (appropriate) dengan segala keadaan terkait.

Maka hikmah menjadi tingkatan keilmuan tertinggi. "Dan Barangsiapa yang diberikan kepadanya hikmah, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak".

Ayat-ayat pertama Surah Ar-Rahman sering saya sebut sebagai pilar hidup manusia.

Ada empat pilar yang disebut:
1) Ar-Rahman. Bahwa hidup manusia semuanya terikat oleh kasih Allah. Tercipta, terlahir, mendapat hidayah, hingga masuk syurga sekalipun semuanya hanya karena 'Ar-Rahmah' (kasih sayang Allah).

2) Allama Alqur'an. Manusia boleh hidup. Manusia boleh sukses dalam pandangannya. Boleh kaya, kuat, bahkan merajai dunia dan manusia lainnya. Tapi tanpa Alqur'an semua itu menjadi hampa dan semu. Hidup akan lebih bermakna walau satu malam jika dituntun oleh Alqur'an. Wajar satu malam Al-Qadr itu lebih baik dari seribu malam.

3) Khalaqa Al-Insan. Manusia hanya bisa hidup secara baik dan bermakna jika sadar diri. Bahwa dia ciptaan, bukan pencipta. Dia dimiliki bukan pemilik. Dia diberi bukan pemberi. Dia terikat dalam fitrah. Ketika manusia tidak terikat lagi oleh fitrah, tunggu al-fasaad di permukaan bumi (zhoharal fasaadu).

4) Allamahu Al-Bayaan. Pilar keempat hidup manusia adalah Al-Bayaan (komunikasi). Manusia itu makhluk sosial. Manusia hanya menjadi manusia yang baik ketika bisa mengekspresikan (mengkomunikasikan) diri dalam lingkungan sosialnya secara baik.

Karenanya berkomunikasi secara proporsional dan baik menjadi sangat mendasar dalam membangun kehidupan harmoni. Apalagi dalam dunia di mana informasi begitu sangat terbuka. Dan keterbukaan ini seringkali dibarengi oleh sikap 'lack of responsibility' (minim tanggung jawab).

Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya mengingatkan bagaimana urgensinya menjaga lisan. Bahkan beliau menjamin surga bagi mereka yang berhasil menjaga lisannya.

Beliau sendiri adalah komunikator ulung yang luar biasa. Kata-katanya sederhana, singkat tapi padat dan penuh hikmah. Tapi yang terpenting selalu berkesesuaian (appropriate). Beliau menyampaikan kata-kata selalu disesuaikan dengan pendengarnya tanpa mengurangi nilai kebenarannya.

Ibrahim AS juga menjadi contoh bagaimana menjaga kemungkinan 'kerusakan' (damage control) yang beliau lakukan dalam berkomunikasi. Beliau memiliki kapasitas diplomasi yang tinggi.

Hal itu kita pahami dari jawaban beliau kepada Namrud: "Wahai Ibrahim engkaukah yang melakukan (merusak) kepada tuhan-tuhan kami?".
halaman ke-1
preload video