Keutamaan Menikah dan 4 Kriteria Memilih Perempuan

loading...
Keutamaan Menikah dan 4 Kriteria Memilih Perempuan
Keutamaan Menikah dan 4 Kriteria Memilih Perempuan
Menikah adalah sunnatullah sebagaimana Allah Ta'ala memerintahkan para hamba­Nya untuk menikah dan melarang melakukan zina.

Dalam Alqur'an, Allah Ta'ala berfirman: "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS An-Nuur: 32)

Nikah menurut bahasa artinya menghimpun atau menyatu. Dalam istilah syara', menikah adalah suatu akad yang menyebabkan bolehnya (halalnya) bersetubuh dengan istri. Menikah adalah fitrah manusia dan merupakan sumber kebahagiaan.

Dalam satu hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW), Beliau bersabda: "Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang yaitu: memiliki istri salehah, memiliki anak-anak yang baik akhlaknya, bergaul dengan orang-orang saleh dan memperoleh rezeki di negeri sendiri."



Dalam Kitab Qurrotul 'Uyun karya Syeikh Muhammad at-Tahami Ibnu Madani yang kemudian ditulis sebagai syarah (uraian penjelasan) oleh Ibnu Yamun dijelaskan keutamaan menikah.

Sebelum membahas lebih jauh tentang keutamaan menikah, ada baiknya kita ketahui dulu apa saja hukum-hukum menikah menurut syariat. Berikut 5 hukumnya:

1. Wajib, bagi orang yang mengharapkan keturunan, takut akan berbuat zina jika tidak nikah.
2. Sunnah, bagi orang yang mengharapkan keturunan, dan ia tidak takut akan berbuat zina jika tidak enikah, baik dia ingin atau tidak, meskipun pernikahannya akan memutuskan ibadah yang tidak wajib.
3. Makruh, bagi orang yang tidak ingin menikah dan tidak mengharapkan keturunan, serta pernikahannya dapat memutuskan ibadah yang tidak wajib.
4. Mubah, bagi orang yang tidak takut melakukan zina, tidak mengharapkan keturunan,dan tidak memutuskan ibadah yang tidak wajib.
5. Haram, bagi orang yang membahayakan wanita, karena tidak mampu melakukan senggama, tidak mampu memberi nafkah atau memiliki pekerjaan haram, meskipun ia ingin menikah dan tidak takut berbuat zina.



Sebuah pelajaran diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa seorang laki­kali datang menghadap Rasulullah SAW. Laki­laki itu bernama Ukaf. Nabi bertanya kepadanya: "Hai Ukaf, apakah engkau sudah mempunyai istri? Ukaf menjawab: 'Belum'. Beliau bertanya lagi: "Apakah engkau mempunyai budak perempuan? Ukaf menjawab: "Tidak".
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
سُبۡحٰنَ الَّذِىۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَمِنۡ اَنۡفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُوۡنَ‏
Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

(QS. Yasin:36)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video