Khaizuran, Perempuan Pertama yang Menginisiasi Perayaan Maulid di Makkah-Madinah

loading...
Khaizuran, Perempuan Pertama yang Menginisiasi Perayaan Maulid di Makkah-Madinah
Khaizuran, Perempuan Pertama yang Menginisiasi Perayaan Maulid di Makkah-Madinah
KH Miftahur Rahman el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Alqur'an

Sejak abad kedua hijriyah, kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah dirayakan oleh masyarakat muslim. Berdasarkan catatan Nur ad-Din 'Ali dalam kitabnya, Wafaul Wafa bi Akhbar Dar al-Musthafa, dikatakan bahwa Khaizuran (170 H/786 M), ibu dari Amirul Mukminin Musa Al-Hadi dan Khalifah Harun Al-Rasyid, datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan Maulid Nabi di Masjid Nabawi.

Ia datang ke Makkah dan kemudian memerintahkan agar penduduknya menyelenggarakan Maulid Nabi di rumah-rumah mereka. Keterangan itu dikemukan juga oleh HMH Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya "Sekitar Maulid Nabi SAW dan Dasar Hukum Syariatnya".

Khaizuran merupakan sosok yang berpengaruh selama masa pemerintahan Khalifah Dinasti Abassyiah, yaitu pada masa pemerintahan Al-Mahdi bin Al-Mansur Al-Abbas (suami), Khalifah Al-Hadi dan Khalifah Harun Al-Rasyid (kedua putranya). Melalui 'pengaruh' –Khaizuran menginstruksikan kelahiran Nabi SAW, Al-Azraqi mengatakan bahwa Kota Makkah memiliki satu sudut istimewa yang sangat dianjurkan dijadikan tempat salat. Tempat itu adalah tempat Rasulullah SAW dilahirkan. Tempat itu, menurut Al-Azraqi kemudian dialihfungsikan oleh Khaizuran.



Dari dua catatan sejarah ini, tampak bahwa Khaizuran mempunyai perhatian tersendiri pada aspek-aspek yang berhubungan dengan Rasulullah SAW. Khaizuran merayakan hari kelahiran Nabi, seperti yang disebut oleh Nur ad-Din 'Ali dalam Wafaul Wafa bi Akhbar Dar Al-Musthafa. Tempat kelahiran Nabi dijadikan masjid sebagaimana yang disebutkan oleh al-Azraqi.

Ibnu Jubair (540 H) memberikan informasi tambahan bahwa Khaizuran mempunyai perhatian terhadap situs-situs sejarah yang berhubungan dengan Nabi SAW. Informasi Al-Azraqi dan Ibnu Jubair ini menguatkan catatan Nur ad-Din 'Ali di atas tentang peran penting Khaizuran dalam memprakarsai penghormatan dan pemeliharaan situs-situs Nabi Saw.

Khaizuran bin 'Atha' (Wafat 173 H) dan Akulturasi Budaya Persia
Khaizuran adalah seorang perempuan terpelajar. Namanya terukir dalam catatan sejarah. Kitab Tarikh Badghad, Tarikh Thabari, Al-Bidayah wa Al-Nihayah, Kamil fi Tarikh, Syadzarad Zahab, Qamus al-Muhith, menjadi sebagian kitab yang mengabadikan namanya. Semula ia adalah seorang budak. Dia dibeli dan dimerdekakan oleh Khalifah Al-Mahdi bin Mansur Al-Abbas pada tahun 159 H. Khalifah kemudian menikahinya, Khaizuran memiliki paras jelita, menawan, berkharisma, cerdas, dan berwawasan luas.



Ia termasuk wanita yang menguasai Fiqh secara mendalam. Khaizuran mendalami Fiqh di bawah asuhan Imam 'Auza'i. Ia juga berguru pada Imam Sofian Al-Tsauri. Karena kepribadiannya yang menawan itu, Al-Mahdi sangat mencintai Khaizuran. Al-Mahdi tidak pernah bisa jauh dari istrinya. Seperti pada saat Khaizuran menunaikan ibadah haji di Mekkah. Sedangkan al-Mahdi di Baghdad.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

(QS. Ar-Rahman:13)
cover bottom ayah
preload video