Muhammad SAW Sang Mutiara (4)

loading...
Muhammad SAW Sang Mutiara (4)
Muhammad SAW Sang Mutiara (4)
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA

Biasanya saya membagi kategori sunnah baik secara fungsional maupun secara substantif dalam kehidupan manusia kepada empat bagian. Sunnah dalam urusan teologi (akidah keimanan). Sunnah dalam urusan ubudiyah (ritual). Sunnah dalam urusan pribadi atau prilaku pribadi yang lebih populer dengan istilah akhlak, termasuk di dalamnya urusan kekeluargaan. Dan Sunnah dalam urusan publik dan hubungan internasional.

Bersunnah dalam Urusan Keimanan
Yang saya maksudkan dengan sunnah dalam urusan keimanan adalah menjadikan Rasulullah SAW sebagai tauladan dalam mewujudkan keimanannya dalam kehidupan nyata. Bahwa keimanan Rasulullah bukan keimanan biasa yang umumnya merupakan pengakuan. Tapi dalam defenisi beliau SAW sendiri: "Tertanam kokoh dalam hati dan dibuktikan oleh amal".

Keimanan seperti ini akan nampak ketika sedang teruji oleh keadaan. Ketika umat terbelakang, bodoh, gampang gontok-gontokan, minder dan mau dihinakan, maupun keadaan menyedihkan lainnya berarti ada ketidak sesuaian dengan cara Rasulullah mengimani kebenaran ini.

Rasulullah dalam mengimani kebenaran ini diimani sebagai api perubahan. Dengan Islam ini Rasulullah bertekad melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan. Dengan Islam kesemrawutan hidup menjadi terinstitusional secara rapih. Kemiskinan kepada kemakmuran, kebodohan kepada intelektualitas, permusuhan dan peperangan kepada ukhuwah dan kedamaian.



Keimanan sejati kepada kebenaran Islam juga akan teruji pada situasi yang kurang menguntungkan. Di saat tantangan dan kesulitan menghadang dalam Perjalanan kepada Ilahi. Di saat itulah iman akan menampakkan diri, benar (Shadiq) atau justeru kepura-puraan (hypocrisy).

Kita diingatkan bagaimana keimanan Rasulullah terbukti kokoh, bagaikan batu karam di tengah Samudra luas. Tidak goyah, tidak minder. Tapi justeru tegar menghadapi terpaan ombak itu.

Allah pun menegaskan itu: "Apakah manusia dibiarkan mengaku beriman tanpa diuji? Sungguh Kami telah menguji mereka yang sebelum untuk Allah ketahui (buktikan) mana yang jujur (dalam keimanan) dan mana yang berdusta (tentang iman)".



Satu contoh populer ketegaran yang sering kita baca atau dengarkan dari para penceramah adalah kisah Rasul dalam sebuah peperangan. Di saat ada kesempatan untuk rehat dari kepenatan perang yang dahsyat, beliau tiba-tiba tertidur sendirian di bawah sebuah pohon. Jauh dari perhatian sahabat-sahabat beliau.
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ‌ۚ وَّلَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌۙۢ بِمَا كَانُوۡا يَكۡذِبُوۡنَ‏
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.

(QS. Al-Baqarah:10)
cover bottom ayah
preload video