Muhammad SAW Sang Mutiara (4)

Kamis, 28 November 2019 - 20:55 WIB
Muhammad SAW Sang Mutiara (4)
Muhammad SAW Sang Mutiara (4)
A A A
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA

Biasanya saya membagi kategori sunnah baik secara fungsional maupun secara substantif dalam kehidupan manusia kepada empat bagian. Sunnah dalam urusan teologi (akidah keimanan). Sunnah dalam urusan ubudiyah (ritual). Sunnah dalam urusan pribadi atau prilaku pribadi yang lebih populer dengan istilah akhlak, termasuk di dalamnya urusan kekeluargaan. Dan Sunnah dalam urusan publik dan hubungan internasional.

Bersunnah dalam Urusan Keimanan
Yang saya maksudkan dengan sunnah dalam urusan keimanan adalah menjadikan Rasulullah SAW sebagai tauladan dalam mewujudkan keimanannya dalam kehidupan nyata. Bahwa keimanan Rasulullah bukan keimanan biasa yang umumnya merupakan pengakuan. Tapi dalam defenisi beliau SAW sendiri: "Tertanam kokoh dalam hati dan dibuktikan oleh amal".

Keimanan seperti ini akan nampak ketika sedang teruji oleh keadaan. Ketika umat terbelakang, bodoh, gampang gontok-gontokan, minder dan mau dihinakan, maupun keadaan menyedihkan lainnya berarti ada ketidak sesuaian dengan cara Rasulullah mengimani kebenaran ini.

Rasulullah dalam mengimani kebenaran ini diimani sebagai api perubahan. Dengan Islam ini Rasulullah bertekad melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan. Dengan Islam kesemrawutan hidup menjadi terinstitusional secara rapih. Kemiskinan kepada kemakmuran, kebodohan kepada intelektualitas, permusuhan dan peperangan kepada ukhuwah dan kedamaian.

Keimanan sejati kepada kebenaran Islam juga akan teruji pada situasi yang kurang menguntungkan. Di saat tantangan dan kesulitan menghadang dalam Perjalanan kepada Ilahi. Di saat itulah iman akan menampakkan diri, benar (Shadiq) atau justeru kepura-puraan (hypocrisy).

Kita diingatkan bagaimana keimanan Rasulullah terbukti kokoh, bagaikan batu karam di tengah Samudra luas. Tidak goyah, tidak minder. Tapi justeru tegar menghadapi terpaan ombak itu.

Allah pun menegaskan itu: "Apakah manusia dibiarkan mengaku beriman tanpa diuji? Sungguh Kami telah menguji mereka yang sebelum untuk Allah ketahui (buktikan) mana yang jujur (dalam keimanan) dan mana yang berdusta (tentang iman)".

Satu contoh populer ketegaran yang sering kita baca atau dengarkan dari para penceramah adalah kisah Rasul dalam sebuah peperangan. Di saat ada kesempatan untuk rehat dari kepenatan perang yang dahsyat, beliau tiba-tiba tertidur sendirian di bawah sebuah pohon. Jauh dari perhatian sahabat-sahabat beliau.

Di saat-saat seperti itu ternyata beliau sedang diintai oleh seorang musuh. Musuh itu tiba-tiba mendatangi beliau yang sedang tidur dan meletakkan pedangnya di dada beliau. Beliaupun terbangun dan terjadilah percakapan itu.

Kafir: Hai Muhammad, siapa yang akan menolongmu Sekarang?

Muhammad SAW: ALLAH! Dengan tatapan mata penuh percaya diri dalam tawakkal kepada si kafir itu. Jawaban beliau yang penuh kharisma dan kepercayaan penuh itu menjadikan tangan sang kafir itu gemetar dan pedang yang dipegang di atas dada Rasulullah SAW tiba-tiba terjatuh.

Rasulullah SAW dengan sigap mengambil pedang itu, diarahkan ke lehernya lalu bertanya: "Sekarang siapa yang akan menolongmu?".

Sang kafir yang sudah ketakutan itu menjawab: "Siapa lagi kalau bukan engkau wahai Muhammad".

Sang Rasul yang diutus sebagai "rahmah" bagi seluruh manusia itu menjawab: "Baik. Pulanglah ke tempatmu".

Saya tidak melanjutkan apa yang terjadi kemudian dengan cerita tentang ketegaran iman Muhammad SAW. Yang ingin saya ingatkan dengan kisah ini justru betapa iman beliau tak goncang oleh situasi apapun.

Sunnah dalam iman seperti inilah yang umat diperlukan. Iman yang tertransformasi dalam bentuk karya-karya dan inovasi-inovasi untuk merubah dunia ke arah yang lebih baik. Atau mungkin dalam istilah Alqur'an: "Minaz-Zhulumaat ilan Nuur" (dari kegelapan ke alam yang terang).

Di tengah meningginya tantangan terhadap Islam dan umat saat ini, keimanan Rasul inilah yang diperlukan. Komunitas Muslim di mana-mana menghadapi tantangan yang luar biasa. Baik itu karena rancangan orang lain, atau juga karena disebabkan oleh ulah mereka sendiri.

Di saat-saat seperti itulah tidak jarang umat ini goyah dan kehilangan pegangan. Goncang dalam keimanannya. Menciut dalam 'self confidence' (percaya diri). Bahkan menjadi minder dan terjangkiti penyakit 'inferiority complex' (merasa rendah dan tidak mampu).

Saya diingatkan sebuah pengalaman pribadi, dan ini satu dari beberapa pengalaman pribadi itu. Suatu hari saya diundang oleh Drew University untuk sebuah acara. Sebelum memasuki kampus universitas saya masuk ke sebuah Dunkin Donat untuk segelas kopi.

Saya memperhatikan anak muda yang melayani pelanggan (costumer) di kedai itu. Dia sangat kental berwajah Pakistan. Tapi nama di tanda pengenalnya (name tag) adalah "MO". Tentu Sebagai orang yang pernah tinggal di Pakistan tujuh tahun saya paham betul orang Pakistan.
Halaman :
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0879 seconds (10.101#12.26)