Defenisi Bahagia Menurut Rasulullah SAW

loading...
Defenisi Bahagia Menurut Rasulullah SAW
Defenisi Bahagia Menurut Rasulullah SAW
Semua manusia pasti menginginkan hidup bahagia. Namun, tak banyak yang mengetahui hakikat bahagia yang sesungguhnya. Ada yang berpura-pura bahagia, ada juga yang mengukurnya hanya dengan materi.

Dai muda lulusan Al-Azhar Al-Habib Geys bin Abdurrahman Assegafmenyampaikan definisi bahagia menurut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) saat mengisi kajian di Masjid Raya Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.

"Bahagia itu bukan seberapa harta yang dimiliki, tetapi bagaimana cara kita bersyukur kepada Allaah Ta'ala atas pemberian nikmat-Nya," kata Habib Geys.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:



لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Kaya (ghina') bukanlah diukur dengan banyaknya harta atau kemewahan dunia. Namun kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang bahagia itu selalu ingat Allah di kala sendirian. Ketika di keramaian juga ingat Allah Wa Ta'ala. Ketika Allah memberi masalah, jangan fokus pada masalahnya, tapi fokuslah pada Dzat yang memberikan masalah.



"Kalau kita tahu hidup hanya sesaat, kenapa harus sia-siakan waktu yang ada. Hiduplah tanpa kepura-puraan, tanpa harus menjadi orang lain," kata Habib Geys .
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
وَمَا عَلَّمۡنٰهُ الشِّعۡرَ وَمَا يَنۡۢبَغِىۡ لَهٗؕ اِنۡ هُوَ اِلَّا ذِكۡرٌ وَّقُرۡاٰنٌ مُّبِيۡنٌۙ
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas,

(QS. Yasin:69)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video