Hukum Meninggalkan Salat Jumat karena Wabah Corona

loading...
Hukum Meninggalkan Salat Jumat karena Wabah Corona
Hukum Meninggalkan Salat Jumat karena Wabah Corona
Ustaz Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an

Salat Jumat merupakan salat yang wajib dilaksanakan secara berjamaah oleh muslim yang sudah baligh, berakal, laki-laki, sehat, dan menetap. Salat Jumat merupakan pengganti salat Zuhur, sehingga kedudukannya sama seperti salat Zuhur.

Seiring penyebaran virus Corona di Indonesia yang kini korbannya mencapai sebanyak 227 kasus positif dan 19 meninggal dunia (data terbaru 18/3/2020).

Ada banyak muncul imbauan untuk menghindari kerumunan massa, termasuk imbauan untuk tidak melaksanakan salat Jumat berjamaah, akan tetapi cukup menggantinya dengan salat Zuhur di rumah saja. Nah, lantas apa dan bagaimana pandangan ulama terkait hukum meninggalkan salat Jumat yang disebabkan oleh satu keudzuran, misalnya terjadinya wabah penyakit semisal Corona?



Para ulama berbeda pendapat soal meninggalkan Salat Jumat akibat Corona. Perlu dicatat bahwa dalam setiap perbedaan "ikhtilaf fiqhiyyah" para ulama selalu memunculkan dua pendapat, boleh dan tidaknya. Mayoritas ulama membolehkannya, sedangkan sebagian ulama lainnya tidak memperbolehkan. Apa saja dan bagaimana dalil dan argumentasi mereka?

1. Pendapat Ulama yang Tidak Membolehkan Peniadaan Salat Jumat.
Para ulama yang tidak membolehkan peniadaan salat Jumat berjamaah berpegang pada beberapa dalil berikut:

Pertama, Firman Allah pada surah An-Nisa:



وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata." (An-Nisa': 102).

Pada ayat ini, Allah mensyariatkan salat berjamaah dalam keadaan perang. Artinya, kewajiban salat berjamaah dan salat Jumat tidak gugur dalam kondisi perang yang nyata, lalu bagaimana mungkin kewajiban itu gugur hanya karena kekhawatiran yang belum pasti, yaitu kekhawatiran terjangkit virus Corona?

Kedua, Firman Allah pada Surat Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Rum ayat 41)

Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa segala kerusakan, termasuk wabah dan penyakit merupakan perbuatan tangan manusia, dan adanya kerusakan itu ditujukan agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Dengan demikian, ayat di atas menjelaskan bahwa solusi untuk segala masalah ini adalah kembali kepada Allah dengan bertaubat, beristigfar, melaksanakan salat, dan berdoa, bukan dengan meniadakan kewajiban berupa salat berjamaah dan salat Jumat.

Ketiga, Hadis Nabi yang Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَجِبْ.

"Seorang lelaki buta mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu bertanya, ‘Ya Rasulullah! Tidak ada orang yang menuntun saya ke masjid?’ Dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar diperbolehkan shalat di rumah. Maka Rasulullah memberikan keringanan baginya. Ketika orang itu akan berpaling pulang, Rasulullah memanggilnya, 'Apakah kamu bisa mendengar panggilan salat?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah berkata, "Kalau begitu, jawablah (salatlah)!"
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
وَزَكَرِيَّاۤ اِذۡ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرۡنِىۡ فَرۡدًا وَّاَنۡتَ خَيۡرُ الۡوٰرِثِيۡنَ‌
Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.

(QS. Al-Anbiya:89)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video