Hari Peralihan Kiblat yang Dinanti-nanti Rasulullah

loading...
Hari Peralihan Kiblat yang Dinanti-nanti Rasulullah
Hari Peralihan Kiblat yang Dinanti-nanti Rasulullah
Bulan Sya’ban merupakan bulan yang sangat penting dalam kehidupan Muslim. Selain menjadi bulan yang dekat dengan Ramadhan dan sebagai bulan persiapan untuk menghadapi puasa, ada beberapa hal yang sering diperingati secara rutin setiap bulan Sya’ban, yaitu malam nisfu Sya’ban. Pada tahun ini, nisfu Sya’ban tahun ini jatuh pada Rabu, 8 April sampai malam Kamis, 9 April.

Selain malam Nisfu Sya’ban ada juga beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Sya’ban. Dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban? karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyebutkan ada tiga peristiwa penting yang berimbas pada kehidupan beragama seorang Muslim. Satu dari tiga peristiwa itu adalah kejadian peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram.

Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144 dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban.

Hanya saja, ada juga pendapat yang menyebut perubahan arah kiblat ini terjadi pada bulan Rajab tahun 12 Hijriyah (H). Ketika itu Rasulullah SAW sedang melaksanakan salat zuhur dengan menghadap ke arah Masjid al-Aqsha. Dalam riwayat lain saat shalat Ashar.



Lepas dari itu, peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun perihal peralihan kiblat itu seperti digambarkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 144 berikut.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.



Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah baru melaksanakan salat dua rekaat berjamaah di sebuah masjid di pinggiran kota Madinah. Dengan turunnya ayat itu, maka beliau segera menghentikan salat sebentar, kemudian beliau berputar 180 derajat menghadap arah baru, sehingga jamaah yang ikut salat itu terpaksa jalan memutar dan tetap berada di belakang Nabi. Untuk mempertahankan bukti sejarah, hingga kini, masjid tempat salat Nabi itu masih mempertahankan dua mimbar, satu menghadap ke Ka’bah dan satu lagi menghadap ke Baitul Maqdis, dan disebut dengan Masjid Qiblatain (dua kiblat).
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
بَدِيۡعُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ‌ؕ وَ اِذَا قَضٰٓى اَمۡرًا فَاِنَّمَا يَقُوۡلُ لَهٗ كُنۡ فَيَكُوۡنُ
(Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

(QS. Al-Baqarah:117)
cover bottom ayah
preload video