Dzulqarnain, Cermin Pemimpin Idola Rakyat

loading...
Dzulqarnain, Cermin Pemimpin Idola Rakyat
Dzulqarnain, Cermin Pemimpin Idola Rakyat
Al-Qur’an adalah kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa salam (SAW). Ia merupakan media interaksi antara Sang Khalik (Allah) dengan makhluk (hamba)-Nya. Dalam interaksi tersebut, Al-Qur’an menuturkan isi kandungannya dalam beberapa kategori tematik seperti; hal-hal yang berkaitan dengan tauhid dan keimanan, ibadah dan syari’ah (hukum), mu’amalah, ilmu dan akhlak, sejarah bangsa-bangsa terdahulu, kisah-kisah, dan lain sebagainya.

Kisah-kisah di dalam al-Qur’an secara sederhana dapat dipetakan menjadi 3 jenis. Pertama, kisah para Nabi (qashashal- anbiya’). Kedua, kisah para tokoh, baik secara individu maupun kelompok/golongan yang diceritakan dalam al-Qur’an; meliputi tokoh baik dan bijak maupun tokoh jahat dan ingkar. Ketiga, kisah yang terkait dengan berbagai macam peristiwa yang terjadi di masa Rasulullah SAW. Salah satu kisah dalam al-Qur’an yang termasuk jenis kedua yakni kisah Dzulqarnain, seorang tokoh yang bijak lagi beriman kepada Allah yang melakoni pengembaraan.

Al--Qur’an al-Karim mengisahkan Dzulqarnain dalam surat Al-Kahfi (18): 83-98. Sederetan ayat-ayat yang berjumlah 16 ayat itu menceritakan pokok-pokok kisah perjalanan Dzulqarnain dengan sangat menarik perhatian.

Al-Qur'an juga menguraikan cukup detail perihal sifat-sifat utama Dzulqarnain. Yakni pribadi bertauhid dan bertakwa, serta menjunjung tinggi nilai-nilai belas kasih dan keadilan.

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” (QS. Al Kahfi: 84).

Dzulqarnain adalah raja yang adil. Ketika Allah serahkan kewenangan kepadanya untuk berbuat yang dia suka kepada rakyatnya,

قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka” (QS. al Kahfi: 86)

Dzulqarnain tak berbuat sewenang-wenang, yang zalim dia beri hukuman, yang baik dia beri ganjaran.

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى? رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى? وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Berkata Dzulqarnain: “Adapun yang zalim, maka kami kan menghukumnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang pedih. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami perintah kepadanya yang mudah dari perintah-perintah kami” (QS. al Kahfi: 88).

Dzulqarnain melakukan sebuah ekspedisi. Seperti diterangkan Al-Qur'an, ia mempunyai tiga ekspedisi penting, yakni ke bumi belahan barat, timur, hingga akhirnya ke daerah-daerah yang terdapat barisan pegunungan. Ia senantiasa berhadapan dengan berbagai kaum pada setiap ekspedisi.

Terkait ekspedisi ini, sebagian ahli tafsir percaya Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju utara. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah gunung yang berapitan, yang menjadi penghalang antara Ya'juj dan Ma'juj dengan manusia.

Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir tidak mengerti dan memahami percakapan. Namun, Allah SWT memberi hidayah kepada Dzulqarnain, sehingga bahasa kaum yang asing itu dapat dimengerti olehnya.

Kemudian, kaum itu pun mengeluh dan mengadu kepada Dzulqarnain tentang kejahatan Ya'juj dan Ma'juj. Kaum itu berkata,

قَالُوا۟ يَٰذَا ٱلْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰٓ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا


"Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Maka, dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran (upah) kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" (QS al-Kahfi: 94)

Dzulqarnain pun mengabulkan permintaan mereka, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ia bangun sebuah benteng yang terbuat dari besi dan tembaga agar bangsa Ya'juj dan Ma'juj tidak dapat menerobos ke dalam permukiman kaum tersebut. Seperti dia berkata, maka mereka (Ya'juj dan Ma'juj) tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.

ءَاتُونِى زُبَرَ ٱلْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ ٱلصَّدَفَيْنِ قَالَ ٱنفُخُوا۟ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَعَلَهُۥ نَارًا قَالَ ءَاتُونِىٓ أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا

Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu". (QS al-Kahfi: 96)
halaman ke-1
preload video