Belajar dari Wabah Tho'un di Damaskus

Akibat Panik, Tho'un: Diperintah 1000, yang Terjadi 50.000 Korban

loading...
Akibat Panik, Thoun: Diperintah 1000, yang Terjadi 50.000 Korban
Akibat Panik, Tho'un: Diperintah 1000, yang Terjadi 50.000 Korban
KITAB Hilyatul Auliya’ fi Thabaqat al-Asfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfani merekam percakapan antara seorang waliyullah dan segerombolan wabah tho’un . Ceritanya, sewaktu menempuh perjalanan menuju kota Damaskus, segerombolan wabah tersebut, konon, bertemu dengan salah satu waliyullah. Lalu, terjadilah sebuah dialog antara mereka:

“Mau kemana kalian?”, selidik sang waliyullah kepada wabah tho’un .

“Kami diperintah oleh Allah SWT untuk memasuki kota Damaskus,” jawab wabah tho’un .

Sang waliyullah lalu bertanya kembali, “berapa lama dan berapa banyak manusia yang menjadi korban kalian?”

Wabah pun menjawab, “dua tahun dengan seribu korban yang meninggal dunia.”

Singkat cerita, setelah dua tahun berlalu, jumlah korban meninggal ternyata mencapai 50 ribuan orang. Dan ketika sang waliyullah kembali bertemu dengan wabah penyakit tersebut, ia menggugat.

“Kenapa dalam dua tahun kalian memakan begitu banyak korban sampai 50 ribu orang yang meninggal? Bukannya kalian janji hanya memakan korban seribu orang?”, protes sang waliyullah.

Wabah pun menjawab, “kami memang diperintah Allah SWT untuk merenggut seribu korban. Namun empat puluh sembilan ribu korban lainnya, meninggal akibat panik dan khawatir berlebihan yang meliputi pikiran dan benak mereka.”

Belajar dari Wabah Tho'un
Wabah yang terjadi di negeri Syam (Damaskus dan sekitarnya) itu telah menewaskan banyak orang. Bahkan akibat wabah tho’un tersebut, banyak perempuan remaja yang berguguran.

Keterangan ini dijelaskan dalam kitab Bazdlu al-Ma’un fi Fadhli Tha’un karya Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), tentang wabah Tho’un yang menyerang gadis-gadis tersebut dan kemudian dikenal dengan nama Tho’un Fatayat.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyelesaikan karyanya perihal wabah tho‘un ini pada Jumadil Akhir 833 H (sekira 1430 M).

Dalam buku itu diceritakan bagaimana wabah tho'un mengamuk di Damaskus pada 746 Hijriyyah (Dalam Al-Manbaji, 749 atau 764 Hijriyah).

Masyarakat berkumpul di sebuah padang terbuka dan berteriak dengan kerasnya. Mereka berkumpul, tidak terkecuali para pembesar kota tersebut. Mereka berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah. Tetapi setelah peristiwa itu, wabah tho'un membesar dan jumlah korban berjatuhan makin bertambah.

Padahal sebelum mereka berkumpul untuk berdoa, wabah tho'un sudah mereda. Al-Asqalani yang dikenal sebagai ahli hadits bermazhab Syafi'i juga menceritakan wabah tho'un yang terjadi pada zamannya.

Wabah mulai turun pada 27 Rabiul Akhir 833 Hijriyah. Jumlah korban jiwa awalnya hanya di bawah 40 orang. Pada 4 Jumadil Awwal 833 mereka berkumpul di sebuah padang terbuka setelah sebelumnya diumumkan untuk berpuasa tiga hari sebagaimana pelaksanaan salat istisqa.

Pada waktu yang ditentukan, mereka berkumpul, berdoa, dan berdiam sejenak sebelum akhirnya membubarkan diri. Selang kurang dari sebulan setelah berdoa bersama itu, jumlah korban jiwa di Kairo setiap hari pernah mencapai di atas 1000 orang bahkan lebih.

Al-Asqalani bercerita bahwa dirinya sendiri menyaksikan bagaimana keganasan wabah tho'un menyerang di Damaskus. Ia menyaksikan kondisi kota yang berubah dan dinding kota yang miring porak-poranda. Ia menyaksikan kematian orang-orang tercinta.

Penduduk mengeluarkan liur darah dan bernafas sesak. Unta-unta pengangkut beban dan pengangkut masyarakat menderum berhenti karenanya. Angin mengamuk berembus kencang hilir-mudik.

Pada bulan Rabi‘ul Awwal masyarakat berkumpul untuk membaca Kitab hadits terkenal kesahihannya Jami'us Shahihil Bukhari. Mereka membaca Surat Nuh di mihrab sahabat sebanyak 3.363 kali atas petunjuk wangsit yang diterima melalui mimpi seorang warga. Mereka kemudian berdoa untuk mengusir wabah. Tetapi yang terjadi wabah makin menggila.

Kemudian khatib mulai membaca qunut dalam salat dan doa. Masyarakat juga mulai tunduk, khusyuk, menderita sakit, taubat, dan kembali kepada Allah. Sementara pejabat kepanjangan tangan penguasa memerintahkan pembatalan jaminan pembuatan peti mati dan akan menggabungkan semua urusan korban wabah.
halaman ke-1
preload video