Merajut energi positif
Selasa, 31 Juli 2012 - 09:38 WIB
Merajut energi positif
A
A
A
Sindonews.com - Kemajuan pembangunan bukan lagi sekadar menekankan pencapaian pertumbuhan ekonomi dan kelimpahan material, melainkan juga pemenuhan nilai-nilai lain yang meningkatkan kualitas kebahagiaan hidup manusia.
Demikian diungkapkan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman dalam acara buka puasa bersama yang digelar di kediamannya tadi malam.
Buka puasa itu dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono serta Wapres Boediono dan Ibu Herawati Boediono.
Hadir pula mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie, seluruh pimpinan lembaga negara,dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.
Irman Gusman menjelaskan, Alquran dan Sunah Nabi mengajarkan ukuran kebahagiaan hakiki dalam menilai keberhasilan pembangunan.
“Kebahagiaan seseorang atau sekelompok masyarakat dapat dirasakan secara subjektif dan sosial manakala ada kebersamaan. Karena lewat kebersamaan, kita akan merajut energi positif untuk saling berbagi, saling menghargai, dan saling menghormati,” terangnya.
Terkait kondisi krisis ekonomi global yang terjadi saat ini, Irman berharap bangsa Indonesia bias melaluinya dengan baik. Sebagai perwakilan daerah, DPD RI mendorong kerja sama dan kerja keras dari seluruh elemen bangsa, sehingga semua pihak bisa membangun Indonesia yang solid, sejahtera, maju dan berkeadilan.
“Mari kita saling bekerja keras dan bekerja sama dalam berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat, bangsa, dan negara untuk mendapatkan kemenangan di dunia dan di akhirat,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan pentingnya sistem demokrasi yang dijalankan di Tanah Air bila dibandingkan dengan sistem otoritarian.
Menurut Kepala Negara, sistem demokrasi lebih berkualitas mengingat dalam sistem ini mendapat kekuatan dukungan dari rakyat.
“Saya berpendapat sistem otoritarian mungkin bisa mempermudah semua hal, menata, mengontrol, dan bahkan bisa melakukan berbagai hal atas nama negara. Namun, banyak pelajaran di dunia pula bahwa sistem otoritarian itu menyimpan bom waktu dan sering tidak ada batasnya,” ujar Presiden SBY di Jakarta.
Menurut Kepala Negara, wacana sistem otoritarian merupakan hasil sebuah diskusi beberapa waktu lalu. Dalam diskusi tersebut, muncul ide kontroversial yang menyebutkan bahwa sistem otoritarian lebih baik untuk menyukseskan pembangunan dibandingkan sistem demokrasi.
Mantan menko polkam ini mengatakan, dalam pandangannya sepanjang demokrasi dilakukan dengan matang dan berkualitas maka demokrasi akan lebih baik dari sistem otoritarian.
“Sistem demokrasi yang hidup akan lebih mendapat dukungan rakyat. Manakala demokrasi masih dalam proses, selalu ada tantangan sebagaimana yang kita hadapi sekarang ini,” tandasnya.
Karena itu, lanjut Presiden, semua pihak diharapkan ikut mematangkan demokrasi yang sedang berkembang di Tanah Air. Sementara itu terkait desentralisasi dan otonomi daerah, selama ini banyak pendapat yang mengatakan kedua sistem tersebut mengalami hambatan pembangunan.
“Saya harus mengatakan bahwa desentralisasi adalah pilihan kita, koreksi terhadap masa lalu yang sentralistik. Tentu saja demokrasi kita masih muda,dan negara lain menjalankan desentralisasi butuh puluhan tahun,” ujar mantan menteri pertambangan dan energi ini.
Dengan realitas seperti itu, Presiden berharap agar sistem desentralisasi dan otonomi daerah dijalankan dengan baik dan benar. “Jangan goyah, karena desentralisasi dan otonomi daerah akan lebih membawa kebaikan. Dan jika masih ada ekses desentralisasi, mari kita perbaiki bersama-sama,” tambahnya.
Demikian diungkapkan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman dalam acara buka puasa bersama yang digelar di kediamannya tadi malam.
Buka puasa itu dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono serta Wapres Boediono dan Ibu Herawati Boediono.
Hadir pula mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie, seluruh pimpinan lembaga negara,dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.
Irman Gusman menjelaskan, Alquran dan Sunah Nabi mengajarkan ukuran kebahagiaan hakiki dalam menilai keberhasilan pembangunan.
“Kebahagiaan seseorang atau sekelompok masyarakat dapat dirasakan secara subjektif dan sosial manakala ada kebersamaan. Karena lewat kebersamaan, kita akan merajut energi positif untuk saling berbagi, saling menghargai, dan saling menghormati,” terangnya.
Terkait kondisi krisis ekonomi global yang terjadi saat ini, Irman berharap bangsa Indonesia bias melaluinya dengan baik. Sebagai perwakilan daerah, DPD RI mendorong kerja sama dan kerja keras dari seluruh elemen bangsa, sehingga semua pihak bisa membangun Indonesia yang solid, sejahtera, maju dan berkeadilan.
“Mari kita saling bekerja keras dan bekerja sama dalam berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat, bangsa, dan negara untuk mendapatkan kemenangan di dunia dan di akhirat,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan pentingnya sistem demokrasi yang dijalankan di Tanah Air bila dibandingkan dengan sistem otoritarian.
Menurut Kepala Negara, sistem demokrasi lebih berkualitas mengingat dalam sistem ini mendapat kekuatan dukungan dari rakyat.
“Saya berpendapat sistem otoritarian mungkin bisa mempermudah semua hal, menata, mengontrol, dan bahkan bisa melakukan berbagai hal atas nama negara. Namun, banyak pelajaran di dunia pula bahwa sistem otoritarian itu menyimpan bom waktu dan sering tidak ada batasnya,” ujar Presiden SBY di Jakarta.
Menurut Kepala Negara, wacana sistem otoritarian merupakan hasil sebuah diskusi beberapa waktu lalu. Dalam diskusi tersebut, muncul ide kontroversial yang menyebutkan bahwa sistem otoritarian lebih baik untuk menyukseskan pembangunan dibandingkan sistem demokrasi.
Mantan menko polkam ini mengatakan, dalam pandangannya sepanjang demokrasi dilakukan dengan matang dan berkualitas maka demokrasi akan lebih baik dari sistem otoritarian.
“Sistem demokrasi yang hidup akan lebih mendapat dukungan rakyat. Manakala demokrasi masih dalam proses, selalu ada tantangan sebagaimana yang kita hadapi sekarang ini,” tandasnya.
Karena itu, lanjut Presiden, semua pihak diharapkan ikut mematangkan demokrasi yang sedang berkembang di Tanah Air. Sementara itu terkait desentralisasi dan otonomi daerah, selama ini banyak pendapat yang mengatakan kedua sistem tersebut mengalami hambatan pembangunan.
“Saya harus mengatakan bahwa desentralisasi adalah pilihan kita, koreksi terhadap masa lalu yang sentralistik. Tentu saja demokrasi kita masih muda,dan negara lain menjalankan desentralisasi butuh puluhan tahun,” ujar mantan menteri pertambangan dan energi ini.
Dengan realitas seperti itu, Presiden berharap agar sistem desentralisasi dan otonomi daerah dijalankan dengan baik dan benar. “Jangan goyah, karena desentralisasi dan otonomi daerah akan lebih membawa kebaikan. Dan jika masih ada ekses desentralisasi, mari kita perbaiki bersama-sama,” tambahnya.
(lns)
Lihat Juga :