Puasa dan pendidikan keimanan

loading...
Puasa dan pendidikan keimanan
Puasa dan pendidikan keimanan
RAMADAN adalah bulan yang diberkati. Pada bulan ini Alquran diturunkan dan terdapat lailatulkadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan ini juga pintu maghfirah (ampunan) dibuka selebar-lebarnya serta segenap amal kebajikan dilipatgandakan pahalanya.

Dalam Islam puasa memiliki keistimewaan yang berbeda dengan ibadah-ibadah lain. Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah berfirman: “Semua amal anak Adam (manusia) untuk dirinya sendiri kecuali puasa sebab puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Ketika melaksanakan puasa, sebenarnya tidak ada yang dapat mengetahui apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak. Hanya si pelakulah yang mengetahuinya apakah ia sedang berpuasa atau tidak.

Lalu apakah yang membuat seseorang tetap menjaga puasanya? Satu-satunya jawaban adalah keimanan yang terpatri dalam jiwanya. Dalam konteks ini puasa sebenarnya latihan dan uji kesadaran akan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, yang mengetahui dan mengawasi segenap tingkah laku manusia, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Jika seseorang yang berpuasa betul-betul berdasarkan motivasi keimanan dan dapat menjaga tindak tanduknya selama berpuasa, dia akan mendapatkan pencerahan ruhani dan dikembalikan kepada fitrahnya sebagai manusia. Memang benar bahwa melaksanakan ibadah puasa bukanlah sesuatu yang mudah karena membutuhkan latihan fisik dan psikologis. Namun, perlu juga disadari bahwa tidak ada sebuah keuntungan besar yang didapatkan dengan upaya yang ala kadarnya.

Sebaliknya, setiap keuntungan besar hampir dapat dipastikan merupakan buah dari kerja keras dengan dukungan modal yang besar pula. Demikian juga dengan puasa Ramadan. Pada bulan ini fisik kita dilatih menahan lapar dan haus agar kita juga peka terhadap penderitaan orang-orang miskin. Kita juga ditekankan untuk mengeluarkan infak dan sedekah dari kelebihan harta yang kita miliki.

Semua itu pada dasarnya sebuah pendidikan keimanan agar kita dapat merenungkan eksistensi diri kita sebagai manusia dan hamba Allah. Lebih jauh lagi, agar kita memahami tugas kita sebagai umat Islam yang tidak hanya bertanggung jawab kepada diri kita sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab atas umat Islam yang lainnya.



Ibadah seperti memberi infak dan sedekah kepada orangorang yang miskin dan membutuhkan merupakan hal yang sangat penting, bukan saja pada Ramadan, melainkan seharusnya juga selalu dilakukan di luar bulan suci ini. Memperhatikan dan membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan akhirnya dapat mengasah kepekaan kita serta mempererat tali silaturahmi dan solidaritas sesama umat Islam. Dalam beberapa kesempatan Rasulullah SAW bersabda:

“Muslim satu dengan yang lainnya seperti sebuah bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lainnya; Tidak sempurna iman salah satu dari kalian hingga dia mampu mencinta saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri; Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” Di samping itu, puasa juga merupakan benteng yang menggiring manusia untuk berpikir sehat dan menekan hawa nafsunya. Rasulullah mengibaratkan puasa sebagai junnahatau perisai.

KH MUJIB QULYUBI
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam
Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta
(nfl)
cover top ayah
وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.

(QS. Al-Hasyr:19)
cover bottom ayah
preload video