Tausiyah Gus Baha Terkait Sikap Netral, Simak Pesannya!

loading...
Tausiyah Gus Baha Terkait Sikap Netral, Simak Pesannya!
Salah satu ceramah Gus Baha menyoal "sikap netral" di saluran Youtube. Foto/dok Ngaji Santri
Siapa yang tak kenal Gus Baha, Dai berpenampilan sederhana dengan ciri khas kopiah hitam dan kemeja putih. Beliau kerap menyampaikan tausiyah-tausiyah menyejukkan namun tegas dan kena di hati. Gaya ceramahnya yang lugas tapi santai membuat banyak orang senang dan takzhim padanya.

Gus Baha bernama asli KH Ahmad Bahauddin Nursalim lahir di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, tahun 1970. Beliau merupakan putra seorang ulama pakar Al-Qur'an dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA KH Nursalim Al-Hafizh dari Narukan, Rembang, Jawa Tengah.

(Baca Juga: Happy Beragama, Gus Baha: Agama Harus Membawa Keceriaan Hati)

Ceramahnya sering viral dan banyak diposting di sosial media. Salah satu yang ramai di-upload di saluran Youtube adalah ceramahnya menyoal "sikap netral". Sedikitnya ada 5 channel Youtube menyiarkan potongan ceramah Gus Baha tersebut. Di antaranya Channel NGAJI LOGIS, Channel Tarbiyah, Channel Darwis Nusantara Jepara, Channel Ngaji Santri, Channel Muhammad Arif, Channel-Sekolah Akhirat.

Dalam ceramahnya, Gus Baha mengatakan dirinya pernah ditanya dan ini adalah kisah nyata. "Gus, yang netral itu baik gak? Semisal ada yang berkelahi, kita tidak ikut mencapuri?"

Kata Gus Baha, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah jadi orang netral. Semisal Musthofa berkelahi sama Rukhin, Nabi pasti membela salah satunya! Nabi tidak punya kebiasaan (menyebut): 'Gak tau, urusan mereka ini'.

Karena jika tidak ikut campur, artinya begini, andaikan gajah berkelahi dengan kucing, jika tidak ikut campur berarti ikhlas kucing diinjak gajah, karena gajah pasti menang. Nah, jika Rukhin berkelahi sama Musthofa, dan Rukhin yang salah, dan kamu tidak ikut campur, itu artinya membiarkan kebenaran dan kesalatan itu setara. Padahal tugas Nabi itu Al-Furqon (pemisah antara haq dan bathil)

Makanya Nabi pasti mengambil sikap, membela Musthofa, karena ia benar. Makanya saya setuju, semisal para Habaib ketika memilih harus jelas kalau A ya A, kalau B ya B. Harus menjelaskan!

Misalnya 'menolak ini' ya tidak apa-apa dan harus jelas! Meskipun orang lain bisa beda, tapi harus jelas. Misalnya orang Islam di Jakarta menolak A, ya harus menolak A. Ciri utama kebenaran, benar itu benar, salah itu salah!

Ketika kita akhirnya menerima karena konstitusi, itu karena kita orang Indonesia. Tapi ciri utama kebenaran harus bilang: A itu salah, B itu benar. Tidak boleh netral: 'Ah sama saja". Gak bisa, nanti perkara haq bisa setara dengan perkara bathil.
halaman ke-1
cover top ayah
وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِنۡ مُّدَّكِرٍ
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

(QS. Al-Qamar:22)
cover bottom ayah
preload video