Cara Tarekat Naqsabandiyah Menentukan Awal dan Akhir Bulan Ramadhan
Senin, 27 Februari 2023 - 17:55 WIB
Cara Tarekat Naqsabandiyah untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan sejatinya tidak jauh berbeda dengan ormas Islam di Indonesia. Foto/Ilustrasi: Ist
Cara Tarekat Naqsabandiyah untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan sejatinya tidak jauh berbeda dengan ormas Islam di Indonesia. Tarekat ini menggunakan metode hisab dan rukyat. Hasilnya menjadi berbeda karena dalam praktiknya, rumusan yang digunakan berbeda.
Ahmad Fuad Al-Anshary, Dosen Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, dalam artikelnya berjudul "Rukyah bil Qalbi Perspektif Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah al-Aliyah Jombang" mengatakan dalam keyakinan tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah meyakini adanya konsep rukyah bil qalbi. Konsep keyakinan seperti ini tidak dimiliki oleh kelompok-kelompok yang lain.
"Fenomena ini kemudian menjadi unik, karena sebuah tarekat yang menurut ruang kajiannya adalah tasawuf, tetapi justru masuk dalam ranah kajian fiqih," ujarnya.
Penentuan awal bulan seperti halnya yang dilakukan oleh tarekat Naqsabandiyah ini dipandang sebagai suatu yang masuk dalam ranah kajian fiqih .
Dalam skripsi berjudul "Penetepan Awal Ramadhan oleh Penganut Tarekat Naksabandi Ditinjau Menurut Ilmu Falak" oleh salah seorang mahasiswa di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau disebutkan pada prinsipnya, kelompok Tarekat Naqsabandiyah dalam menentukan awal Ramadhan sebagai tanda masuknya waktu berpuasa, maupun dalam menentukan tanggal 1 Syawal sebagai tanda berakhirnya puasa Ramadhan untuk tahun tersebut dengan mempergunakan metode hisab dan rukyat.
Baca juga: Puasa Ramadhan 2023 Tanggal Berapa?
Metode hisab yang dipakai oleh Tarekat Naqsabandi dalam penetapan awal Ramadhan yang akan datang dihitung dari bulan Ramadhan yang dahulu (sebelumnya) sampai jumlah 360 hari. Kita wajib puasa 360 hari sama dengan satu tahun. Karena begitulah puasa tarekat Naqsabandi yang terdahulu.
Perhitungannya adalah Puasa Ramadhan 30 hari, ditambah dengan Puasa di bulan Syawal 6 hari, jadi puasa 36 hari maka balasannya sama dengan 360 hari, karena 30 x 10 = 300 hari pada bulan Ramadhan, ditambah 6 x 10 = 60 hari pada bulan Syawal, jika dijumlahkan sama dengan 360 hari.
Rasulullah SAW bersabda barangsiapa puasa Ramadhan 30 hari ditambah Syawal 6 hari sama halnya dengan puasa sepanjang masa.
Begitu juga sholat tarawih berjumlah 12 salam x 30 malam = 360 salam. Sesuai dengan kandungan surat At-Taubah ayat 36 dan al-Fajri 1-5, karena sesungguhnya bulan di sisi Allah SWT adalah 12 bulan. Juga demi malam sepuluh tiap-tiap malam, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam yang telah berlalu, hal ini untuk orang yang berakal.
Ahmad Fuad Al-Anshary, Dosen Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, dalam artikelnya berjudul "Rukyah bil Qalbi Perspektif Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah al-Aliyah Jombang" mengatakan dalam keyakinan tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah meyakini adanya konsep rukyah bil qalbi. Konsep keyakinan seperti ini tidak dimiliki oleh kelompok-kelompok yang lain.
"Fenomena ini kemudian menjadi unik, karena sebuah tarekat yang menurut ruang kajiannya adalah tasawuf, tetapi justru masuk dalam ranah kajian fiqih," ujarnya.
Penentuan awal bulan seperti halnya yang dilakukan oleh tarekat Naqsabandiyah ini dipandang sebagai suatu yang masuk dalam ranah kajian fiqih .
Dalam skripsi berjudul "Penetepan Awal Ramadhan oleh Penganut Tarekat Naksabandi Ditinjau Menurut Ilmu Falak" oleh salah seorang mahasiswa di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau disebutkan pada prinsipnya, kelompok Tarekat Naqsabandiyah dalam menentukan awal Ramadhan sebagai tanda masuknya waktu berpuasa, maupun dalam menentukan tanggal 1 Syawal sebagai tanda berakhirnya puasa Ramadhan untuk tahun tersebut dengan mempergunakan metode hisab dan rukyat.
Baca juga: Puasa Ramadhan 2023 Tanggal Berapa?
Metode hisab yang dipakai oleh Tarekat Naqsabandi dalam penetapan awal Ramadhan yang akan datang dihitung dari bulan Ramadhan yang dahulu (sebelumnya) sampai jumlah 360 hari. Kita wajib puasa 360 hari sama dengan satu tahun. Karena begitulah puasa tarekat Naqsabandi yang terdahulu.
Perhitungannya adalah Puasa Ramadhan 30 hari, ditambah dengan Puasa di bulan Syawal 6 hari, jadi puasa 36 hari maka balasannya sama dengan 360 hari, karena 30 x 10 = 300 hari pada bulan Ramadhan, ditambah 6 x 10 = 60 hari pada bulan Syawal, jika dijumlahkan sama dengan 360 hari.
Rasulullah SAW bersabda barangsiapa puasa Ramadhan 30 hari ditambah Syawal 6 hari sama halnya dengan puasa sepanjang masa.
Begitu juga sholat tarawih berjumlah 12 salam x 30 malam = 360 salam. Sesuai dengan kandungan surat At-Taubah ayat 36 dan al-Fajri 1-5, karena sesungguhnya bulan di sisi Allah SWT adalah 12 bulan. Juga demi malam sepuluh tiap-tiap malam, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam yang telah berlalu, hal ini untuk orang yang berakal.
Lihat Juga :