Ini Hukum Buka Warung dan Makan Terang-terangan di Siang Hari Ramadan
Minggu, 26 Maret 2023 - 11:34 WIB
Unit Patroli Brimob Kalimantan Timur mendatangi warung yang buka di siang hari Ramadan. Mereka mengimbau agar menjaga toleransi dan kekhusyukan umat Islam menjalankan ibadah Puasa, Kamis (23/3/2023). Foto/Humas.polri.go.id
Sebuah pemandangan memprihatinkan banyak orang tak perduli dengan kesucian bulan Ramadan. Mulai dari warung makan yang buka hingga pemandangan makan terang-terangan di siang hari Puasa Ramadan.
Terlepas kemungkinan udzur seperti musafir atau perempuan Haid, makan dan minum terang-terangan di depan umum tidak dibenarkan oleh syariat. Bahkan yang lebih parah lagi, ada sebagian orang nyinyir kepada ulama-ulama yang menganjurkan agar rumah makan sebaiknya diberikan penutup di siang hari Ramadan.
Mereka dengan sok bijaknya berkata: "Orang puasa kok minta dihormati, gila hormat. Yang harusnya dihormati itu yang tidak berpuasa." Ada juga yang nyinyir dengan mengatakan: "Kalau puasanya ikhlas, tidak akan tergoda oleh makanan." Na'udzubillaah..!
Hukum Membuka Warung Makan di Siang Ramadan
Dai lulusan Al-Azhar Mesir Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq menegaskan, dari dulu sampai hari ini para ulama sepakat menyerukan agar mereka yang sedang udzur tidak berpuasa karena sebab sakit, haidh, safar atau udzur-udzur lainnya untuk tidak makan minum di siang hari Ramadan secara terang-terangan.
Hal ini demi menjaga syiar Islam tidak redup dan mencegah fitnah di tengah-tengah umat. Imam Al-Mardawi Al-Hanbali rahimahullah berkata:
يُنْكَر على من أكل في رمضان ظاهرًا، وإن كان هناك عذر. قال في الفروع: فظاهره المنع مطلقًا، وقيل لابن عقيل: يجب منع مسافر ومريض وحائض من الفطر ظاهرًا لئلا يُتَّهَم؟ فقال: إن كانت أعذارٌ خفية يمنع من إظهاره، كمريض لا أمارة له، ومسافر لا علامة عليه
Artinya: "Diingkari bagi siapapun untuk makan terang-terangan di siang hari bulan Ramadan, meskipun dia sedang memiliki udzur. Dikatakan dalam kitab al Furu', yang kuat dia dilarang secara mutlak. Ada yang berkata di hadapan Ibnu Aqil, wajib melarang musafir, orang sakit, wanita haid untuk berbuka secara terang-terangan agar dirinya tidak tertuduh. Ibnu Aqil berkata, 'Jika dia memiliki udzur yang tidak semua orang mengetahui, maka dia dilarang memperlihatkannya, seperti sakit yang tidak ada tandanya atau musafir yang tidak ada bekasnya." [Al Inshaf (7/348)]
Imam Ramli Asy- Syafi'i juga berkata:
وكإطعام مسلم مكلف كافرا مكلفا في نهار رمضان وكذا بيعه طعاما علم أو ظن أنه يأكله نهارا
Artinya: "Demikian juga (diharamkan) memberi makan kepada orang muslim dan kafir sekalipun yang mukallaf di siang hari Ramadan, demikian juga menjual makanan yang diketahui atau diduga kuat dimakan oleh pembelinya di siang hari puasa.." [Nihayatul Muhtaj (3/471)]
Ulama kontemporer dari Saudi, Syaikh bin Baz juga memberi fatwa:
من أفطر في رمضان لعذر فإنه يفطر سرًّا كالمسافر، الذي لا يُعرف أنه مسافر، والمرأة التي لا يُعرف أنها حائض، فيكون أكلها سرًّا وشربها سرًّا؛ حتى لا تُتهم أنها متساهلة
Terlepas kemungkinan udzur seperti musafir atau perempuan Haid, makan dan minum terang-terangan di depan umum tidak dibenarkan oleh syariat. Bahkan yang lebih parah lagi, ada sebagian orang nyinyir kepada ulama-ulama yang menganjurkan agar rumah makan sebaiknya diberikan penutup di siang hari Ramadan.
Mereka dengan sok bijaknya berkata: "Orang puasa kok minta dihormati, gila hormat. Yang harusnya dihormati itu yang tidak berpuasa." Ada juga yang nyinyir dengan mengatakan: "Kalau puasanya ikhlas, tidak akan tergoda oleh makanan." Na'udzubillaah..!
Hukum Membuka Warung Makan di Siang Ramadan
Dai lulusan Al-Azhar Mesir Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq menegaskan, dari dulu sampai hari ini para ulama sepakat menyerukan agar mereka yang sedang udzur tidak berpuasa karena sebab sakit, haidh, safar atau udzur-udzur lainnya untuk tidak makan minum di siang hari Ramadan secara terang-terangan.
Hal ini demi menjaga syiar Islam tidak redup dan mencegah fitnah di tengah-tengah umat. Imam Al-Mardawi Al-Hanbali rahimahullah berkata:
يُنْكَر على من أكل في رمضان ظاهرًا، وإن كان هناك عذر. قال في الفروع: فظاهره المنع مطلقًا، وقيل لابن عقيل: يجب منع مسافر ومريض وحائض من الفطر ظاهرًا لئلا يُتَّهَم؟ فقال: إن كانت أعذارٌ خفية يمنع من إظهاره، كمريض لا أمارة له، ومسافر لا علامة عليه
Artinya: "Diingkari bagi siapapun untuk makan terang-terangan di siang hari bulan Ramadan, meskipun dia sedang memiliki udzur. Dikatakan dalam kitab al Furu', yang kuat dia dilarang secara mutlak. Ada yang berkata di hadapan Ibnu Aqil, wajib melarang musafir, orang sakit, wanita haid untuk berbuka secara terang-terangan agar dirinya tidak tertuduh. Ibnu Aqil berkata, 'Jika dia memiliki udzur yang tidak semua orang mengetahui, maka dia dilarang memperlihatkannya, seperti sakit yang tidak ada tandanya atau musafir yang tidak ada bekasnya." [Al Inshaf (7/348)]
Imam Ramli Asy- Syafi'i juga berkata:
وكإطعام مسلم مكلف كافرا مكلفا في نهار رمضان وكذا بيعه طعاما علم أو ظن أنه يأكله نهارا
Artinya: "Demikian juga (diharamkan) memberi makan kepada orang muslim dan kafir sekalipun yang mukallaf di siang hari Ramadan, demikian juga menjual makanan yang diketahui atau diduga kuat dimakan oleh pembelinya di siang hari puasa.." [Nihayatul Muhtaj (3/471)]
Ulama kontemporer dari Saudi, Syaikh bin Baz juga memberi fatwa:
من أفطر في رمضان لعذر فإنه يفطر سرًّا كالمسافر، الذي لا يُعرف أنه مسافر، والمرأة التي لا يُعرف أنها حائض، فيكون أكلها سرًّا وشربها سرًّا؛ حتى لا تُتهم أنها متساهلة
Lihat Juga :