Apakah Boleh Tidak Menikah? Begini Jawaban Imam Syafi'i

Minggu, 30 April 2023 - 16:46 WIB
Ketika membaca biografi beberapa ulama besar terdahulu, kita akan mendapati bahwa sebagian mereka ada yang tidak menikah atau hidup membujang hingga akhir hayat. Misalnya Imam at-Thabari, Abu Bakar al Ambari, an-Nawawi. Dari kalangan perempuan ada Khadijah binti Imam Abdus Salam Sahnun bin Sa'id, Rabi'ah Al-Adawiyah.

Lantas, apakah kita akan menghakimi beliau-beliau sebagai bukan dari golongan Nabi, padahal beliau seorang ulama yang memahami dan banyak menulis atau mensyarahi kitab-kitab Hadis?

Sebenarnya hukum menikah itu tidak wajib. Memang hukum asalnya adalah sunnah. Tapi itu pun bisa berubah menjadi wajib, makruh bahkan haram bergantung kondisi masing-masing orang. Sedangkan maksud hadis "an-nikahu sunnati" bahwa menikah itu pola hidup yang disenangi Nabi. Maka dalam kondisi yang berkecukupan, seseorang dianjurkan untuk menikah.

Adapun orang yang hidup membujang bukan dengan maksud meremehkan sunnahnya menikah, melainkan karena ingin fokus ibadah dan berkhidmat, seperti shalat, menulis kitab dan memberikan pengajaran pada orang lain, apalagi tidak dikhawatirkan melakukan zina, maka orang seperti ini tidak dikategorikan menyelesihi sunnah. Inilah yang dipraktikkan oleh Imam Nawawi.

Hukum Menikah

Dalam Kitab al-Minhaj dijelaskan tentang hukum menikah:

هو مستحب لمحتاج اليه يجد اهبته فان فقدها استحب تركه و يكسر شهوته بالصوم فان لم يحتج كره ان فقد الاهبة و الا فلا لكن العبادة افضل قلت فان لم يتعبد فالنكاح افضل له في الاصح

"Nikah hukumnya sunnah bagi orang yang membutuhkan dan punya biaya. Jika tidak punya biaya, sunnah hukumnya meninggalkannya dan lemahkanlah syahwatnya dengan berpuasa. Jika tidak butuh menikah, maka menikah hukumnya makruh kalau tidak punya biaya. Jika punya biaya tidaklah makruh, tetapi melakukan ibadah lebih utama. Aku (Imam Nawawi) berkata: "Jika memang seseorang tidak menggunakan waktunya untuk beribadah, maka nikah lebih utama".

Ketika Imam an-Nawawi memilih hidup membujang sampai ahir hayatnya. Beliau lalui hari-harinya dengan beribadah, menulis karya ilmiyah, mengajar, membaca Al-Qur'an. Manfaatnya pun bisa dirasakan umat muslim hingga kini, di mana tidak ada satu pesantren pun yang tidak lepas dari kajian kitab Imam Nawawi.

Kembali ke hukum menikah. Hukum menikah tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukannya. Berikut hukum menikah dalam pandangan ulama Fiqih:

1. WAJIB

Bagi orang yang telah mampu dan bila ia tidak segera menikah amat dikhawatirkan akan berbuat zina.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!