Fitnah Kehidupan, Kisah Pemilik Kebun dalam Surat Al-Kahfi
Kamis, 01 Juni 2023 - 19:36 WIB
Salah satunya adalah ayat yang populer di Surah Ar-Rahman : "Semua yang ada di atas dunia ini berakhir (faanin)." Karenanya dengan segala urgensinya dunia tetap harus ditempatkan pada tempatnya sebagai jembatan, bukan destinasi.
Ketiga, fakta lain dari dunia ini adalah atraksi (zuyyina atau Ziinah) yang sangat kuat. Hal ini juga dikuatkan dengan fakta bahwa manusia memiliki dorongan hawa nafsu (ahwaa) dunia yang tinggi. Maka ketika keduanya bersentuhan tanpa kemampuan pengekangan (nahaa an-nafs) darinya maka manusia akan terjatuh kepada penyembahan hawa nafsu (ittkhadza ilaahahu hawaah). Di saat itulah akan terjadi prilaku melampaui batas (thugyaan). Yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan di bumi dan di laut (zhoharal fasadu fil barri wal bahri).
Keempat, ketika berbicara tentang kehidupan dunia, maka ada kata spesifik yang disebut rezeki. Rezeki itu luas defenisinya. Semua bentuk karunia. Bisa banyak, bisa sedikit. Ketentuannya di tangan Pencipta (yarzuqu man yasyaa). Karenanya persoalan manusia dengan rezeki bukan berapanya (kuantitasnya). Karena pastinya semua mau yang terbanyak. Persoalan rezeki lebih kepada kualitas. Dan kualitas rezeki itu ada pada dari mana dan kemana (min aena iktasabah wa ilaa aena anfaqah).
Pada akhirnya kisah pemilik kebun di Surah Al-Kahfi itu mengajarkan kepada kita banyak hal. Betapa dunia itu adalah fitnah (cobaan) yang dahsyat. Tidak saja mampu menggelincirkan pemiliknya kepada kehancuran dunianya itu sendiri. Tapi yang lebih penting adalah dapat menghancurkan kehidupan ruhiyah manusia, yang mengantar kepada kehancuran dunianya dan kebinasaan di akhirat. Semoga Allah menjaga kita!
Manhattan City, 31 Mei 2023
Baca Juga: Surat Al Kahfi Ayat 32-44: Kisah Pemilik Kebun yang Ingkar dan Sahabatnya yang Miskin
Ketiga, fakta lain dari dunia ini adalah atraksi (zuyyina atau Ziinah) yang sangat kuat. Hal ini juga dikuatkan dengan fakta bahwa manusia memiliki dorongan hawa nafsu (ahwaa) dunia yang tinggi. Maka ketika keduanya bersentuhan tanpa kemampuan pengekangan (nahaa an-nafs) darinya maka manusia akan terjatuh kepada penyembahan hawa nafsu (ittkhadza ilaahahu hawaah). Di saat itulah akan terjadi prilaku melampaui batas (thugyaan). Yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan di bumi dan di laut (zhoharal fasadu fil barri wal bahri).
Keempat, ketika berbicara tentang kehidupan dunia, maka ada kata spesifik yang disebut rezeki. Rezeki itu luas defenisinya. Semua bentuk karunia. Bisa banyak, bisa sedikit. Ketentuannya di tangan Pencipta (yarzuqu man yasyaa). Karenanya persoalan manusia dengan rezeki bukan berapanya (kuantitasnya). Karena pastinya semua mau yang terbanyak. Persoalan rezeki lebih kepada kualitas. Dan kualitas rezeki itu ada pada dari mana dan kemana (min aena iktasabah wa ilaa aena anfaqah).
Pada akhirnya kisah pemilik kebun di Surah Al-Kahfi itu mengajarkan kepada kita banyak hal. Betapa dunia itu adalah fitnah (cobaan) yang dahsyat. Tidak saja mampu menggelincirkan pemiliknya kepada kehancuran dunianya itu sendiri. Tapi yang lebih penting adalah dapat menghancurkan kehidupan ruhiyah manusia, yang mengantar kepada kehancuran dunianya dan kebinasaan di akhirat. Semoga Allah menjaga kita!
Manhattan City, 31 Mei 2023
Baca Juga: Surat Al Kahfi Ayat 32-44: Kisah Pemilik Kebun yang Ingkar dan Sahabatnya yang Miskin
(rhs)
Lihat Juga :