Perbedaan Versi Kisah Nabi Ibrahim dan Penyembelihan Putranya Menurut Islam, Kristen, dan Yahudi
Sabtu, 17 Juni 2023 - 03:52 WIB
Yahudi dan Kristen
Narasi Yahudi dan Kristen hampir sama. Kedua agama ini berkeyakinan bahwa putra Ibrahim yang akan dikorbankan Isaac (atau Ishak dalam Bahasa Arab), karena Isaac adalah anak Ibrahim dari istrinya Sarah. Isaac adalah ayah Yaqub dan kakek dari dua belas suku Israel.
Dalam Bibel Ibrani, pada Kitab Genesis, Ibrahim diperintah Tuhan untuk mengorbankan putranya Isaac (peristiwa yang disebut Aqedah artinya “pengikatan”).
Ketika baru akan menyembelihnya muncul utusan Tuhan, malaikat, berkata: “Sekarang Aku tahu kamu takut Tuhan,” dan muncullah domba (ram) sebagai ganti dan ia pun menyembelih domba itu. Tempatnya di Moriah, di Yerusalem. “Tuhan berfirman, karena Kamu telah melakukan ini, telah patuh menjalankan perintah-Ku, Aku akan berkati kamu dan keturunan-keturunanmu di antara bangsa-bangsa.”
Salah satu narasi di kalangan Yahudi meriwayatkan tentang usia Isaac yang 36 tahun pada waktu akan dikorbankan.
Baca juga: Cobaan Nabi Ibrahim Menurun ke Nabi Ishaq, Susah Punya Anak
Dikisahkan, Ibrahim dan Isaac jarang berbicara satu satu sama lain. Sebagian menyebut Isaac cukup marah terhadap bapaknya ketika mendengar ia akan dikorbankan. Tapi, dalam pendidikan Yahudi, anak-anak diyakinkan bahwa Tuhan tidak bermaksud mengorbankan atau membunuh anak.
Penyembelihan binatang sebagai ganti itu merupakan tanda pengampunan dosa dan kepatuhan kepada Tuhan. Ayat lain pun diajarkan “Tuhan memerintahkan kamu untuk berbuat adil, berbuat baik, dan rendah hati dengan Tuhan-mu.”
Narasi Kristen mengikuti alur narasi Yahudi. Dalam Perjanjian Baru yang memuat Perjanjian Lama, disebutkan Ibrahim diuji keimanannya dengan perintah menyembelih anaknya Isaac, satu-satunya anak yang Ia cintai. Isaac diberkati karena siap berkorban untuk dunia.
Lebih lanjut, Kristen membandingkan peristiwa hampir-pengorbanan itu dengan peristiwa penyaliban. Dalam pendidikan Kristen ditekankan bukan rencana seorang ayah, Ibrahim, untuk menyembelih putranya, tapi pada keimanan dan kepatuhannya pada Tuhan. Bahwa perbuatan moral tidak cukup tanpa keimanan.
Baca juga: Cara Nabi Ibrahim dan Ismail Membangun Kakbah, Kiblat Umat Muslim di Dunia
Bertentangan
Narasi Yahudi dan Kristen hampir sama. Kedua agama ini berkeyakinan bahwa putra Ibrahim yang akan dikorbankan Isaac (atau Ishak dalam Bahasa Arab), karena Isaac adalah anak Ibrahim dari istrinya Sarah. Isaac adalah ayah Yaqub dan kakek dari dua belas suku Israel.
Dalam Bibel Ibrani, pada Kitab Genesis, Ibrahim diperintah Tuhan untuk mengorbankan putranya Isaac (peristiwa yang disebut Aqedah artinya “pengikatan”).
Ketika baru akan menyembelihnya muncul utusan Tuhan, malaikat, berkata: “Sekarang Aku tahu kamu takut Tuhan,” dan muncullah domba (ram) sebagai ganti dan ia pun menyembelih domba itu. Tempatnya di Moriah, di Yerusalem. “Tuhan berfirman, karena Kamu telah melakukan ini, telah patuh menjalankan perintah-Ku, Aku akan berkati kamu dan keturunan-keturunanmu di antara bangsa-bangsa.”
Salah satu narasi di kalangan Yahudi meriwayatkan tentang usia Isaac yang 36 tahun pada waktu akan dikorbankan.
Baca juga: Cobaan Nabi Ibrahim Menurun ke Nabi Ishaq, Susah Punya Anak
Dikisahkan, Ibrahim dan Isaac jarang berbicara satu satu sama lain. Sebagian menyebut Isaac cukup marah terhadap bapaknya ketika mendengar ia akan dikorbankan. Tapi, dalam pendidikan Yahudi, anak-anak diyakinkan bahwa Tuhan tidak bermaksud mengorbankan atau membunuh anak.
Penyembelihan binatang sebagai ganti itu merupakan tanda pengampunan dosa dan kepatuhan kepada Tuhan. Ayat lain pun diajarkan “Tuhan memerintahkan kamu untuk berbuat adil, berbuat baik, dan rendah hati dengan Tuhan-mu.”
Narasi Kristen mengikuti alur narasi Yahudi. Dalam Perjanjian Baru yang memuat Perjanjian Lama, disebutkan Ibrahim diuji keimanannya dengan perintah menyembelih anaknya Isaac, satu-satunya anak yang Ia cintai. Isaac diberkati karena siap berkorban untuk dunia.
Lebih lanjut, Kristen membandingkan peristiwa hampir-pengorbanan itu dengan peristiwa penyaliban. Dalam pendidikan Kristen ditekankan bukan rencana seorang ayah, Ibrahim, untuk menyembelih putranya, tapi pada keimanan dan kepatuhannya pada Tuhan. Bahwa perbuatan moral tidak cukup tanpa keimanan.
Baca juga: Cara Nabi Ibrahim dan Ismail Membangun Kakbah, Kiblat Umat Muslim di Dunia
Bertentangan
Lihat Juga :