Kisah Bijak Para Sufi: Ibarat Tentang Tiga Tingkatan

Rabu, 29 Juli 2020 - 06:18 WIB


Tingkatan Ketiga bisa tercipta hanya setelah ketiga hakikat, dalam jumlah dan ukuran yang tepat, telah dipadukan di tempat tertentu dan pada waktu tertentu. Garam, air, dan tepung dicampur dan diremas menjadi adonan. Sebuah unsur hidup ditambahkan ketika pada adonan itu dimasukkan ragi dan tanur (panggangan roti) disiapkan untuk memanggang roti. Pembuatan roti ini bergantung kepada 'sentuhan' seperti juga kepada pengetahuan yang tersimpan.

Baca juga: Kereta: Tiga Macam Ilmu dalam Telaah Kemanusiaan

Segala sesuatu akan berlaku menurut situasinya dan situasi itu adalah Tingkatan di mana sesuatu itu berada. Bila tujuannya adalah roti, mengapa ribut soal penyaringan garam?

Baca juga: Ujian Kekayaan: Dari Tiga Orang, Hanya Lulus Satu Orang

Kisah ini, yang berasal dari para Sufi Sarmoun, menggemakan ajaran Ghazali bahwa 'orang tolol tidak mempunyai pengetahuan sejati mengenai pelajaran kaum terpelajar. Begitu pula, kaum terpelajar tidak memiliki gambaran yang memadai tentang pengetahuan Manusia Tercerahkan.'

Idries Shah dalam Tales of The Dervishes diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi menjelaskan kisah ini juga menggarisbawahi keyakinan para darwis bahwa agama-agama tradisional, sekolah-sekolah filsafat atau metafisika terus saja 'menggiling tepung' dan tak dapat melangkah lebih lanjut karena kekurangan orang-orang berhikmat, yang jarang sekali muncul.(Baca juga: Para Pelayan dan Rumah )

(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!