Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II, Sosok Perancang Lambang Garuda Pancasila
Senin, 14 Agustus 2023 - 21:17 WIB
Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II, tokoh yang berjasa merancang lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Foto/ist
Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II adalah salah satu tokoh yang berperan dalam kemerdekaan RI. Beliaulah sosok perancang lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.
Syarif Abdul Hamid Al-Kadri merupakan putra sulung dari Kesultanan Pontianak, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat 12 Juli 1913 atau 7 Syaban 1331 H dan wafat di Jakarta, 30 Maret 1978. Ayahnya bernama Syarif Muhammad Al-Qadri yang merupakan seorang sultan dari kalangan Habaib, berasal dari Tarim Hadhramaut Yaman.
Di dalam tubuhnya mengalir darah keturunan Nabi yang biasa dipanggil dengan Habib atau Syarif. Beliau memiliki tujuh saudara dari ibu yang berbeda. Sejak kecil, Hamid sudah terlihat sosok yang pintar, cerdas dan pemberani. Ayahnya mendidik Hamid dengan pendidikan formal agar bisa meneruskan tahta Kesultanan Pontianak.
Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II lahir dari pasangan Syarif Muhammad Al-Qadri dan Syecha Jamilah Syarwani. Sultan Hamid II menempuh pendidikan sekolah dasar atau Europeesche Lagere School (ELS) di beberapa kota, yakni Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Kemudian meneruskan sekolah menengah umum di Bandung. Lalu menamatkan belajar di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda. Ia meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda. Setelah lulus pada 1937, Sultan Hamid II dilantik sebagai perwira KNIL berpangkat Letnan Dua.
Merancang Lambaga Garuda Pancasila
Ketika Republik Indonesia Serikat dibentuk, Sultan Hamid II diangkat menjadi Mentri Negara Zonder Portofolio. Selama menjabat menteri itu, Sultan Hamid II ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang Negara. Tanggal 10 Januari dibentuklah panitia lencana Negara di bawah koordinator Sultan Hamid II selaku menteri Negara Zonder Portofolio dengan susunan panitia yaitu M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, MA Pellaupessy, M Natsir dan RM Ngabehi Poerbatjaraka sebagai anggota.
Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang Negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Terpilih dua rancangan terbaik yaitu milik M Yamin dan Sultan Hamid II. Namun, pada proses selanjutnya yang diterima adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang dianggap menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangannya terpilih, dialog antara Sultan Hamid II, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga mengganti pita yang dicengkram garuda, yang semula berwarna merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".
Pada tanggal 8 Febuari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Sultan Hamid II diajukan ke Presiden Soekarno. Rancangan final lambang Negara itu mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan. Karena adanya keberatan terhadap tangan burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Syarif Abdul Hamid Al-Kadri merupakan putra sulung dari Kesultanan Pontianak, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat 12 Juli 1913 atau 7 Syaban 1331 H dan wafat di Jakarta, 30 Maret 1978. Ayahnya bernama Syarif Muhammad Al-Qadri yang merupakan seorang sultan dari kalangan Habaib, berasal dari Tarim Hadhramaut Yaman.
Di dalam tubuhnya mengalir darah keturunan Nabi yang biasa dipanggil dengan Habib atau Syarif. Beliau memiliki tujuh saudara dari ibu yang berbeda. Sejak kecil, Hamid sudah terlihat sosok yang pintar, cerdas dan pemberani. Ayahnya mendidik Hamid dengan pendidikan formal agar bisa meneruskan tahta Kesultanan Pontianak.
Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II lahir dari pasangan Syarif Muhammad Al-Qadri dan Syecha Jamilah Syarwani. Sultan Hamid II menempuh pendidikan sekolah dasar atau Europeesche Lagere School (ELS) di beberapa kota, yakni Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Kemudian meneruskan sekolah menengah umum di Bandung. Lalu menamatkan belajar di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda. Ia meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda. Setelah lulus pada 1937, Sultan Hamid II dilantik sebagai perwira KNIL berpangkat Letnan Dua.
Merancang Lambaga Garuda Pancasila
Ketika Republik Indonesia Serikat dibentuk, Sultan Hamid II diangkat menjadi Mentri Negara Zonder Portofolio. Selama menjabat menteri itu, Sultan Hamid II ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang Negara. Tanggal 10 Januari dibentuklah panitia lencana Negara di bawah koordinator Sultan Hamid II selaku menteri Negara Zonder Portofolio dengan susunan panitia yaitu M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, MA Pellaupessy, M Natsir dan RM Ngabehi Poerbatjaraka sebagai anggota.
Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang Negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Terpilih dua rancangan terbaik yaitu milik M Yamin dan Sultan Hamid II. Namun, pada proses selanjutnya yang diterima adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang dianggap menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangannya terpilih, dialog antara Sultan Hamid II, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga mengganti pita yang dicengkram garuda, yang semula berwarna merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".
Pada tanggal 8 Febuari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Sultan Hamid II diajukan ke Presiden Soekarno. Rancangan final lambang Negara itu mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan. Karena adanya keberatan terhadap tangan burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Lihat Juga :