Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II, Sosok Perancang Lambang Garuda Pancasila
Senin, 14 Agustus 2023 - 21:17 WIB
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang Negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga terbentuk rajawali-garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan itu kepada Kabinet RIS melalui Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri.
Rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam sidang Kabinet RIS. Ketika itu kepalanya masih gundul atau tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno untuk pertama kalinya mengenalkan lambang Negara itu kepada khalayak ramai di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Febuari 1950.
Pada 20 Maret 1950, bentuk akhir Garuda Pancasila telah diperbaiki mendapat koreksi dari Presiden Soekarno. Lalu Presiden Soekarno memerintahkan pelukis istana yaitu Dullah untuk melukis kembali rancangan Sultan Hamid II itu.
Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan autentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974.
Sedangkan, lambang legara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Istana Kadriyah, Pontianak. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (tahun 1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan "ide perisai Pancasila" muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.
Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.
Inilah hasil karya anak bangsa Sultan Hamid II yang diramu dari berbagai aspirasi. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman keluarga kesultanan Pontianak di Batulayang.
Baca Juga: Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, Tokoh Ulama Penentu Tanggal Kemerdekaan RI
Rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam sidang Kabinet RIS. Ketika itu kepalanya masih gundul atau tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno untuk pertama kalinya mengenalkan lambang Negara itu kepada khalayak ramai di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Febuari 1950.
Pada 20 Maret 1950, bentuk akhir Garuda Pancasila telah diperbaiki mendapat koreksi dari Presiden Soekarno. Lalu Presiden Soekarno memerintahkan pelukis istana yaitu Dullah untuk melukis kembali rancangan Sultan Hamid II itu.
Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan autentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974.
Sedangkan, lambang legara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Istana Kadriyah, Pontianak. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (tahun 1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan "ide perisai Pancasila" muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.
Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.
Inilah hasil karya anak bangsa Sultan Hamid II yang diramu dari berbagai aspirasi. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman keluarga kesultanan Pontianak di Batulayang.
Baca Juga: Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, Tokoh Ulama Penentu Tanggal Kemerdekaan RI
(rhs)
Lihat Juga :