Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung
Kamis, 06 Agustus 2020 - 06:29 WIB
Selama tiga puluh sembilan tahun ia mengembara ke berbagai negeri, belajar di permukiman-permukiman para syaikh dan mengumpulkan tulisan-tulisan para Sufi yang saleh, sekalian dengan legenda-legenda dan cerita-cerita.
Baca juga: Imam Al-Ghazali (2): Tarekat sampai Untung dan Rugi )
Kemudian ia pun kembali ke Nisyapur di mana ia melewatkan sisa hidupnya.
Konon ia memiliki pengertian yang lebih dalam tentang alam pikiran Sufi dibandingkan dengan siapa pun di zamannya. Ia mengarang sekitar dua ratus ribu sajak dan banyak karya prosa.
Salah satu karyanya yang konon menjadi ispirasi karya-karya Jalaluddin Rumi adalah Mantiqut Thair (Musyawarah Burung). Sebagaimana dikatakan Syed Hossein Nasr, sajak-sajaknya tidak hanya didiskusikan secara serius oleh para sastrawan, tetapi juga dikutip oleh tukang roti dan tukang sepatu yang bahkan mungkin tidak mengenal sastra.
Baca juga: Ini Salah Satu Kemaksiatan Hati yang Sangat Berbahaya
Ia hidup sebelum Jalaluddin Rumi. Ditanya siapa yang lebih pandai di antara keduanya itu, seorang sufi mengatakan, "Rumi membubung ke puncak kesempurnaan bagai rajawali dalam sekejap mata; Attar mencapai tempat itu juga dengan merayap seperti semut. Rumi mengatakan, "Attar ialah jiwa itu sendiri."
Garcin de Tassy menuturkan bahwa dalam tahun 1862 Nicholas Khanikoff menemukan sebuah batu nisan di luar Nisyapur, yang didirikan antara tahun 1469 dan 1506 (sekitar dua ratus lima puluh tahun sepeninggal Attar). Di situ terukir inskripsi dalam bahasa Parsi. Terjemahan Tassy atas inskripsi itu ke dalam bahasa Perancis dapat diterjemahkan pula sebagai berikut:
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Allah Kekal
Baca juga: Imam Al-Ghazali (2): Tarekat sampai Untung dan Rugi )
Kemudian ia pun kembali ke Nisyapur di mana ia melewatkan sisa hidupnya.
Konon ia memiliki pengertian yang lebih dalam tentang alam pikiran Sufi dibandingkan dengan siapa pun di zamannya. Ia mengarang sekitar dua ratus ribu sajak dan banyak karya prosa.
Salah satu karyanya yang konon menjadi ispirasi karya-karya Jalaluddin Rumi adalah Mantiqut Thair (Musyawarah Burung). Sebagaimana dikatakan Syed Hossein Nasr, sajak-sajaknya tidak hanya didiskusikan secara serius oleh para sastrawan, tetapi juga dikutip oleh tukang roti dan tukang sepatu yang bahkan mungkin tidak mengenal sastra.
Baca juga: Ini Salah Satu Kemaksiatan Hati yang Sangat Berbahaya
Ia hidup sebelum Jalaluddin Rumi. Ditanya siapa yang lebih pandai di antara keduanya itu, seorang sufi mengatakan, "Rumi membubung ke puncak kesempurnaan bagai rajawali dalam sekejap mata; Attar mencapai tempat itu juga dengan merayap seperti semut. Rumi mengatakan, "Attar ialah jiwa itu sendiri."
Garcin de Tassy menuturkan bahwa dalam tahun 1862 Nicholas Khanikoff menemukan sebuah batu nisan di luar Nisyapur, yang didirikan antara tahun 1469 dan 1506 (sekitar dua ratus lima puluh tahun sepeninggal Attar). Di situ terukir inskripsi dalam bahasa Parsi. Terjemahan Tassy atas inskripsi itu ke dalam bahasa Perancis dapat diterjemahkan pula sebagai berikut:
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Allah Kekal
Lihat Juga :