Lagi, Soal Jilbab dan Batasan Aurat Perempuan Menurut Quraish Shihab
Kamis, 06 Agustus 2020 - 05:00 WIB
Tetapi bagaimana dengan ayat-ayat ini, yang menggunakan redaksi perintah?
Jawabannya --yang sering terdengar dalam diskusi-- adalah: Bukankah tidak semua perintah yang tercantum dalam Al-Quran merupakan perintah wajib? Pernyataan itu, menurut Quraish memang benar. Perintah menulis hutang-piutang (QS Al-Baqarah [2]: 282) adalah salah satu contohnya.
Baca juga: Berhias Boleh, yang Dilarang Tabarruj Al-Jahiliyah
Tetapi bagaimana dengan hadis-hadis yang demikian banyak? Jawabannya pun sama. “Bukankah seperti yang dikemukakan oleh Bin Asyur di atas bahwa ada hadis-hadis Nabi yang merupakan perintah, tetapi perintah dalam arti "sebaiknya" bukan seharusnya,” tulis Quraish Shihab.
Memang, kata Quraish lagi, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi teks ayat itu, bahkan mungkin berlebih. “Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan tangannya, bahwa mereka "secara pasti telah melanggar petunjuk agama," tuturnya.
Baca juga: Siti Khadijah: Hanya Setan yang Senang Melihat Aurat
Bukankah Al-Quran tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.
Namun demikian, kata Quraish lagi, kehati-hatian amat dibutuhkan, karena pakaian lahir dapat menyiksa pemakainya sendiri apabila ia tidak sesuai dengan bentuk badan si pemakai. Demikian pun pakaian batin. Apabila tidak sesuai dengan jati diri manusia, sebagai hamba Allah, yang paling mengetahui ukuran dan patron terbaik buat manusia.
Quraish Shihab berpendapat ada baiknya digarisbawahi dua hal dalam masalah tersebut.(Baca juga: Hindarilah Telanjang, Ada Malaikat yang Selalu Bersama Kita )
Jawabannya --yang sering terdengar dalam diskusi-- adalah: Bukankah tidak semua perintah yang tercantum dalam Al-Quran merupakan perintah wajib? Pernyataan itu, menurut Quraish memang benar. Perintah menulis hutang-piutang (QS Al-Baqarah [2]: 282) adalah salah satu contohnya.
Baca juga: Berhias Boleh, yang Dilarang Tabarruj Al-Jahiliyah
Tetapi bagaimana dengan hadis-hadis yang demikian banyak? Jawabannya pun sama. “Bukankah seperti yang dikemukakan oleh Bin Asyur di atas bahwa ada hadis-hadis Nabi yang merupakan perintah, tetapi perintah dalam arti "sebaiknya" bukan seharusnya,” tulis Quraish Shihab.
Memang, kata Quraish lagi, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi teks ayat itu, bahkan mungkin berlebih. “Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan tangannya, bahwa mereka "secara pasti telah melanggar petunjuk agama," tuturnya.
Baca juga: Siti Khadijah: Hanya Setan yang Senang Melihat Aurat
Bukankah Al-Quran tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.
Namun demikian, kata Quraish lagi, kehati-hatian amat dibutuhkan, karena pakaian lahir dapat menyiksa pemakainya sendiri apabila ia tidak sesuai dengan bentuk badan si pemakai. Demikian pun pakaian batin. Apabila tidak sesuai dengan jati diri manusia, sebagai hamba Allah, yang paling mengetahui ukuran dan patron terbaik buat manusia.
Quraish Shihab berpendapat ada baiknya digarisbawahi dua hal dalam masalah tersebut.(Baca juga: Hindarilah Telanjang, Ada Malaikat yang Selalu Bersama Kita )
Lihat Juga :