Genosida Israel: Sinyal Runtuhnya Kekuasaan Presiden Mesir Al-Sisi

Sabtu, 16 Desember 2023 - 16:08 WIB
Presiden Mesir Abdel Fatah Al Sisi. Foto/Ilustrasi: Welt.de
Presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi kini menghadapi dilema yang terkait genosida Israel atas warga Palestina di Gaza. Sekitar 90%penduduk Gaza – 1,9 juta warga Palestina menjadi pengungsi internal akibat serangan Israel . Sekitar satu juta dari mereka, kini tinggal di Rafah yang kecil, tempat mereka hidup dalam kondisi kumuh akibat pemboman Israel.

Israel memberi dua pilihan bagi warga Palestina: mati dipanggang api bom-bom Zionis atau melarikan diri ke Mesir.

Mantan analis senior Timur Tengah di CIA, Usher, kepada Middle East Eye atau MEE mengatakan gelombang besar warga Palestina yang melintasi perbatasan adalah skenario yang dapat menyebabkan runtuhnya rezim Sisi, yang sudah berada di bawah tekanan krisis ekonomi yang parah dan upaya untuk mengelola krisis ekonomi.

Sedangkan direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House, Sanam Vakil, mengatakan bahwa krisis di Rafah akan mengakibatkan “efek bumerang” pada pemerintah Israel “karena itu adalah garis merah kolektif dari dunia Arab serta pemerintahan Biden.”

Bahan Peledak di Gaza

Salah satu tindakan pertama Presiden Abdel Fattah el-Sisi setelah berkuasa adalah meningkatkan keamanan di perbatasan.

Dia membangun tembok logam besar dengan pagar tinggi dan menghancurkan lebih dari 3.000 terowongan menuju daerah kantong tersebut.

Sejak perang meletus, ia telah menempatkan perbatasan di bawah kendali yang lebih ketat, membangun penghalang pasir dan mengerahkan pasukan dan tank tambahan.

Mesir telah setuju untuk hanya mengizinkan warga berkewarganegaraan ganda dan sedikit orang yang terluka dari Rafah. Pada 13 Desember, 268 warga negara ganda dievakuasi melalui penyeberangan. Ada tanda-tanda bahwa mereka yang memiliki kemampuan sangat ingin melarikan diri.

Standar suap yang dibayarkan warga Palestina di Gaza untuk melintasi perbatasan telah meningkat dua atau tiga kali lipat dalam beberapa kasus menjadi US$5.000 per orang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!