Debat Capres Cawapres: Frasa Al-Jadal dalam Al-Quran
Senin, 22 Januari 2024 - 15:39 WIB
Wa laqad sarrafnaa fii haazal quraani linnaasi mn kulli masal; wa kaanal insaanu aksara shai'in jadalaa
"Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah."( QS Al-Kahfi : 54)
Baca juga: Debat Capres Cawapres: Al-Quran Kadang Gunakan Kata al-Mira’
Terkait dengan ayat ini, para mufassir berbeda-beda dalam memahami kata jadala. Muhammad al-Ansari al-Qurtubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, misalnya, menafsirkan jadala sebagai bantahan terhadap al-Qur’an. Mereka menunjuk manusia yang membantah al-Qur’an tersebut adalah al-Nad}r bin al-Harith. Sementara menurut al-Kalibi, manusia yang dimaksud adalah Ubay bin Khalf, sedangkan menurut al-Zujaj adalah orang-orang kafir, karena berdasarkan ayat wa yujadil al-ladzina kafaru bi al-batil (orang-orang kafir membantah dengan yang batil).
Di dalam kitab tafsirnya, al-Zuhayli menafsirkan kata jadala dengan arti manusia yang sering berdebat, bermusuhan, dan bersaing, kecuali orang yang mendapatkan petunjuk Allah.
Pendapat berbeda diungkapkan al-Sa’di, ia memahaminya sebagai perdebatan yang berasal dari watak atau tabiat dasar manusia, baik berdebat dalam hal kebaikan maupun keburukan.
Pendapat al-Sa’di ini sejalan dengan Ibn ‘Ashur, bahwa setiap manusia berkecenderungan untuk meyakinkan orang yang berbeda dengannya bahwa keyakinan dan perilakunya adalah yang paling benar.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa al-jadal berangkat dari prinsip-prinsip yang telah diyakini kebenarannya dan dipegang teguh tanpa ada keinginan untuk mundur dari argumentasinya. Sehingga al-jadal sering terjadi karena adanya perbedaan pemikiran dan keyakinan pada masing-masing pihak yang terlibat dalam forum diskusi tanpa memperhatikan sejauh mana kebenaran argumentasi yang telah dianutnya.
Baca juga: 6 Istilah Berdebat Menurut Al-Quran, Salah Satunya Al-Hiwar
"Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah."( QS Al-Kahfi : 54)
Baca juga: Debat Capres Cawapres: Al-Quran Kadang Gunakan Kata al-Mira’
Terkait dengan ayat ini, para mufassir berbeda-beda dalam memahami kata jadala. Muhammad al-Ansari al-Qurtubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, misalnya, menafsirkan jadala sebagai bantahan terhadap al-Qur’an. Mereka menunjuk manusia yang membantah al-Qur’an tersebut adalah al-Nad}r bin al-Harith. Sementara menurut al-Kalibi, manusia yang dimaksud adalah Ubay bin Khalf, sedangkan menurut al-Zujaj adalah orang-orang kafir, karena berdasarkan ayat wa yujadil al-ladzina kafaru bi al-batil (orang-orang kafir membantah dengan yang batil).
Di dalam kitab tafsirnya, al-Zuhayli menafsirkan kata jadala dengan arti manusia yang sering berdebat, bermusuhan, dan bersaing, kecuali orang yang mendapatkan petunjuk Allah.
Pendapat berbeda diungkapkan al-Sa’di, ia memahaminya sebagai perdebatan yang berasal dari watak atau tabiat dasar manusia, baik berdebat dalam hal kebaikan maupun keburukan.
Pendapat al-Sa’di ini sejalan dengan Ibn ‘Ashur, bahwa setiap manusia berkecenderungan untuk meyakinkan orang yang berbeda dengannya bahwa keyakinan dan perilakunya adalah yang paling benar.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa al-jadal berangkat dari prinsip-prinsip yang telah diyakini kebenarannya dan dipegang teguh tanpa ada keinginan untuk mundur dari argumentasinya. Sehingga al-jadal sering terjadi karena adanya perbedaan pemikiran dan keyakinan pada masing-masing pihak yang terlibat dalam forum diskusi tanpa memperhatikan sejauh mana kebenaran argumentasi yang telah dianutnya.
Baca juga: 6 Istilah Berdebat Menurut Al-Quran, Salah Satunya Al-Hiwar
(mhy)
Lihat Juga :