Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah

Kamis, 13 Agustus 2020 - 08:21 WIB
"Aku akan mengantungmu!" ucap seorang raja lalim dan bodoh kepada Nashruddin. "Jika engkau tidak bisa membuktikan bahwa dirimu memiliki wawasan yang mendalam seperti yang telah dinisbatkan kepadamu."

Mendadak Nashruddin menyatakan bahwa dirinya bisa melihat seekor burung emas di langit dan iblis di dalam bumi. "Tetapi bagaimana engkau bisa melakukannya?" tanya sang raja. "Rasa takut," jawab Nashruddin, "itulah yang Tuan perlukan."

"Takut" dalam kosa kata Sufi, menurut Idries Shah, merupakan pengaktifan kesadaran yang bisa menghasilkan persepsi surga-inderawi (extra -sensory).

Ini merupakan suatu kawasan di mana akal-formal tidak dipergunakan, dan fakultas lain dari jiwa (mind) didorong untuk bekerja.

Baca juga: Pada Fase Tertentu Manusia Dapat Terbang dengan Kekuatannya Sendiri

Tetapi Nashruddin, dengan cara yang sama sekali unik, berusaha mempergunakan pirantHntelektualitas yang sama untuk tujuan-tujuannya sendiri. Gema dari tujuan ini bisa ditemukan pada the Legend of Nasrudin, di mana di dalamnya diriwayatkan bahwa Hussein, pendiri sistem tersebut, mengambil utusannya yang telah dirancang, Nashruddin, dari cengkeraman "Pendosa Tua" -- sistem pemikiran yang mentah di mana hampir kita semua hidup di dalamnya.

"Hussein" dalam bahasa Arab dikaitkan dengan konsep kebajikan, "Hussein" bermakna "kuat, sulit untuk dimasuki".

Ketika Hussein mencari ke seluruh dunia seorang guru yang akan membawa pesannya ke seluruh generasi, ia hampir putus asa ketika mendengar suara ribut. Sang Pendosa-Tua memakai salah satu muridnya karena menceritakan lelucon. "Nashruddin" bentak sang Pendosa-Tua, "karena sikapmu yang keterlaluan aku mengutukmu menjadi bahan kekonyolan dunia. Oleh sebab itu, jika satu dari cerita-ceritamu yang rancu diceritakan, maka enam cerita lagi pasti akan terdengar secara beruntun sampai engkau terlihat jelas sebagai sosok yang lucu."

Baca juga: Tradisi Alkimia Masuk ke Barat Melalui Sumber-Sumber Arab

Diyakini bahwa pengaruh mistis dari tujuh cerita Nashruddin, yang dipelajari secara beruntun, adalah cukup untuk mempersiapkan seseorang menuju pencerahan.

Hussein, yang menguping hal itu, menyadari bahwa dari setiap situasi akan muncul pengobatannya sendiri, dan dengan demikian dari cara dimana kejahatan-kejahatan Pendosa-Tua terjadi itulah bisa dibawa pada perspektifnya yang sejati. Ia akan menjaga kebenaran melalui Nashruddin.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!