Kisah Kesedihan Khalifah Umar atas Wafatnya Khalid bin Walid

Selasa, 18 Juni 2024 - 05:15 WIB
Wafatnya Khalid membuat Khalifah Umar sangat sedih. Ilustrasi: Art Station
Pahlawan Islam, Pedang Allah Khalid bin Walid wafat 4 tahun setelah dirinya dipecat dari segala jabatannya di ketentaraan oleh Khalifah Umar bin Khattab . Beliau tidak meninggalkan harta kekayaan selain kuda, pelayan dan senjatanya.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) mengisahkan setelah mengetahui hal itu Umar merasa sedih sekali dengan mengatakan: “Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Sulaiman! Sungguh tidak seperti yang kami duga.”

Selanjutnya pada saat ia berpidato di depan orang banyak di Jabiah dengan mengatakan: “Saya meminta maaf kepada kalian karena saya telah memecat Khalid bin Walid. Saya memintanya menyimpan harta itu untuk kaum duafa Muhajirin, dia berikan kepada orang-orang kuat, berpangkat dan suka menuntut. Maka ketika itulah saya mengangkat Abu Ubaidah .”

Baca juga: Kasus Khalid bin Walid, Cara Pandang Umar dan Abu Bakar

Permintaan maaf Khalifah Umar ini, menurut Haekal, tidak bisa diterima sebagian kaum muslimin. Mereka tidak dapat ditenangkan dengan pengumuman itu dan mereka menganggap semua itu bukan alasan untuk memecat Khalid. Dalam hati sebagian besar mereka tetap menyimpan kemarahan besar atas pemecatan tersebut.

Ketika berpidato di Jabiah meminta maaf, Abu Amr bin Hisn bin al-Mugirah menantangnya dengan mengatakan: “Saya tidak memaafkanmu, Umar! Anda memecat seorang wakil yang dulu mendapat kepercayaan Rasulullah SAW, dan diserahi panji pimpinan yang diberikan sendiri oleh Rasulullah SAW, sedang Anda menyarungkan pedang yang telah dihunuskan oleh Allah. Anda telah memutuskan hubungan silaturahmi dan mendengki seorang saudara sepupu.”

Dalam hal ini Umar menjawab: “Anda masih kerabat dekat dan Anda masih muda. Anda marah karena dia sepupumu.”

Ya, Khalid masih hidup 4 tahun lagi sesudah pemecatannya, jauh dan medan perang yang selama itu menjadi kebanggaan dan kemuliaannya. Hatinya sedih melihat saudara-saudaranya dan orang-orang setanah tumpah darahnya menerobos Palestina ke Mesir, ke Irak dan ke Persia , sedang dia tinggal di rumah.

Pedangnya untuk mencapai kemenangan atau mati syahid, disarungkan dan tak dipakai lagi. Tak lagi tampak sebagai orang yang terkenal di hadapan para pahlawan, yang telah menggetarkan jantung musuh dan menebas leher-leher mereka.

Baca juga: Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat

Selama tahun-tahun itu mengapa tidak dibiarkan saja ia menikmati kejayaan dengan menegakkan panjinya, mengenakan mahkota perjuangannya?
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!