Perang Salib I: Kisah Kekalahan Turki Seljuk Rum sehingga Memindahkan Ibu Kotanya
Senin, 29 Juli 2024 - 05:15 WIB
Pasukan Salib dari berbagai negara di Eropa terbentuk pada tahun 1096. Mereka ini sebelum ke Yerusalem, menuju Konstantinopel terlebih dahulu yang bertujuan untuk membantu Byzantium mengalahkan Turki Seljuk atas permintaan Kaisar Alexios I Komnenos.
Pasukan Salib menuju Konstantinopel melalui darat dan laut. Jalur darat menuju Konstantinopel harus dilalui pasukan Salib dengan melewati daerah pegunungan yang sangat banyak di daerah Balkan.
Perjalanan darat lebih aman, namun banyak halangan dan memakan waktu perjalanan yang cukup lama. Jalur kedua adalah laut dengan mengarungi Laut Mediterania. Jalur laut lebih bahaya karena pada waktu itu pelayaran masih tergantung oleh cuaca, namun Konstantinopel akan lebih cepat dicapai jika ditempuh dari Pelabuhan Messina, Bari, ataupun Venesia.
Pada musim panas tahun 1096 pasukan Salib tiba di Konstantinopel. Konstantinopel dijadikan tempat untuk mengumpulkan pasukan dari Eropa Barat yang menempuh jalan yang berbeda-beda, baik darat maupun laut.
Terdapat empat pimpinan pasukan Salib yang terkenal dari Eropa Barat yang datang di Konstantinopel. Pasukan yang datang pertama adalah Hugh Vermandois, anak Raja Prancis, Henry I.
Baca juga: Tragedi Perang Salib dan Kolonialisme Eropa Menurut Montgomery Watt
Dalam perjalanannya dari Prancis ke Konstantinopel, ia melakukan perjalanan lewat laut melalui Bari, Italia. Pasukan kedua yang tiba di Konstantinopel adalah Godfrey Bouillon, berasal dari Prancis, tepatnya di Boulogne.
Berbeda dengan Hugh Vermandois, Godfrey melewati jalan darat yang sangat berat setelah melewati Hungaria.
Pasukan ketiga adalah pasukan dari Raymond IV, penguasa Toulouse, Prancis. Raymond melewati jalur darat untuk sampai ke Konstantinopel.
Pasukan keempat adalah pasukan Bohemond dari Taranto, Sisilia. Bohemond juga memakai jalur darat, jalur yang sama yang dilewati Raymond.
Jonathan Riley-Smith dalam bukunya berjudul "The First Crusade and Idea of Crusading" (New York: Continuum, 2003) menyebut Bohemond dan pasukannya yang mayoritas terdiri dari orang-orang Italia pada waktu itu lebih memilih jalur darat walaupun mereka lebih mudah mencapai Konstantinopel melalui jalur laut.
Keempat pemimpin tersebut merupakan perpaduan pasukan Salib yang solid karena mempunyai keimanan Kristen yang kuat dan pasukan yang terlatih.
Pasukan Salib menuju Konstantinopel melalui darat dan laut. Jalur darat menuju Konstantinopel harus dilalui pasukan Salib dengan melewati daerah pegunungan yang sangat banyak di daerah Balkan.
Perjalanan darat lebih aman, namun banyak halangan dan memakan waktu perjalanan yang cukup lama. Jalur kedua adalah laut dengan mengarungi Laut Mediterania. Jalur laut lebih bahaya karena pada waktu itu pelayaran masih tergantung oleh cuaca, namun Konstantinopel akan lebih cepat dicapai jika ditempuh dari Pelabuhan Messina, Bari, ataupun Venesia.
Pada musim panas tahun 1096 pasukan Salib tiba di Konstantinopel. Konstantinopel dijadikan tempat untuk mengumpulkan pasukan dari Eropa Barat yang menempuh jalan yang berbeda-beda, baik darat maupun laut.
Terdapat empat pimpinan pasukan Salib yang terkenal dari Eropa Barat yang datang di Konstantinopel. Pasukan yang datang pertama adalah Hugh Vermandois, anak Raja Prancis, Henry I.
Baca juga: Tragedi Perang Salib dan Kolonialisme Eropa Menurut Montgomery Watt
Dalam perjalanannya dari Prancis ke Konstantinopel, ia melakukan perjalanan lewat laut melalui Bari, Italia. Pasukan kedua yang tiba di Konstantinopel adalah Godfrey Bouillon, berasal dari Prancis, tepatnya di Boulogne.
Berbeda dengan Hugh Vermandois, Godfrey melewati jalan darat yang sangat berat setelah melewati Hungaria.
Pasukan ketiga adalah pasukan dari Raymond IV, penguasa Toulouse, Prancis. Raymond melewati jalur darat untuk sampai ke Konstantinopel.
Pasukan keempat adalah pasukan Bohemond dari Taranto, Sisilia. Bohemond juga memakai jalur darat, jalur yang sama yang dilewati Raymond.
Jonathan Riley-Smith dalam bukunya berjudul "The First Crusade and Idea of Crusading" (New York: Continuum, 2003) menyebut Bohemond dan pasukannya yang mayoritas terdiri dari orang-orang Italia pada waktu itu lebih memilih jalur darat walaupun mereka lebih mudah mencapai Konstantinopel melalui jalur laut.
Keempat pemimpin tersebut merupakan perpaduan pasukan Salib yang solid karena mempunyai keimanan Kristen yang kuat dan pasukan yang terlatih.
Lihat Juga :