Tragedi Perang Salib dan Kolonialisme Eropa Menurut Montgomery Watt
Selasa, 03 Januari 2023 - 14:58 WIB
loading...
secara historis, pemikiran Kristen dewasa ini amat tidak bangga kepada Perang Salib dan memperkenankan adanya unsur kolonialisme terhadap Perang Salib itu. Foto/Ilustrasi: smithsonianmagnom
A
A
A
William Montgomery Watt mengatakan bagi studi dewasa ini, masalah sentral tentang Perang Salib . Bagaimana peristiwa-peristiwa itu sendiri terjadi dan refleksi-refleksi tentangnya di abad-abad terkemudian, mempengaruhi persepsi-persepsi Islam terhadap Kristen .
"Hal pertama yang harus ditegaskan adalah bahwa Perang Salib berasosiasi dengan meningkatnya rasa keagamaan yang dahsyat di Eropa Barat ," ujarnya.
Sekadar mengingatkan William Montgomery Watt adalah seorang penulis barat tentang Islam. Ia pernah mendapatkan gelar "Emiritus Professor," gelar penghormatan tertinggi bagi seorang ilmuwan. Gelar ini diberikan kepadanya oleh Universitas Edinburgh. Penghormatan ini diberikan kepada Watt atas keahliannya di bidang bahasa Arab dan Kajian Islam (Islamic Studies). Tentu kajian Islam ini ia tekuni selama bertahun-tahun sehingga sampai kepada keahlian yang dimilikinya. Hasilnya, berbagai buku telah dilahirkan dari hasil pikiran dan penelitiannya tentang Islam.
Berikut ini penuturan William Montgomery Watt selengkapnya sebagaimana ditulis dalam bukunya yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996):
Baca juga: Persepsi Umum Kenabian Menurut Orientalis William Montgomery Watt
Perang Salib
Ada banyak gerakan bagi pembaharuan Gereja, ditunjukkan dengan memerangi kekejaman dan penghianatan yang khusus. Sebuah biara yang didapatkan di Cluny, Perancis, tahun 910 Masehi dalam membantu berkembangnya ketaatan kepada kekuasaan monastik Benedictine dan sedemikian baiknya didukung sejak abad ke-11 oleh lebih dari 200 rumah anak perempuan.
Semangat keagamaan juga ditunjukkan sendiri oleh ikut sertanya dalam hijrah untuk meningkatkan jumlah penduduk. Satu sentra penting adalah tempat suci Santiago (Saint James) di Compostela Spanyol barat laut, namun untuk mencapai tujuan itu dengan kemampuan hijrah paling tinggi adalah ke kuburan suci di Jerusalem.
Tiga puluh tahun sebelum Perang Salib Pertama, gerombolan dari 7000 penduduk dinyatakan telah pergi meninggalkan Rhine ke Jerusalem, dipimpin oleh Uskup Agung dan uskup di bawahnya.
Pada tahun 1076 Masehi Jerusalem berada di bawah kekuasaan langsung Amir Turki yang amat menyulitkan bagi orang-orang yang berziarah ke sana. Ini agaknya menjadi salah satu faktor di samping Paus Urban II yang menyatakan keputusannya untuk mengobarkan Perang Salib di tahun 1095 Masehi pada konsili Clermont di Perancis.
Walaupun demikian, Paus dan negarawan senior itu sadar akan alasan-alasan tertentu yang sifatnya lebih klasik bagi Perang Salib. Akhirnya kaisar Byzantine harus meminta bantuan kepada Paus, mungkin bantuan ini dalam bentuk prajurit upahan.
Baca juga: Orientalis Montgomery Watt Kupas Ramalan Bibel tentang Nabi Muhammad SAW
Rakyat Byzantine harus menderita kekalahan yang serius dari umat Islam di Manzikert pada tahun 1071 Masehi dan harus menarik diri dari Asia Kecil. Lebih dari itu, telah terjadi kemunduran hubungan-hubungan antara separuh Gereja Barat dan timur pada tahun 1054 Masehi, sekalipun tidak mengalami kehancuran sempurna secara total.
Maka tak pelak lagi, Paus diharapkan dapat mengirimkan bantuan untuk memperbaiki hubungan-hubungan tersebut. Abad ke-11bagi rakyat biasa di Eropa Barat menjadi zaman keamanan yang lebih besar dan makin meningkatnya kemakmuran. Namun ini berarti bahwa bagi keluarga para bangsawan akan lebih tertutup kesempatannya untuk berkuasa dan mengakibatkan banyak terjadi perlawanan rakyat dan meredusir perselisihan di antara umat Kristen.
Peristiwa ini agaknya tidak terjadi bagi Islam sebagaimana pola Nabi Muhammad SAW yang diikuti oleh suku-suku bangsa Arabia.
Paus Gregory VII (1073-1085 Masehi) mengabsahkan perubahan sikap Kristen terhadap perang. Prajurit-prajurit yang sebelumnya, walaupun karena suatu sebab mereka berselisih, seperti pasukan William Sang Penakluk di Hasting pada tahun 1066 Masehi, menuntut adanya penebusan dosa bagi kematian.
Kendatipun demikian, Paus kini menyatakan bahwa kematian mereka itu terhormat, tidak berdosa, berjuang untuk mengangkat hak bagi masyarakat. Hal ini barangkali terjadi sebagai akibat Reconquista bangsa Spanyol.
Ahli sejarah, Arnold Toynbee, dari perspektif yang luas menulis dalam buku "Study of History", melihat Perang Salib itu dimulai pada tahun 1018 Masehi ketika bantuan dari sekelompok orang Kristen di sana dilancarkan untuk memerangi kaum muslimin.
Selama waktu berkunjung ke Santiago, telah menumbuhkan popularitas sebelah utara kota Pyrenee dan sebagian harus mengetahui kehancuran yang diakibatkan oleh umat Islam pada tahun 997 Masehi, sungguhpun mereka mengecualikan peninggalan aktual Saint James.
Baca juga: Ketika Orientalis Montgomery Watt Bicara tentang Kesempurnaan dan Kemandirian Islam
Banyak lagi ekspedisi dari Perancis ke Spanyol yang lain pada abad sebelas yang dilakukan dengan restu Gereja, sebab ekspedisi-ekspedisi itu dilakukan atas nama umat Kristen sebagai suatu keseluruhan. Hal ini tidak mengherankan karena banyak orang lelaki Prancis menanggapi panggilan Paus menuju Perang Salib Pertama.
Para serdadu yang ikut berpartisipasi dalam Perang Salib berkumpul di Constantinople di tahun 1097 Masehi, lalu bergerak ke selatan lewat Asia Kecil, dan pada gilirannya mereka dapat merebut kota Jerusalem di tahun 1099 Masehi.
Empat negara Perang Salib yang berdiri adalah: kerajaan Jerusalem, Antioch, Edessa dan Tripoli. Edessa direbut kembali oleh umat Islam di tahun 1144 Masehi, namun Jerusalem tetap bertahan 1187 Masehi.
Sama sekali ada penggabungan ke Perang Salib dan ekspedisi-ekspedisi yang lain pada suatu tipe Perang Salib, sebagian di Eropa menentang heretika (bid'ah) Kristen. Namun hasil yang paling solid menentang umat Islam adalah perebutan Acre dan sebidang pesisir Palestina di tahun 1991 Masehi dan peninggalan mereka selama satu abad.
Dalam waktu yang lama umat Kristen menunjukkan pembasmian etnis manusia besar-besaran dalam suasana yang romantis. Diasosiasikan dengan semangat agama dan sarat dengan cita-cita kesatriaan Kristen. Dengan baik hal ini dapat diapresiasikan oleh Shakespeares dalam judul buku Henry IV, bab I, dimana letaknya untuk terus mengadakan pembunuhan besar-besaran, bukan sekedar sebagian bantuan sebagai cita-cita menuju perjuangan akhir antara zaman Pencerahan, melainkan juga sebagai tugas Kristen:
Baca juga: Gambaran Kristen Mekkah di Era Rasulullah SAW Menurut William Montgomery Watt
"Hal pertama yang harus ditegaskan adalah bahwa Perang Salib berasosiasi dengan meningkatnya rasa keagamaan yang dahsyat di Eropa Barat ," ujarnya.
Sekadar mengingatkan William Montgomery Watt adalah seorang penulis barat tentang Islam. Ia pernah mendapatkan gelar "Emiritus Professor," gelar penghormatan tertinggi bagi seorang ilmuwan. Gelar ini diberikan kepadanya oleh Universitas Edinburgh. Penghormatan ini diberikan kepada Watt atas keahliannya di bidang bahasa Arab dan Kajian Islam (Islamic Studies). Tentu kajian Islam ini ia tekuni selama bertahun-tahun sehingga sampai kepada keahlian yang dimilikinya. Hasilnya, berbagai buku telah dilahirkan dari hasil pikiran dan penelitiannya tentang Islam.
Berikut ini penuturan William Montgomery Watt selengkapnya sebagaimana ditulis dalam bukunya yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996):
Baca juga: Persepsi Umum Kenabian Menurut Orientalis William Montgomery Watt
Perang Salib
Ada banyak gerakan bagi pembaharuan Gereja, ditunjukkan dengan memerangi kekejaman dan penghianatan yang khusus. Sebuah biara yang didapatkan di Cluny, Perancis, tahun 910 Masehi dalam membantu berkembangnya ketaatan kepada kekuasaan monastik Benedictine dan sedemikian baiknya didukung sejak abad ke-11 oleh lebih dari 200 rumah anak perempuan.
Semangat keagamaan juga ditunjukkan sendiri oleh ikut sertanya dalam hijrah untuk meningkatkan jumlah penduduk. Satu sentra penting adalah tempat suci Santiago (Saint James) di Compostela Spanyol barat laut, namun untuk mencapai tujuan itu dengan kemampuan hijrah paling tinggi adalah ke kuburan suci di Jerusalem.
Tiga puluh tahun sebelum Perang Salib Pertama, gerombolan dari 7000 penduduk dinyatakan telah pergi meninggalkan Rhine ke Jerusalem, dipimpin oleh Uskup Agung dan uskup di bawahnya.
Pada tahun 1076 Masehi Jerusalem berada di bawah kekuasaan langsung Amir Turki yang amat menyulitkan bagi orang-orang yang berziarah ke sana. Ini agaknya menjadi salah satu faktor di samping Paus Urban II yang menyatakan keputusannya untuk mengobarkan Perang Salib di tahun 1095 Masehi pada konsili Clermont di Perancis.
Walaupun demikian, Paus dan negarawan senior itu sadar akan alasan-alasan tertentu yang sifatnya lebih klasik bagi Perang Salib. Akhirnya kaisar Byzantine harus meminta bantuan kepada Paus, mungkin bantuan ini dalam bentuk prajurit upahan.
Baca juga: Orientalis Montgomery Watt Kupas Ramalan Bibel tentang Nabi Muhammad SAW
Rakyat Byzantine harus menderita kekalahan yang serius dari umat Islam di Manzikert pada tahun 1071 Masehi dan harus menarik diri dari Asia Kecil. Lebih dari itu, telah terjadi kemunduran hubungan-hubungan antara separuh Gereja Barat dan timur pada tahun 1054 Masehi, sekalipun tidak mengalami kehancuran sempurna secara total.
Maka tak pelak lagi, Paus diharapkan dapat mengirimkan bantuan untuk memperbaiki hubungan-hubungan tersebut. Abad ke-11bagi rakyat biasa di Eropa Barat menjadi zaman keamanan yang lebih besar dan makin meningkatnya kemakmuran. Namun ini berarti bahwa bagi keluarga para bangsawan akan lebih tertutup kesempatannya untuk berkuasa dan mengakibatkan banyak terjadi perlawanan rakyat dan meredusir perselisihan di antara umat Kristen.
Peristiwa ini agaknya tidak terjadi bagi Islam sebagaimana pola Nabi Muhammad SAW yang diikuti oleh suku-suku bangsa Arabia.
Paus Gregory VII (1073-1085 Masehi) mengabsahkan perubahan sikap Kristen terhadap perang. Prajurit-prajurit yang sebelumnya, walaupun karena suatu sebab mereka berselisih, seperti pasukan William Sang Penakluk di Hasting pada tahun 1066 Masehi, menuntut adanya penebusan dosa bagi kematian.
Kendatipun demikian, Paus kini menyatakan bahwa kematian mereka itu terhormat, tidak berdosa, berjuang untuk mengangkat hak bagi masyarakat. Hal ini barangkali terjadi sebagai akibat Reconquista bangsa Spanyol.
Ahli sejarah, Arnold Toynbee, dari perspektif yang luas menulis dalam buku "Study of History", melihat Perang Salib itu dimulai pada tahun 1018 Masehi ketika bantuan dari sekelompok orang Kristen di sana dilancarkan untuk memerangi kaum muslimin.
Selama waktu berkunjung ke Santiago, telah menumbuhkan popularitas sebelah utara kota Pyrenee dan sebagian harus mengetahui kehancuran yang diakibatkan oleh umat Islam pada tahun 997 Masehi, sungguhpun mereka mengecualikan peninggalan aktual Saint James.
Baca juga: Ketika Orientalis Montgomery Watt Bicara tentang Kesempurnaan dan Kemandirian Islam
Banyak lagi ekspedisi dari Perancis ke Spanyol yang lain pada abad sebelas yang dilakukan dengan restu Gereja, sebab ekspedisi-ekspedisi itu dilakukan atas nama umat Kristen sebagai suatu keseluruhan. Hal ini tidak mengherankan karena banyak orang lelaki Prancis menanggapi panggilan Paus menuju Perang Salib Pertama.
Para serdadu yang ikut berpartisipasi dalam Perang Salib berkumpul di Constantinople di tahun 1097 Masehi, lalu bergerak ke selatan lewat Asia Kecil, dan pada gilirannya mereka dapat merebut kota Jerusalem di tahun 1099 Masehi.
Empat negara Perang Salib yang berdiri adalah: kerajaan Jerusalem, Antioch, Edessa dan Tripoli. Edessa direbut kembali oleh umat Islam di tahun 1144 Masehi, namun Jerusalem tetap bertahan 1187 Masehi.
Sama sekali ada penggabungan ke Perang Salib dan ekspedisi-ekspedisi yang lain pada suatu tipe Perang Salib, sebagian di Eropa menentang heretika (bid'ah) Kristen. Namun hasil yang paling solid menentang umat Islam adalah perebutan Acre dan sebidang pesisir Palestina di tahun 1991 Masehi dan peninggalan mereka selama satu abad.
Dalam waktu yang lama umat Kristen menunjukkan pembasmian etnis manusia besar-besaran dalam suasana yang romantis. Diasosiasikan dengan semangat agama dan sarat dengan cita-cita kesatriaan Kristen. Dengan baik hal ini dapat diapresiasikan oleh Shakespeares dalam judul buku Henry IV, bab I, dimana letaknya untuk terus mengadakan pembunuhan besar-besaran, bukan sekedar sebagian bantuan sebagai cita-cita menuju perjuangan akhir antara zaman Pencerahan, melainkan juga sebagai tugas Kristen:
Baca juga: Gambaran Kristen Mekkah di Era Rasulullah SAW Menurut William Montgomery Watt
Lihat Juga :