Perang Salib VII: Paus Ingkar Janji, Umat Islam Merebut Yerusalem Kembali
Kamis, 08 Agustus 2024 - 15:59 WIB
Kedatangan Pasukan Salib VII yang dipimpin oleh Louis VII sebetulnya disebabkan oleh jatuhnya Yerusalem pada tahun 1244. Ilustrasi: Ist
Perang Salib VII terjadi pada tahun 1248-1254. Kedatangan Pasukan Salib VII yang dipimpin oleh Louis VII disebabkan jatuhnya Yerusalem pada tahun 1244 ke tangan Umat Islam .
Jati Pamungkas, S.Hum, M.A. dalam bukunya berjudul "Perang Salib Timur dan Barat, Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa" memaparkan pada waktu itu sesuai perjanjian di Siprus bahwa Yerusalem harus diserahkan kepada Dinasti Ayyubiyah pada tahun 1244. Namun Pasukan Salib di Yerusalem dan didukung oleh Kerajaan Yerusalem enggan memberikan kota tersebut.
Al-Malik al-Shalih, Sultan Dinasti Ayyubiyah akhirnya menyerang Yerusalem dan merebutnya di pertengahan tahun 1244. Peristiwa tersebut didengar oleh Paus Inosentius IV, sehingga dia menyerukan Perang Salib dalam Konsili Lyon dan memutuskan Louis IX sebagai pemimpinnya.
Baca juga: Kisah Sultan Al-Kamil Menyerahkan Yerusalem kepada Pasukan Salib Tanpa Perang
Tanpa Perang
Pada Perang Salib sebelumnya, Perang Salib VI, Sultan al-Kamil menyerahkan Yerusalem kepada Pasukan Salib dalam waktu 15 tahun. Hal itu terjadi lewat diplomasi Frederick II.
Ini memberikan dampak positif bagi Pasukan Salib karena pengakuan Islam terhadap pemerintahan Kristen di Kota Suci dan sekitarnya. Hanya saja, pemimpin Katolik di Roma tidak puas atas hasil Perang Salib VI tersebut.
Alasannya adalah tujuan utama Perang Salib adalah menguasai Yerusalem dan juga mengamankan wilayah-wilayah sekitarnya karena Kristen lahir di daerah tersebut.
Penguasaan yang sementara tersebut juga tidak disukai oleh paus yang baru terpilih di tahun 1243 yaitu Paus Inosentius IV.
Peranan besar Frederick II dalam perjanjian damai dengan Sultan al-Kamil pada Perang Salib VI membuat Kerajaan Suci Roma tidak dapat mengikuti Perang Salib VII jika sewaktu-waktu Paus memerintahkan perang.
Jati Pamungkas, S.Hum, M.A. dalam bukunya berjudul "Perang Salib Timur dan Barat, Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa" memaparkan pada waktu itu sesuai perjanjian di Siprus bahwa Yerusalem harus diserahkan kepada Dinasti Ayyubiyah pada tahun 1244. Namun Pasukan Salib di Yerusalem dan didukung oleh Kerajaan Yerusalem enggan memberikan kota tersebut.
Al-Malik al-Shalih, Sultan Dinasti Ayyubiyah akhirnya menyerang Yerusalem dan merebutnya di pertengahan tahun 1244. Peristiwa tersebut didengar oleh Paus Inosentius IV, sehingga dia menyerukan Perang Salib dalam Konsili Lyon dan memutuskan Louis IX sebagai pemimpinnya.
Baca juga: Kisah Sultan Al-Kamil Menyerahkan Yerusalem kepada Pasukan Salib Tanpa Perang
Tanpa Perang
Pada Perang Salib sebelumnya, Perang Salib VI, Sultan al-Kamil menyerahkan Yerusalem kepada Pasukan Salib dalam waktu 15 tahun. Hal itu terjadi lewat diplomasi Frederick II.
Ini memberikan dampak positif bagi Pasukan Salib karena pengakuan Islam terhadap pemerintahan Kristen di Kota Suci dan sekitarnya. Hanya saja, pemimpin Katolik di Roma tidak puas atas hasil Perang Salib VI tersebut.
Alasannya adalah tujuan utama Perang Salib adalah menguasai Yerusalem dan juga mengamankan wilayah-wilayah sekitarnya karena Kristen lahir di daerah tersebut.
Penguasaan yang sementara tersebut juga tidak disukai oleh paus yang baru terpilih di tahun 1243 yaitu Paus Inosentius IV.
Peranan besar Frederick II dalam perjanjian damai dengan Sultan al-Kamil pada Perang Salib VI membuat Kerajaan Suci Roma tidak dapat mengikuti Perang Salib VII jika sewaktu-waktu Paus memerintahkan perang.
Lihat Juga :