Perang Salib VII: Paus Ingkar Janji, Umat Islam Merebut Yerusalem Kembali

Kamis, 08 Agustus 2024 - 15:59 WIB
Baca juga: Perang Salib V: Kisah Pasukan Salib dan Turki Seljuk Menyerang Shalahuddin Al Ayyubi

Prancis yang pada waktu itu muncul sebagai kekuatan terkuat di Eropa melalui restu Kepausan di Roma, akhirnya berangkat ke Siprus dari Marseille.

Peter Lock dalam bukunya berjudul "The Routledge Companion to The Crusades" (New York: Routledge, 2013) menjelaskan kala itu Pasukan Salib dipimpin oleh Louis IX. "Pasukan Salib hanya terdiri dari Kerajaan Prancis saja karena semua kerajaan di Eropa menolak Perang Salib VII," tuturnya.

Alasan kuat kerajaan-kerajaan di Eropa menolak Perang Salib adalah karena tiga hal, yaitu:

1. Tidak ada alasan bagi pasukan Salib untuk merebut Yerusalem dan sekitarnya dari Islam. Perjanjian yang telah disepakati Sultan al-Kamil dan Frederick II di tahun 1229 harus ditaati.

2. Perang Salib merugikan keuangan negara karena tidak ada hasil apa pun berupa hasil alam atau emas yang dibawa ke Eropa selama mengikuti pertempuran.

Baca juga: Perang Salib V: Kisah Shalahuddin Mempertahankan Yerusalem dari Pasukan Salib dan Turki Seljuk

3. Kerajaan-kerajaan di Eropa tidak memiliki hubungan diplomatik yang kuat dan harmonis. Selain itu, Kerajaan Prancis terlalu dominan dalam mengatur jalannya pertempuran.

Di Siprus, pasukan Salib melewati musim dingin terlebih dahulu sebelum melakukan pertempuran. Di Siprus, pasukan Salib pimpinan Louis IX melakukan perundingan dengan pemimpin di Kristen di wilayah timur.

Hasilnya adalah pasukan Salib berlayar menuju arah selatan untuk kembali berperang dengan Dinasti Ayyubiyah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!