Makna Bersyukur Menurut Surat Ibrahim Ayat 7
Senin, 18 November 2024 - 20:04 WIB
Al Quran memerintahkan setiap muslim agar senantiasa bersyukur, salah satu surat yang masyhur yang menegaskan pentingnya bersyukur adalah Surat Ibrahim ayat 7. Foto ilustrasi/SINDOnews.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al Qur'an memerintahkan setiap muslim agar senantiasa bersyukur . Salah satu surat yang masyhur yang menegaskan pentingnya bersyukur adalah Surat Ibrahim ayat 7.
Allah Ta'ala berfirman :
“ dan ketika Tuhan kalian mengumumkan; Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti aku menambah (nikmat) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih”. (QS Ibrahim : 7).
Dalam kitab Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib karangan al-Bujairami, dijelaskan tentang QS Ibrahim ayat 7 tersebut adalah bahwa Sulaiman al-Bujairami menukil pendapat Qasim al-‘Abbadi, yang menyatakan bahwa ketika seorang hamba memanfaatkan semua anugerah Allah padanya dalam waktu bersamaan maka disebut Syakur (banyak bersyukur).
Dalam beberapa kitab rujukan tafsir tentang Surat Ibrahim ayat 7 itu diterangkan bersyukur adalah menampakkan pengaruh nikmat yang telah Allah berikan kepada seorang hamba dari hatinya dengan keimanan, dari lisannya dengan pujian dan dari anggota badannya dengan ibadah serta ketaatan. Sedangkan kufur nikmat merupakan lawan dari mensyukuri nikmat.
Oleh karena itu, wajib bagi muslim untuk perhatian terhadap perkara syukur ini karena merupakan perkara yang penting. Sehingga setiap muslim tidak menjadi golongan orang-orang yang kufur atas nikmat Allah dan dapat terhindar dari ancaman adzab yang pedih.
Ketika menerangkan pentingnya bersyukur dalam Surat Ibrahim ayat 7 tersebut, dalam buku Mawa’izh al-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang ditahqiq oleh Shalih Ahmad dan Syekh Tosum Bayrak, dijelaskan bahwa menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, dalam pandangan ahli hakikat, syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Sang Pemberi nikmat secara khusus.
Allah menyebut Diri-Nya sebagai “Yang Maha Mensyukuri” (Asy-Syakur) dalam arti yang meluas. Maksudnya, Dia akan membalas para hamba atas syukur mereka. Membalas syukur juga disebut sebagai syukur.
Ada pula ahli hakikat yang mengatakan bahawa hakikat syukur adalah memuji orang yang telah berbaik hati memberi (al-muhsin) dengan mengingat-ingat kebaikannya.
Allah Ta'ala berfirman :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“ dan ketika Tuhan kalian mengumumkan; Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti aku menambah (nikmat) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih”. (QS Ibrahim : 7).
Dalam kitab Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib karangan al-Bujairami, dijelaskan tentang QS Ibrahim ayat 7 tersebut adalah bahwa Sulaiman al-Bujairami menukil pendapat Qasim al-‘Abbadi, yang menyatakan bahwa ketika seorang hamba memanfaatkan semua anugerah Allah padanya dalam waktu bersamaan maka disebut Syakur (banyak bersyukur).
Dalam beberapa kitab rujukan tafsir tentang Surat Ibrahim ayat 7 itu diterangkan bersyukur adalah menampakkan pengaruh nikmat yang telah Allah berikan kepada seorang hamba dari hatinya dengan keimanan, dari lisannya dengan pujian dan dari anggota badannya dengan ibadah serta ketaatan. Sedangkan kufur nikmat merupakan lawan dari mensyukuri nikmat.
Oleh karena itu, wajib bagi muslim untuk perhatian terhadap perkara syukur ini karena merupakan perkara yang penting. Sehingga setiap muslim tidak menjadi golongan orang-orang yang kufur atas nikmat Allah dan dapat terhindar dari ancaman adzab yang pedih.
Ketika menerangkan pentingnya bersyukur dalam Surat Ibrahim ayat 7 tersebut, dalam buku Mawa’izh al-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang ditahqiq oleh Shalih Ahmad dan Syekh Tosum Bayrak, dijelaskan bahwa menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, dalam pandangan ahli hakikat, syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Sang Pemberi nikmat secara khusus.
Allah menyebut Diri-Nya sebagai “Yang Maha Mensyukuri” (Asy-Syakur) dalam arti yang meluas. Maksudnya, Dia akan membalas para hamba atas syukur mereka. Membalas syukur juga disebut sebagai syukur.
Ada pula ahli hakikat yang mengatakan bahawa hakikat syukur adalah memuji orang yang telah berbaik hati memberi (al-muhsin) dengan mengingat-ingat kebaikannya.
Lihat Juga :