10 Kultum Singkat tentang Bersyukur dari Berbagai Tema, Bisa Dijadikan Referensi
Selasa, 20 Mei 2025 - 10:15 WIB
loading...
Bersyukur dalam ajaran Islam bukan hanya sebatas ucapan Alhamdulillah, tetapi juga mencakup pengakuan dalam hati, pujian dengan lisan, dan penggunaan nikmat dalam hal yang diridhai oleh Allah SWT. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kultum singkat tentang bersyukur ini dapat dijadikan referensi bagi para pendakwah yang hendak mengisi acara keagamaan. Bisa juga dijadikan bahan bacaan dan renungan bagi setiap muslim.
Bersyukur dalam ajaran Islam bukan hanya sebatas ucapan “Alhamdulillah”, tetapi juga mencakup pengakuan dalam hati, pujian dengan lisan, dan penggunaan nikmat dalam hal yang diridhai oleh Allah.
Rasulullah SAW sendiri adalah suri teladan terbaik dalam hal syukur, bahkan dalam keadaan sulit sekalipun beliau tetap memuji dan bergantung kepada Allah. Syukur yang tulus dapat membuka pintu keberkahan, menenangkan jiwa, dan menjauhkan kita dari sifat tamak dan keluh kesah.
Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, karunia, serta petunjuk-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, pembawa cahaya ilahi yang mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang. Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya menyampaikan renungan singkat tentang pentingnya senantiasa bersyukur dalam kehidupan kita.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui dan menunjukkan nikmat Allah yang ada pada diri kita. Pengakuan ini diwujudkan melalui tiga aspek: pertama, dengan lisan melalui ungkapan rasa terima kasih dan pujian kepada-Nya; kedua, dengan hati melalui pengakuan dan kecintaan kepada Sang Pemberi Nikmat; ketiga, dengan perbuatan melalui ketaatan dan pengabdian kepada Allah SWT.
Sebagai hamba Allah, kita seringkali lupa bahwa setiap detik kehidupan kita adalah anugerah yang tak ternilai. Nikmat iman, kesehatan, dan kesempurnaan fisik yang kita miliki adalah karunia besar yang patut kita syukuri. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 78: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur."
Rasulullah SAW mengajarkan cara bijak mensyukuri nikmat melalui sabdanya: "Lihatlah orang yang berada di bawahmu dalam hal materi, dan jangan melihat orang yang berada di atasmu. Dengan begitu, kamu tidak akan meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu." (HR. Bukhari dan Muslim). Nasihat mulia ini mengajarkan kita untuk selalu berpikir positif dan menghargai setiap karunia yang kita terima.
Mengapa syukur begitu penting? Pertama, syukur menjadi perisai yang melindungi kita dari azab Allah. Kedua, dengan bersyukur kita akan meraih keridhaan-Nya. Ketiga, setiap rasa syukur yang kita ungkapkan bernilai ibadah dan mendatangkan pahala dari Allah SWT.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan sikap hidup yang harus terwujud dalam pikiran, perasaan, dan perbuatan. Dengan membiasakan diri bersyukur, insya Allah kita akan meraih ketenangan hati dan kebahagiaan sejati. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melimpahkan karunia-Nya tanpa batas. Seringkali, tanpa kita minta sekalipun, Allah dengan kasih sayang-Nya yang tak terhingga menganugerahkan berbagai nikmat kepada kita. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, dan para sahabatnya yang telah membimbing kita menuju cahaya Islam.
Saudara-saudaraku seiman, coba kita renungkan sejenak berbagai nikmat yang Allah berikan. Nikmat kesehatan, kemampuan makan dan minum, pancaindera yang sempurna, akal yang sehat, nikmat iman dan Islam – semua ini hanyalah sebagian kecil dari karunia Allah yang tak terbatas. Sungguh, mustahil bagi kita untuk menghitung seluruh nikmat yang telah kita terima.
Sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa kita takkan pernah mampu membalas semua nikmat Allah, bahkan seandainya kita mengumpulkan seluruh harta dan tenaga yang kita miliki. Sebuah nikmat kesehatan saja misalnya, takkan pernah bisa kita tebus dengan apapun. Namun sayangnya, seringkali kita baru menyadari betapa berharganya suatu nikmat ketika nikmat itu telah pergi dari kita.
Allah SWT berfirman dalam QS Ibrahim ayat 7: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Ayat ini menjadi pengingat bagi kita tentang pentingnya senantiasa bersyukur.
Rasulullah SAW menggambarkan keistimewaan seorang mukmin sejati dalam hadits riwayat Muslim: "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika tertimpa musibah, ia bersabar, dan itu pun baik baginya."
Syukur dalam Islam memiliki tiga tingkatan utama:
- Syukur dengan hati: Meyakini sepenuh hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT
- Syukur dengan lisan: Mengungkapkan pujian dan rasa terima kasih kepada Allah
- Syukur dengan perbuatan: Menggunakan nikmat Allah sesuai dengan ridha-Nya
Aisyah RA menceritakan bagaimana Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal itu padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab: "Tidakkah pantas aku menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim).
Marilah kita senantiasa menjadi hamba yang pandai bersyukur, menggunakan segala nikmat Allah untuk kebaikan diri dan sesama. Semoga kita terhindar dari sifat kufur nikmat dan termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan kepada kita begitu banyak nikmat. Mulai dari nikmat iman, Islam, hingga kesehatan, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat tanpa halangan apa pun. Semoga pertemuan ini mendapat keberkahan dan ridha dari-Nya.
Sering kali kita hanya menyadari nikmat yang terlihat secara kasat mata, seperti harta benda, rumah, kendaraan, dan lainnya. Padahal, ada begitu banyak nikmat yang tidak tampak tapi sangat penting. Misalnya, siapa yang bisa menanam rambut di kepala kita satu per satu lalu membuatnya tumbuh kembali setelah dipotong? Bahkan berubah warna di usia tertentu. Tidak ada salon di dunia ini yang mampu menandingi ciptaan Allah dalam hal tersebut.
Begitu pula dengan kemampuan melihat. Kita diberi sepasang mata, dan mata ini bukan hanya sekadar organ, tetapi mampu membedakan warna, bentuk, bahkan keindahan. Bukankah itu juga nikmat besar? Ada orang yang memiliki mata tapi tidak dapat melihat, atau bisa melihat tapi tidak mampu membedakan warna. Semua itu adalah bagian dari rezeki yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Kesehatan indera kita, seperti mata, pendengaran, dan lainnya, adalah nikmat luar biasa. Sering kali kita baru menyadarinya saat fungsi tersebut terganggu. Contohnya, ketika penglihatan kita mulai kabur karena katarak, kita rela menghabiskan uang untuk berobat. Bahkan jika ditawari uang miliaran rupiah untuk menukar mata kita yang sehat, tentu kita menolak. Artinya, rezeki berupa anggota tubuh yang berfungsi baik jauh lebih bernilai dari kekayaan dunia.
Demikian juga dengan telinga. Semua orang mungkin memiliki telinga, tetapi tidak semuanya berfungsi dengan baik. Banyak orang harus membeli alat bantu dengar dengan harga tinggi hanya agar bisa mendengar suara kembali. Ini menunjukkan bahwa nikmat pendengaran bukan hal sepele. Tapi justru karena kita terbiasa, kita sering lupa untuk mensyukurinya.
Yang menarik, kita cenderung mempermasalahkan hal-hal kecil seperti kekurangan sedikit dari gaji bulanan. Ketika gaji kita kurang seratus ribu rupiah, kita bisa merasa marah atau kecewa. Padahal, di saat yang sama kita sedang menikmati rezeki besar yang tidak kita sadari, seperti napas yang lancar, tubuh yang kuat, dan indera yang berfungsi sempurna.
Saat seseorang diberikan uang satu juta secara cuma-cuma, ia bisa menangis haru dan berterima kasih berkali-kali. Tapi, ia mungkin lupa bahwa ada nikmat jauh lebih besar yang ia terima setiap hari secara terus menerus tanpa ia minta. Di sinilah pentingnya menyadari bahwa rezeki Allah tidak hanya berupa materi.
Oleh karena itu, mari kita ubah cara pandang kita terhadap rezeki. Rezeki bukan hanya tentang uang dan benda. Tubuh yang sehat, kemampuan berpikir, tidur yang nyenyak, dan keluarga yang harmonis juga merupakan karunia luar biasa. Dan semua ini patut kita syukuri setiap saat.
Rasa syukur yang tulus tidak hanya diucapkan lewat lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata—seperti memperbanyak ibadah, menjauhi maksiat, dan memanfaatkan waktu dengan baik. Orang yang bersyukur akan selalu merasa cukup dan tenteram, karena ia sadar bahwa nikmat Allah terlalu banyak untuk dihitung.
Maka, mulai sekarang, mari kita perkuat rasa syukur dalam hati kita. Bangun tidur dengan ucapan “Alhamdulillah,” jalani hari dengan penuh kesadaran akan nikmat yang mengelilingi kita, dan tutup hari dengan muhasabah. Dengan begitu, kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, sebagaimana yang Allah cintai.
Semoga apa yang telah disampaikan ini membawa manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peka dan bersyukur terhadap segala nikmat dari Allah SWT, baik yang besar maupun yang terlihat kecil. Wallahu a’lam.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita masih diberi kesempatan untuk merasakan berbagai nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umat manusia dari zaman gelap menuju kehidupan penuh cahaya iman dan Islam.
Kata “syukur” berasal dari bahasa Arab, yaitu syakara–yasykuru–syukran–tasyakkara, yang berarti memuji atau berterima kasih. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), syukur diartikan sebagai rasa terima kasih kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan. Makna ini juga mencakup kesadaran dan pengakuan bahwa setiap karunia adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya.
Dengan kata lain, bersyukur merupakan bentuk pengakuan secara spiritual bahwa setiap hal baik yang kita terima, sekecil apa pun itu, bersumber dari kemurahan dan kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang benar-benar bersyukur akan menyadari bahwa tidak ada satu pun nikmat yang ia miliki yang berasal dari dirinya sendiri semata, melainkan dari kehendak Allah.
Bersyukur berarti menerima setiap ketentuan Allah dengan lapang dada dan penuh keikhlasan. Tak peduli besar atau kecil, nikmat itu tetap kita terima sebagai kebaikan dari Allah. Karena pada dasarnya, di balik setiap kejadian yang Allah tetapkan, selalu ada hikmah yang bisa kita ambil, meski kadang tersembunyi.
Sebagai contoh, seseorang yang kehilangan kesempatan karena tertinggal pesawat pasti merasa kecewa. Namun, jika ternyata pesawat tersebut mengalami kecelakaan, maka ia akan menyadari bahwa dirinya diselamatkan Allah dari musibah besar. Rasa syukur pun akhirnya muncul, meski sebelumnya diselimuti rasa kecewa. Seharusnya, keyakinan terhadap kebaikan takdir Allah sudah ada sejak awal.
Allah SWT memerintahkan kita untuk bersyukur, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 152: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” Ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah perintah yang jelas, dan pengingkaran terhadap nikmat merupakan larangan.
Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah juga berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Ayat ini menjelaskan bahwa ada dua sikap yang bisa diambil manusia terhadap nikmat: bersyukur atau kufur. Dan setiap manusia pasti berada di salah satunya.
Karena itu, penting bagi kita untuk memastikan bahwa diri kita termasuk golongan yang bersyukur, bukan yang mengingkari nikmat. Bersyukur tidak hanya akan memperbesar nikmat yang telah ada, tetapi juga membawa keberkahan dan ketenangan dalam hidup.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa rasa syukur terdiri atas tiga aspek utama. Pertama, syukur dengan hati, yakni dengan menyadari sepenuh hati bahwa setiap nikmat berasal dari Allah semata, bukan dari kekuatan kita sendiri.
Bersyukur dalam ajaran Islam bukan hanya sebatas ucapan “Alhamdulillah”, tetapi juga mencakup pengakuan dalam hati, pujian dengan lisan, dan penggunaan nikmat dalam hal yang diridhai oleh Allah.
Rasulullah SAW sendiri adalah suri teladan terbaik dalam hal syukur, bahkan dalam keadaan sulit sekalipun beliau tetap memuji dan bergantung kepada Allah. Syukur yang tulus dapat membuka pintu keberkahan, menenangkan jiwa, dan menjauhkan kita dari sifat tamak dan keluh kesah.
10 Kultum Singkat tentang Bersyukur
1. Hakikat Syukur
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, karunia, serta petunjuk-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, pembawa cahaya ilahi yang mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang. Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya menyampaikan renungan singkat tentang pentingnya senantiasa bersyukur dalam kehidupan kita.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui dan menunjukkan nikmat Allah yang ada pada diri kita. Pengakuan ini diwujudkan melalui tiga aspek: pertama, dengan lisan melalui ungkapan rasa terima kasih dan pujian kepada-Nya; kedua, dengan hati melalui pengakuan dan kecintaan kepada Sang Pemberi Nikmat; ketiga, dengan perbuatan melalui ketaatan dan pengabdian kepada Allah SWT.
Sebagai hamba Allah, kita seringkali lupa bahwa setiap detik kehidupan kita adalah anugerah yang tak ternilai. Nikmat iman, kesehatan, dan kesempurnaan fisik yang kita miliki adalah karunia besar yang patut kita syukuri. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 78: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur."
Rasulullah SAW mengajarkan cara bijak mensyukuri nikmat melalui sabdanya: "Lihatlah orang yang berada di bawahmu dalam hal materi, dan jangan melihat orang yang berada di atasmu. Dengan begitu, kamu tidak akan meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu." (HR. Bukhari dan Muslim). Nasihat mulia ini mengajarkan kita untuk selalu berpikir positif dan menghargai setiap karunia yang kita terima.
Mengapa syukur begitu penting? Pertama, syukur menjadi perisai yang melindungi kita dari azab Allah. Kedua, dengan bersyukur kita akan meraih keridhaan-Nya. Ketiga, setiap rasa syukur yang kita ungkapkan bernilai ibadah dan mendatangkan pahala dari Allah SWT.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan sikap hidup yang harus terwujud dalam pikiran, perasaan, dan perbuatan. Dengan membiasakan diri bersyukur, insya Allah kita akan meraih ketenangan hati dan kebahagiaan sejati. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
2. Muslim yang Selalu Bersyukur
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melimpahkan karunia-Nya tanpa batas. Seringkali, tanpa kita minta sekalipun, Allah dengan kasih sayang-Nya yang tak terhingga menganugerahkan berbagai nikmat kepada kita. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, dan para sahabatnya yang telah membimbing kita menuju cahaya Islam.
Saudara-saudaraku seiman, coba kita renungkan sejenak berbagai nikmat yang Allah berikan. Nikmat kesehatan, kemampuan makan dan minum, pancaindera yang sempurna, akal yang sehat, nikmat iman dan Islam – semua ini hanyalah sebagian kecil dari karunia Allah yang tak terbatas. Sungguh, mustahil bagi kita untuk menghitung seluruh nikmat yang telah kita terima.
Sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa kita takkan pernah mampu membalas semua nikmat Allah, bahkan seandainya kita mengumpulkan seluruh harta dan tenaga yang kita miliki. Sebuah nikmat kesehatan saja misalnya, takkan pernah bisa kita tebus dengan apapun. Namun sayangnya, seringkali kita baru menyadari betapa berharganya suatu nikmat ketika nikmat itu telah pergi dari kita.
Allah SWT berfirman dalam QS Ibrahim ayat 7: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Ayat ini menjadi pengingat bagi kita tentang pentingnya senantiasa bersyukur.
Rasulullah SAW menggambarkan keistimewaan seorang mukmin sejati dalam hadits riwayat Muslim: "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika tertimpa musibah, ia bersabar, dan itu pun baik baginya."
Syukur dalam Islam memiliki tiga tingkatan utama:
- Syukur dengan hati: Meyakini sepenuh hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT
- Syukur dengan lisan: Mengungkapkan pujian dan rasa terima kasih kepada Allah
- Syukur dengan perbuatan: Menggunakan nikmat Allah sesuai dengan ridha-Nya
Aisyah RA menceritakan bagaimana Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal itu padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab: "Tidakkah pantas aku menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim).
Marilah kita senantiasa menjadi hamba yang pandai bersyukur, menggunakan segala nikmat Allah untuk kebaikan diri dan sesama. Semoga kita terhindar dari sifat kufur nikmat dan termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
3. Memperkuat Rasa Syukur
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan kepada kita begitu banyak nikmat. Mulai dari nikmat iman, Islam, hingga kesehatan, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat tanpa halangan apa pun. Semoga pertemuan ini mendapat keberkahan dan ridha dari-Nya.
Sering kali kita hanya menyadari nikmat yang terlihat secara kasat mata, seperti harta benda, rumah, kendaraan, dan lainnya. Padahal, ada begitu banyak nikmat yang tidak tampak tapi sangat penting. Misalnya, siapa yang bisa menanam rambut di kepala kita satu per satu lalu membuatnya tumbuh kembali setelah dipotong? Bahkan berubah warna di usia tertentu. Tidak ada salon di dunia ini yang mampu menandingi ciptaan Allah dalam hal tersebut.
Begitu pula dengan kemampuan melihat. Kita diberi sepasang mata, dan mata ini bukan hanya sekadar organ, tetapi mampu membedakan warna, bentuk, bahkan keindahan. Bukankah itu juga nikmat besar? Ada orang yang memiliki mata tapi tidak dapat melihat, atau bisa melihat tapi tidak mampu membedakan warna. Semua itu adalah bagian dari rezeki yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Kesehatan indera kita, seperti mata, pendengaran, dan lainnya, adalah nikmat luar biasa. Sering kali kita baru menyadarinya saat fungsi tersebut terganggu. Contohnya, ketika penglihatan kita mulai kabur karena katarak, kita rela menghabiskan uang untuk berobat. Bahkan jika ditawari uang miliaran rupiah untuk menukar mata kita yang sehat, tentu kita menolak. Artinya, rezeki berupa anggota tubuh yang berfungsi baik jauh lebih bernilai dari kekayaan dunia.
Demikian juga dengan telinga. Semua orang mungkin memiliki telinga, tetapi tidak semuanya berfungsi dengan baik. Banyak orang harus membeli alat bantu dengar dengan harga tinggi hanya agar bisa mendengar suara kembali. Ini menunjukkan bahwa nikmat pendengaran bukan hal sepele. Tapi justru karena kita terbiasa, kita sering lupa untuk mensyukurinya.
Yang menarik, kita cenderung mempermasalahkan hal-hal kecil seperti kekurangan sedikit dari gaji bulanan. Ketika gaji kita kurang seratus ribu rupiah, kita bisa merasa marah atau kecewa. Padahal, di saat yang sama kita sedang menikmati rezeki besar yang tidak kita sadari, seperti napas yang lancar, tubuh yang kuat, dan indera yang berfungsi sempurna.
Saat seseorang diberikan uang satu juta secara cuma-cuma, ia bisa menangis haru dan berterima kasih berkali-kali. Tapi, ia mungkin lupa bahwa ada nikmat jauh lebih besar yang ia terima setiap hari secara terus menerus tanpa ia minta. Di sinilah pentingnya menyadari bahwa rezeki Allah tidak hanya berupa materi.
Oleh karena itu, mari kita ubah cara pandang kita terhadap rezeki. Rezeki bukan hanya tentang uang dan benda. Tubuh yang sehat, kemampuan berpikir, tidur yang nyenyak, dan keluarga yang harmonis juga merupakan karunia luar biasa. Dan semua ini patut kita syukuri setiap saat.
Rasa syukur yang tulus tidak hanya diucapkan lewat lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata—seperti memperbanyak ibadah, menjauhi maksiat, dan memanfaatkan waktu dengan baik. Orang yang bersyukur akan selalu merasa cukup dan tenteram, karena ia sadar bahwa nikmat Allah terlalu banyak untuk dihitung.
Maka, mulai sekarang, mari kita perkuat rasa syukur dalam hati kita. Bangun tidur dengan ucapan “Alhamdulillah,” jalani hari dengan penuh kesadaran akan nikmat yang mengelilingi kita, dan tutup hari dengan muhasabah. Dengan begitu, kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, sebagaimana yang Allah cintai.
Semoga apa yang telah disampaikan ini membawa manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peka dan bersyukur terhadap segala nikmat dari Allah SWT, baik yang besar maupun yang terlihat kecil. Wallahu a’lam.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
4. Arti dan Makna Bersyukur
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita masih diberi kesempatan untuk merasakan berbagai nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umat manusia dari zaman gelap menuju kehidupan penuh cahaya iman dan Islam.
Kata “syukur” berasal dari bahasa Arab, yaitu syakara–yasykuru–syukran–tasyakkara, yang berarti memuji atau berterima kasih. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), syukur diartikan sebagai rasa terima kasih kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan. Makna ini juga mencakup kesadaran dan pengakuan bahwa setiap karunia adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya.
Dengan kata lain, bersyukur merupakan bentuk pengakuan secara spiritual bahwa setiap hal baik yang kita terima, sekecil apa pun itu, bersumber dari kemurahan dan kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang benar-benar bersyukur akan menyadari bahwa tidak ada satu pun nikmat yang ia miliki yang berasal dari dirinya sendiri semata, melainkan dari kehendak Allah.
Bersyukur berarti menerima setiap ketentuan Allah dengan lapang dada dan penuh keikhlasan. Tak peduli besar atau kecil, nikmat itu tetap kita terima sebagai kebaikan dari Allah. Karena pada dasarnya, di balik setiap kejadian yang Allah tetapkan, selalu ada hikmah yang bisa kita ambil, meski kadang tersembunyi.
Sebagai contoh, seseorang yang kehilangan kesempatan karena tertinggal pesawat pasti merasa kecewa. Namun, jika ternyata pesawat tersebut mengalami kecelakaan, maka ia akan menyadari bahwa dirinya diselamatkan Allah dari musibah besar. Rasa syukur pun akhirnya muncul, meski sebelumnya diselimuti rasa kecewa. Seharusnya, keyakinan terhadap kebaikan takdir Allah sudah ada sejak awal.
Allah SWT memerintahkan kita untuk bersyukur, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 152: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” Ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah perintah yang jelas, dan pengingkaran terhadap nikmat merupakan larangan.
Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah juga berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Ayat ini menjelaskan bahwa ada dua sikap yang bisa diambil manusia terhadap nikmat: bersyukur atau kufur. Dan setiap manusia pasti berada di salah satunya.
Karena itu, penting bagi kita untuk memastikan bahwa diri kita termasuk golongan yang bersyukur, bukan yang mengingkari nikmat. Bersyukur tidak hanya akan memperbesar nikmat yang telah ada, tetapi juga membawa keberkahan dan ketenangan dalam hidup.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa rasa syukur terdiri atas tiga aspek utama. Pertama, syukur dengan hati, yakni dengan menyadari sepenuh hati bahwa setiap nikmat berasal dari Allah semata, bukan dari kekuatan kita sendiri.
Lihat Juga :